Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Pergeseran Ekonomi Urang Saniangbaka

Posted by majalahsaran pada Agustus 30, 2009

Oleh Jufri Gindo Sutan

Dalam dekade sebelum tahun 70-an,  ekonomi Saniangbaka sangat bergantung kepada hasil pertaniaan, terutama hasil pertanian selain padi. Sawah belum terbiasa  dinanami selain padi, lagi pula hasil dari saawah hanya digunakan untuk kebuhan makan keluarga, karena padi masih asing untuk d perjualbelikan.

Cara kelola sawah yang tradisional dan terkesan santai menjadikan setiap masyarakat Saniangbaka harus menguras tenaga pada sektor pertaniaan yang lain. Merantau belum menjadi pilihan bagi anak Saniangbaka kala itu. Pilihan lain yang tersedia adalah Bukik dan ladang, karena dari hasil inilah mereka bisa membangun rumah, memenuhi kebuthan sekolah dan lain sebagainya.

Masa itu adalah masa- masa keemasan bagi petani, khususnya petani Saniangbaka. Hasil dari pertanian d hargai dengan nilai yang cukup pantas, ditambah lagi  dengan  hasil dari komoditi pertanian yang cukup memuaskan baik berupa tanaman tua ataupun tanaman muda.

Dangau adalah tempat istirahat permanen yang senantiasa dibangun di ladang ladang petani menjadi ciri tersendiri bagai komunitas Saniangbaka. Mereka lebih banyak bermalam di dangau itu ketimbang mendiami rumah yang ada di kampung. Hal ini juga disebabkan oleh belum tersedianya sarana transportasi yang memadai. Kebiasaan itu juga dijalani oleh tokoh masyarakat kala itu seperti Pengulu adat, sebut saja Datuk Tuah yang punya dangau dan usaha di Gaduang Kapua, Datuk Gadang  di Kuok, Datuk Rangkayo Marajo di Batu Karuik, Datuk Singolabiah di Jambak, Datuk Jo johan di Batu Kambiang dan  beberapa tokoh masyarakat lainnya.

Mereka mendiami kampung secara utuh hanya dua hari dalam seminggu yaitu Hari Juma’at guna melaksanakan ibadah Shalat Juma’at di Masjid dan dan hari Minggu guna menjual hasil pertanian serta membeli kebutuhan dapur. Selain hari- hari itu mereka lebih banyak bertransaksi di Jambak dan Aialasi. Di kedua balai itu juga telah ada kebutuhan sampingan sebagai penunjang dan surau sebagai sarana ibadah. Bahkan kedua surau itu juga aktif dalam melaksanakan shalat Tarwih berjamaah di bulan Ramadhan. Tidak berbeda dari surau –surau yang ada dalam nagari, kegiatan kedua surau itu juga di isi oleh tokoh-toko bersahaja yang sebaghagian besar mereka juga melakoni pertanian di daerah tersebut, sebut saja Buya Tamin, Buya Bahar Pakih Basa, Buya Hasan, Buya Marah , Angku Datuk Rangkayo Marajo dan lain-lain.

Kemajuan dan keberhasilan ekonomi pertaniaan urang Saniangbaka kala itu juga tak lepas dari struktur Geografis Nagari Saniangbaka sebagai anugrah Allah SWT. Strategi jitu yang diterapkan rang saniangbaka dalam mengelolaan dan mengatur model pertaniannya. Kini tampaknya pergeseran ekonomi urang awak mulai terjadi.

Pegeseran  itu bermula dari masuknya listrik ( PLN) tahun 1982 yang diresmikan oleh Menteri Pertambangan dan Energi. Dampak dari kemajuan itu adalah lemahnya semangat gernerasi muda untuk bermalam di ladang, tambah lagi rendahnya nilai jual dari hasil pertaniaan beberapa tahun kemudian, Faktor kedua inilah (harga) yang jelas jelas berdampak pada setiap keluarga Saniangbaka, sehingga harus mengambil sikap dengan merintis jalan ke rantau. Pada akhirnya secara keseluruhan pola perekonomian Saniangbaka bergeser cara signifikan. Generasi muda mulai membidik rantau sebagai altertif membangun ekonomi keluarga.

Keseriuan  mengadu nasib di rantau sangat terasa   di awal tahun 90-an. Hal ini ditandai dengan adanya sinyal  keberhasilan dari beberapa perantau yang telah lebih dulu meninggalkan kampung. Hal ini pula  membuat  seolah-olah sumber penghidupan hanya ada di rantau, dan menjadikan rantau sebuah pilihan utama untuk membangun ekonomi keluarga.

Beratnya beban kehidupan di kampung dan bergesernya pola ekonomi Saniangbaka secara global juga berdampak lebih jauh bagi generasi selanjutnya. Dampak negatif dari hal di atas adalah rendahnya minat generasi muda kita pada dunia pendidikan.Hal ini terlihat jelas, dari betapa banyaknya anak-anak putus sekolah di Saniangbaka dengan alasan biaya. Bahkan di kalangan orang tuapun banyak yang memberi isyarat pada anaknya agar segera merantau dengan mengatakan “sekolah setinggi apapun toh pada akhirnya juga untuk cari duit, lebih baik merantau saja dari sekarang. “  Kondisi ini telah  menjadikan  lebih dari  90% usia tamatan setinggakat SMU Saningbaka Eksodus (keluar) untuk merantau. Bahkan ini juga  berlaku untuk usia di bawahnya, SMP dan SD yang nota bene masih tergolong anak-anak.

Bagai mana kita menyikapi kenyataan ini kedepan? Mungkinkah program babaliak ka Nagari menjadikan kita kembali merajut sendi Ekonomi di Kampuang? Ataukah membiarkan gelombang merantau terus mengalir lebih deras dari angka kelahiran anak Saniangbaka, dan kita hanya sekedar melakukan reuni empat tahun sekali dengan Tajuk “Pulang Basamo”?

Semua itu menjadi pekerjaan rumah kita semua, terutama bagi kita yang telah duluan salangkah dan ditinggikan sarantiang oleh Masyarakat Saniangbaka, baik di rantau maupun di kampuang.

Harus kita akui, kejayaan Saniangbaka masa lalu jauh melebihi nagari di sekitarnya. Kejayaan ini jelas merupakan hasil dari rintisan para orang tua kita  yang telah lebih dulu berjuang dan memperjuangkan kemapanan nagari. Kejayaan yang kita maksudkan ini berlaku untuk semua aspek dan cara pandang, baik dari sisi ekonomi maupun dari bidang-bidang lainnya.

Dalam bidang ekonomi, misalnya, masyarakat Saniangbaka berada di barisan depan dalam pencapaian pembangunan fisik dan infra struktur perekonomian. Untuk bidang yang lainpun kita juga pernah menjadi nagari yang disegani dalam lingkup kabupaten Solok.

Dengan paparan di atas apa pelajaran  yang patut kita ambil, sehingga kejayaan demi kejayaan itu tidak hanya menjadi kebanggan semu bagi generasi penerus Saniangbaka. Patut kita telusuri dan kita pahami lebih jauh strategi ekonomi yang secara turun temurun diwarisi oleh para orang tua kita dulu, di mana sumber pendapatan mereka bisa dikatakan seratus persen dari pertaniaan, karena danau sebagai sumber ekonomi lain tidak menjadi prioritas bagi warga Saniangbaka masa lalu. Mereka menggeluti bidang ini sekedar mengisi waktu saja, dan sebagian besar waktunya tetap dalam dunia pertanian.

Seperti yang kita ketahui selama ini bahwa sumber ekonomi Saniangbaka sebelum terbukanya ranah  perantauan adalah pertaniaan, dan dalam bertani masyarakat Saniangbaka punya strategi jitu dari dulu, yaitu dengan menempatkan kebutuhan sesuai dengan sumber pendapatannya. Dalam hal ini, dapat kita baca dari cara dan pola pertanian Saniangbaka  yaitu,

1.    Sawah (padi) untuk kebutuhan makan keluarga
2.    Tanaman Muda ( Bawang dan  Cabe) untuk penghasilan  bulanan dan digunakan untuk biaya jangka pendek seperti sekolah, pesta, dll
3.    Tanaman Tua

a.    Kopi dan Cengkeh untuk Penghasilan tahunan digunakan untuk kebutuhan jangka panjang seperti membangun rumah dll.
b.    Kayu Manis / Kulit Manis adalah untuk menutupi kebutuhan mendesak dan jika penghasilan harian atau bulanan tidak mencukupi. Karena tanaman yang satu ini tidak memiliki masa panen khusus.

Dari uraian  ini dapat kita simpulkan betapa cerdasnya warga Saniangbaka mensiasati dan mewariskan strategi ekonomi bagi kelangsungan dan kesejahteraan anak-anaknya.

Bagi sebahagian kita mungkin strategi semacam ini dapat diadopsi untuk kondisi sekarang. Mesti kita tahu dan sadar dunia pertaniaan secara umum tidak lagi dapat diandalkan namun sumber ekonomi yang beragam adalah solusi jitu. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: