Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

KETIKA TANGAYA JADI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH..

Posted by majalahsaran pada Agustus 29, 2009

Bulek Nagari Saniangbaka
Batang Aia manangah koto
Dilingkae dek labuah sakaliliang

Kasua abiah banta tajua
Anak diaja  lembang mato
Dek ulah  ayah jok mande

Dalam bait pertama pantun   diatas menunjukkan gambaran (deskripsi)  Geografis nagari Saniangbaka nan  elok dan indah karena dilintasi oleh batang aia, baca Tangaya sebutan yang  pas bagi lidah rang  Saniangbaka. Aliran Tangaya memiliki  panjang lebih kurang 9 Km dengan daerah hulu Rimbo Tarusan, Aia Bareh dan daerah muaranya  Pasia Udang, melintasi dan membelah wilayah nagari menjadi dua bagian menambah rancak dan khasnya nagari Saniangbaka apabila dibandingkan dengan nagari lainya.

Adanya aliran Tangaya sangat bermanfaat  besar bagi warga Saniangbaka, karena secara tidak lansung telah memberi kehidupan  khususnya dibidang pertanian, karena debit aia Tangaya  dimanfaatkan untuk sarana irigasi, mengairi hampir seluruh lahan sawah  seluas 457 Ha bahkan  sawah nagari tetangga.(Kasik Koto Sani) sehingga walaupun musim kemarau datang, warga  Saniangbaka tidak begitu panik karena tangaya masih bisa mencukupi kebutuhan  aia bagi lahan sawah.

Terjadinya perubahan kondisi  Tangaya dalam berbagai hal   memang merupakan suatu yang alamiah karena tidak ada didunia ini yang tidak berubah atau tetap kecuali perubahan itu sendiri. hanya  saja perubahan yang terjadi dengan Tangaya  bersifat kemunduran {Regres ). Sekitar tahun 80-an masih dirasakan suasana nan alami, aliran Tangaya sangat menggoda anak-anak  untuk sekedar  bermandi  ria, bagi orang dewasa untuk manangkap ikan bilih degan cara malukah, akan tetapi sekarang ini bila ditelusuri Tangaya yang melewati  pemukiman  warga sampai ke bagian muaranya di Pasia Udang terlihat pemandangan  yang kurang sedap,  prilaku tidak ramah dan bersahabat dengan lingkungan khususnya Tangaya ditunjukkan warga di pinggir Tangaya bahkan  masyarakat yang jarak rumahnya   beberapa ratus meter dari Tangaya. menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah, limbah keluarga,. kata-kata yang pas untuk kondisi   Tangaya  sekarang ini  adalah Gersang, kumuh dan samak  Gersang karena yang sering terlihat kebanyakan  adalah batu-batu dengan Debit air bak aia banda, kumuh karena sampah atau sarok basirampangan dimana-mana, samak karena bagian pinggir penuh dengan semak belukar manambah suasana terkesan tak terurus.

Adanya pembangunan batu barajuik pada  tapian Tangaya di lapau Kincia, jalan runtuh dan muaro Pasia Udang yang dianggarkan dari dana  APBD pemerintah Kab. Solok  adalah bentuk Program kelestarian lingkungan pemukiman, dalam hal ini perlu adanya partisipasi dan kepudulian warga masyarakat untuk turut merawatnya.  seperti dengan tidak melakukan pembakaran sampah diatas batu barajuik karena hal tersebut dapat  membuat batu barajuik cepat lapuk dan ambruk. apabila pada musim penghujan  datang aia gadang  sewaktu waktu bisa  membahayakan rumah – rumah yang ada disepanjang Tangaya. ditambah adaya penyempitan aliran Tangaya oleh sampah dan lapuknya  batu barajuik penyangga tebing .

Penyebab  lain tercemarnya Tangaya pernah dikemukakan oleh  Tarmizi Mangkuto Sutan (mantan wali nagari) adanya kebiasaan masyarakat mendirikan  rumah membelakangi Tangaya, mendorong  berprilaku  mengambil jalan pintas lansung membuang sampah dan limbah rumah tangganya ke Tangaya. Sikap mental masyarakat masa bodoh, berpikir pendek akan  apa dampaknya terhadap kelestarian, keindahan dan kebersihan lingkungan

Semrawutnya kondisi Tangaya juga terlihat jelas pada kawasan Balai lalang yang merupakan panggung depan nagari Saniangbaka, orang lain yang melewati sepintas  bisa saja membuat suatu kesimpulan tentang sejauhmana kecintaan warga Saniangbaka  terhadap nagarinya dengan mendasarkan pada sikap dan kepedulian warga  terhadap lingkungan nagarinya..

Pada era otonomi sekarang ini persolan Tangaya  tersebut diharapkan bisa diatasi secara Internal. artinya merupakan  tanggung jawab  masyarakat Saniangbaka  bersama Pemerintahan nagari Saniangbaka, hal pokok yang mesti   dirubah adalah  paradigma masyarakat  bahwa Tangaya adalah bagian dari lingkungan yang harus dilestarikan  bukan tempat pembuangan sampah.. Inti masalahnya bukan faktor ekonomi  akan tetapi tidak lebih karena  faktor mentalitas masyarakat masih mengedepanya  budaya tagalincia batu alia. Prilaku warga nan kalamak  dek awak sajo, suka mengambil jalan pintas, masyarakat yang kurang peduli dengan lingkungan tidak hanya merupakan penyakit masyarakat  di Saniangbaka  akan tetapi merupaka penyakit masyarakat umum Indonesia  seperti yang di ungkapkan oleh  Sosiolog Kountjaranigrat  bahwa mentalitas tidak disiplin, mau menang sendiri, tidak bertanggung jawab  adalah mentalitas masyarakat Indonesia  yang menghambat pembangunan ) .

Melalui tulisan ini penulis mengusulkan :

Pertama :Sudah saatnya pemerintahan nagari Saniangbaka ,BMN, Majelis Tinggo Tungku Sajarangan  (MTTS)  lebih reaktif melalui konsep penataan atau  program yang kongkrit dan tindak lanjut yang tegas untuk kelestarian Tangaya, tidak cukup hanya berupa himbauan –himbauan saja yang selama ini dilakukan. konkritnya  seperti  menentukan dimana lokasi tempat pembuang sampah yang layak dan resmi, bagaimana tehnik pengelolaannya yang baik. Tangaya merupakan sebagian  dari masalah nagari yang perlu juga mendapat diperhatian dan Tangaya juga merupakan potensi yang bisa dikelola dengan  kreatif untuk menuju lomba Nagari Rancak yang diperlombakan  secara berkala oleh pemerintahan mulai  dari Tingkat Kecamatan, Kabupaten hingga tingkat Propinsi Sumatera Barat.  Seperti dengan pencanangan Penghijauan, pembuatan taman bunga yang di kapling dengan memberikan tanggung jawab  pengelolaan pada elemen –elemen yang ada seperti lembaga pendidikan, IPPSB,PKK, ,Bundo Kanduang, Jorong ,Pengusaha dll.

.Kedua : Warga Saniangbaka   perlu ditanamkan rasa peduli dan memiliki Tangaya dalam artian yang positif sehingga secara sukarela tidak membuang sampah ke Tangaya mau bergotong royong dalam menjaga kelestariannya,

Ketiga Dalam  kegiatan Pulang Basamo (PUBAS) Tahun 2010 yang akan datang diharapkan adanya agenda kegiatan peduli lingkungan  sehingga kegiatan pulang basamo menghasilkan sesuatu karya yang bisa dipersembahkan dikenang warga  masyarakat Saniangbaka.

Tangaya adalah suatu anugrah Allah SWT yang Istimewa dan patut disyukuri dan dijaga kelestariannya oleh warga Saniangbaka. bila tidak demikian  sebagai manusia bearti telah meninggalkankan fitrah kita sebagai khalifah dimuka bumi yang  mempunyai kewajiban  rahmatallilalamin. Dalam masalah pemeliharan  dan  pelestarian lingkungan, Allah swt ,berfirman ,”Dan janganlah  kamu membuat  kerusakan  di muka bumi setelah  (Allah) memperbaikinya,”(QS.Al A’raf 7: 56). Adanya upaya menjaga kelestarian Tangaya merupakan suatu Ibadah  untuk mendekatkan diri pada-Nya, semoga Tangaya tetap menjadi kebanggaan  rang  Saniangbaka.
(By: Nusa Jaya S.Ag S.Pd)

2 Tanggapan to “KETIKA TANGAYA JADI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH..”

  1. Memang kondisi tangaya saat ini sudah sangat memprihatinkan, debit airnya sudah jauh berkurang. selain usulan penulis diatas, perlu juga kita lakukan penyelidikan/meninjau kondisi hulu tangaya, jangan2 sudah ada illegal loging.
    selain itu program penghijauan patut dicanangkan, terutama untuk daerah hulu. tentunya dengan target jangka panjang, yaitu dengan menanam tanaman, yang mempunyai daya serap air yang tinggi. Kapan perlu daerah hutan saniangbaka dijadikan daerah hutan lindung.

  2. mrzl said

    Admin, saya ijin salin yah artikelny….
    Kunjungan balik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: