Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Dr Zul Abrar: “Kalau Bisa, Saya Lebih Ingin Hidup di Saniangbaka”

Posted by majalahsaran pada Agustus 30, 2009

Seorang pakar kesehatan, Dr Zul Abrar, putra dari guru kita Bapak Bahar Pakih Basa,  adik kandung dari Ir Ikhlas Bahar,  bicara tentang kelebihan  Nagari Saniangbaka. Kata beliau,  sebenarnya potensi yang dikandung oleh Nagari kita Saniangbaka itu sungguh luar biasa, keindahan dan pesona alamnya begitu menggoda. “ Kalau bisa saya lebih ingin hidup di Saniangbaka”, katanya. Ini disampaikan pada waktu menerima kunjungan kami bersama Soni, bos Toko Plastik cilengsi, di Rumah Sakit Mary pada  15 juli yang lalu. Beliau sendiri adalah Direktur di Rumah Sakit tersebut.

“Masih banyak potensi Nagari yang belum tergarap” ucap Pak Dokter ini melanjutkan. Potensi yang dimaksud adalah tentang kekayaan alam dan keindahannya.   Beliau juga bicara tentang makanan utama  kita, yaitu Rinuk. Dia menyarankan hendaknya kita mempertahankan kebiasaan makan Rinuk , karena Rinuk itu mengandung zat protein tinggi yang sangat berguna untuk perkembangan otak.

Rinuk adalah sejenis ikan air tawar yang hidup di ujung  batang air Sumani yang bermuara di Danau Singkarak. Bentuknya begitu kecil dan merupakan tetangga dekat dari ikan Bilih. Ikan ini sudah lama dikonsumsi oleh urang awak.

“Barangkali Rinuk itulah salah satu rahasia makanya banyak urang awak pada pintar-pintar dan cerdik,” ungkap Pak Dokter yang meraih gelar S1 nya di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret- Solo, lalu melanjutkan study ke Pasca Sarjana Universitas Respati Indonesia jurusan Administrasi Rumah Sakit.

Pak Dokter kita ini pun tidak lupa menyampaikan kritik dan masukan. Kata beliau bahwa  banyak urang awak yang pintar- pintar, namun sering kurang tegas dalam banyak hal, sehingga banyak gagasan yang sudah bagus namun mentah sebelum tuntas terlaksana. “ Kita butuh keteladanan dan harus ada yang berani mengambil resiko , berani mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah”, tambahnya.

Diapun menyebut salah satu kelemahan urang awak adalah kurang disiplin, “Kalaulah bukan karena kedisiplinan tentu orang tidak akan mau memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin Rumah Sakit ini”, jelasnya.

Dr Zul pun sedikit membuka rahasia pribadi tentang waktu cari jodoh sebelum dapat istri yang begitu ia cintai sekarang ini. Katanya, dulu sebenarnya  ia ingin sekali punya istri urang awak, namun entah kenapa yang diinginkan itu tidak tampak atau tidak terlihat (mungkin tasuruk), maka jadilah pilihannya jatuh pada yang terlihat pada waktu itu, yaitu  gadis  Betawi yang telah memberinya dua orang putra. Diapun mengusulkan agar ada sebuah  komunitas perkumpulan bagi putra-putri Saniangbaka sebagai wadah bertukar fikiran, menuangkan serta menyatukan ide mereka masing-masing.

Banyak hal disampaikan dalam pertemuan di teras samping kantin Rumah Sakit yang ia pimpin tersebut, namun keasyikan obrolanpun harus kami hentikan karena asisten beliau  memberi tahu bahwa ada pasien yang sedang menunggu, kami pun maklum dan mohon diri meninggalkan tempat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: