Oleh Afriyadi Sutan Bagindo
Entah mengapa pagi ini terasa enggan beranjak pergi dan dingin yang masih menusuk, menahan buliran embun yang mau jatuh di daun keladi samping rumahku. Juga hamparan sinar mentari pagi telah meninggi masuk menyeruak di antara celah ventilasi kamar tidurku. Di sana aktifitas kehidupan telah bergerak menemukan titik temunya. Begitu juga adik perempuanku Naila, yang masih duduk di kelas satu SD, juga mau berangkat bersama kakaknya, Bintang, ke sekolah. Walaupun begitu tetap saja pagi ini terasa hampa tanpa warna. Baca entri selengkapnya »