Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Obituari Kenangan Inspirator SARAN, Guruku Kakanda Hasan Yosep

Posted by majalahsaran pada April 6, 2009

Oleh M Aktifanus Jawahir

Rabu sore tanggal 25 Februari lalu, saya dapat kiriman sms dari adik bungsu Alvin Jawahir, yang mengabarkan Hasan Yosep meninggal dunia, penyebabnya jatuh di sumur dan sempat dirawat di rumah sakit. Agak mengejutkan memang, ini adalah berita dukacita, yang memberikan banyak arti dan makna tentang masa lalu kini dan masa depan, namun yang pasti kematian itu pasti datang, bila, dimana dan umur berapa kita disaat kematian itu datang, hanya Allah saja yang tahu.

Karena konsep ajal, rezki, jodoh dan apa akan terjadi hari esok itu semua
nya adalah rahasia dan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Bagi orang yang tidak ba
nyak mengenal beliau, Kakanda Hasan Yosep adalah biasa-biasa saja, tetapi ba
gi saya beliau ikut memberikan corak dan ide kepada beberapa individu yang se
angkatan dengan saya. Perkenalan saya dengan beliau tidak lain adalah dimasa
menjadi aktivis Mushalla Muhammadiyah, yang otomatis terjadi seperti itu kare
na saya adalah pelajar Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Balai Lalang Sa
ningbakar, sekaligus aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan kemudian
nya Pemuda Muhammadiyah.

Uda Hasan adalah sekretaris dua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Saning
Bakar, semasa almarhum Abuya Imam Jawahir Datuk Bandaro Aceh, periode 1972-1975 menjadi ketua, wakil ketua satunya adalah Kakanda Abdul Kadir Datuk Rang kayo Marajo dan wakil ketua dua Bapak Bahar Pakih Basa, sekretaris satu Uda Busri Hasan Manti Sutan Sati. Pada masa yang sama Uda Hasan juga Sekretaris Satu
IPM Saningbakar, dimana ketua umumnya adalah almarhum Uda Harman Bahar.

Disinilah kami sering bertemu dan sebagai ”anggota persatuan lelaki bujang
alias belum kawin” kami sering tidur di Mushalla Muhammadiyah, jumlahnya agak banyak juga, bukan hanya Uda Hasan tetapi ada juga Uda Syukri Samaruddin, Syafri Bayman, yang berusia dibawahnya termasuklah Mukhril Manan, Ifwandi Syafe’i, Alfi Kamil ada beberapa nama lagi, waktu itu kami juga aktif dalam IPPSB, dalam kumpulan ini adalah mantan walinagari Tarmizi M Nur, almarhum Lasri Saroha. Memang dalam pergaulan harian konflik-ketegangan tidak boleh dielakkan, karena yang namanya manusia ada ego dan mudah naik darah, termasuk almarhum Uda Hasan, akhirnya tetap saja kemesraan dan persaudaraan lebih mewarnai kehidupan harian kami.

Tetapi beberapa kelebihan beliau adalah; mengajarkan mereka yang berminat bagaimana menjadi juru tulis kemudian menjadi sekretaris dan kemudian itu juga jadi penulis, dalam tiga bidang inilah saya dengan ikhlas dan jujur mengatakan Uda Hasan banyak mengajar saya dan beliau memang adalah guru saya dalam tiga bidang ini. Disinilah saya mengikut beliau bekerja beberapa kali semasa beliau menjadi sekretaris nagari dimasa almarhum Mamanda Abdul Latif Djalal, menjadi wali nagari, walaupun tidak digaji tetapi saya mendapatkan pengalaman dan ilmu yang tidak diperolehi di sekolah. Kelebihan beliau inilah sebetulnya almarhum Uda Zainal Djamil pernah berkeinginan untuk mengajak Uda Hasan bekerja di CV Beringin Jakarta, walaupun tidak jadi.

Akhirnya di Muhammadiyah, dari tahun 1974-1977 saya begitu aktif sekali terutama sebagai panitia ibadah bulan Ramadhan, saya menjadi sekretaris satu Uda Hasan menjadi sekretaris dua, disini nampak sekali kedewasaan dan kepemimpinan beliau, tidak pernah mempersoalkan kedudukan dimana beliau bersedia menjadi wakil saya, padahal beliau adalah guru, senior dan orang yang lebih berpengalaman dari saya, puncak atau klimaks dari kreativitas kami adalah menerbitkan buletin Gema Ramadhan, walaupun tidak didukung oleh sebagian pimpinan ranting Muhammadiyah dan beberapa orangtua di nagari waktu itu.

Namun dengan tekad dan keyakinan, kami terbitkan Gema Ramadhan setiap minggu dan Alhamdulillah ternyata ada beberapa orangtua yang mendukung termasuklah Buya Suid Sutan Mudo, Bapak Kibin Sutan Marajo, Bapak Taher Saleh
(waktu itu di Medan), Bapak Umar Ali Mangkuto Sati yang semuanya sudah almarhum. Komitmen dan tekad kami dengan Uda Hasan, dibantu oleh beberapa orang seangkatan dengan saya Gema Ramadhan adalah embryo dari media Saningbakar selanjutnya. Ramadhan usai kami ubah namanya menjadi Gema Desa, dan akhir Desember 1977 saya harus berangkat ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah, tinggallah Uda Hasan sendirian meneruskan kehidupan Gema Desa.

Ternyata dengan berbagai kesibukkan dan keterbatasan, dan juga menyangkut masalah dana dan ekonomi Uda Hasan menyerah dia mengirim surat kepada saya, agar Gema Desa penerbitan seterusnya dibuat di Jakarta, apapun namanya tidak jadi masalah. Di Jakarta, kami bersama Usman Yatim, Ifwandi, Hardizal Bahar, Suryadi Putra, yang dikenal sebagai ”group gang Bluntas Salemba” membentuk IWS dan kemudian IPPSB, saya wakil ketua umum IWS merangkap ketua umum IPPSB yang pertama, inilah kemudiannya menjadi kekuatan untuk menerbitkan Bulletin Saran (Suara Anak Rantau), di Palembang tahun 60-an suda ada bulletin Suar (Suara Anak Rantau)

Dengan berbagai kesusahan dan penderitaan dalam hidup di Jakarta, mengayuh sampan pengangguran, dengan berbagai kekurangan kelemahan, kami menerbitkan Saran, bahkan sekali saya pernah ke Yogya dan Surabaya, mencari sumbangan untuk Saran, dukungan dari saudara saya Uda Salmi Djalal dan almarhum Uda Rosman Marin, sampai hari ini saya cukup terharu, atas bantuan dan perihatinan beliau. Walaupun akhirnya saya harus mundur dari IWS,IPPSB dan Saran, pimpinan IWS-IPPSB silih berganti, disinilah Saran, adakalanya terbit dan tidak jarang juga Saran beristirahat panjang, makanya maaf sebelum itu hanya sekedar paangekkan dan dorongan semangat waktu ke Jakarta, Desember 08 lalu.

Saya hantar sms kepada Ery Yongker, Yunasril Angah, Ikhlas, Hardizal, Usman, kalau tidak salah kalimatnya adalah ”dulu waktu kami pengangguran, miskin dan belum ada yang sarjana, tetapi mampu menerbitkan Saran, kenapa kini IWS dipim pin oleh orang-orang kaya dan banyak sarjananya, kenapa hanya sebuah Saran tidak boleh diteruskan penerbitannya” Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya mendapat emel dari Usman dan juga kala beliau berlibur ke Malaysia 27 Februari-3 Maret lalu, beliau memberitahukan Saran akan terbit kembali, syukur Alhamdulillah.

Berkali-kali saya beritahu Usman, mengelola Saran tidak ada istilahnya mundur atau regenerasi, selagi mampu, teruskan, disini secara perlahan dan sabar, kita mencoba mendelegasikan sebagian pengelolaan ini kepada generasi yang lebih muda. Makanya bagi saya IWS boleh saja aktif atau mati, tetapi saya tidak rela Saran juga harus mati, dan ingatlah kesungguhan dan keseriusan idealisme yang telah dirintis oleh almarhum Uda Hasan Yosep. Setiap balik kampung saya tetap menyempatkan diri bertemu dengan beliau, saya berilah buku-buku yang beliau minati, dan nampaknya dalam menilai nagari ataupun negara dan bangsa, beliau lebih matang dan cukup arif.

Banyak persamaan pandangan dan pemikiran kami, termasuklah dalam konteks menyuburkan terus kebangkitan Islam, kita tetap berpegang kepada pendidikan ruhiyah, kekuatan akidah dan akhlaq disamping meningkatkan terus kecintaan kepada buku dan ilmu dalam hal ini ukhuwah dan jamaah perlu dimantapkan, itulah hebatnya Uda Hasan. Ternyata aktivis yang ikut melawan PKI di Solok tahun 1966 ini, pernah juga bekerja dengan almarhum Mamanda HS Datuk Rajo Alam. Dalam usia sekitar belum 60-an tahun, beliau meninggalkan kita buat selamanya, kepada keluarga diberikan ketabahan dan kekuatan iman, bagi generasi baru contohilah kehebatan dan kelebihan almarhum.

Innalillahi wainna ilaihi raji’un

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: