Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Perkuat Basis Ekonomi di Kampung

Posted by majalahsaran pada Agustus 30, 2009

Oleh  Yudiharzi.

Beruntung banyak perantau Saniangbaka yang sukses, sehingga walaupun kondisi perekonomian di kampuang masih terbilang susah, namun  pembangunan fisik masih tetap bisa berjalan. Tentu karena adanya kesadaran warga rantau yang menginfakkan sebagian rezki yang didapat. Kalaulah tidak ada aliran subsidi itu,  tentu hal itu akan berat untuk dilakukan, karena melihat kondisi pendapatan berusaha di kampung masih  sulit.  

Jamak diketahui bahwa penghidupan sulit dengan penghasilan  terbatas di kampung itu sudah semenjak lama terjadi. Kira kira saat harga cengkeh dan kopi terus jatuh, padahal itu merupakan hasil utama perkebunan urang awak. Sementara magnit tanah subarang begitu kuatnya menarik minat semua orang. Hal itu  membuat gelombang urang awak ka rantau menjadi tak tertahankan. Terjadilah arus urbanisasi yang begitu masif menuju kota-kota, terutama  di Pulau Jawa.

Kuatnya tarikan rantau itu telah membuat nagari jadi sepi penghuni. Banyak  rumah kosong tak terurus, terbengkalainya kebun ladang yang subur. Banyak sawah dan ladang diserahkan pada urang kaluaran. Urusan baradat kadang jadi repot karena sebagian Angku Datuk Pangulu lagi di rantau. Ada lagi orang tua tua yang mana anak cucunya di rantau, sedangkan mereka tetap memilih bertahan, entah siapa yang mengurusnya, dan banyak dampak lainnya.

Banyak orang menilai bahwa penyebab semua ini adalah kebijakan pembangunan oleh pemerintah yang terpusat di Tanah Jawa, sehingga orang daerah pada berlomba ke sana dengan maksud untuk merobah nasib. Di mana ada gula di sana ada semut, dan  di tanah Jawa seolah gula itu pada taserak. Siapa yang tidak tergiur untuk menghampirinya?

Orang daerah pada berlomba marantau menuju tanah jawa meninggalkan kampung halaman tanah kelahiran dengan segala kenangan, meninggalkan rumah kesayangan. Banyak yang memilih berangkat  dari pada bertahan walau punya kebun kopi atau cengkeh sekalipun, karena  harga yang didapat selalu saja murah. Sedangkan  untuk mengurus kebun itu butuh dana tidak sedikit. Apalagi  infrastruktur jalan menuju kebun/ladang sangat kurang, membuat biaya produk perkebunan kita menjadi lebih mahal.

Barangkali faktor infrastruktur jalan itulah  yang membuat hasil produksi pertanian nagari lain lebih melimpah, tambah lagi secara jujur kita akui mereka lebih ulet dan hasil pertanian mereka lebih beragam/ variatif. Sehingga banyak warganya yang masih lebih  kuat bertahan hidup di kampung dibanding warga kita.

Kita beruntung bahwa di negri orang sudah banyak dunsanak kita yang sukses punya kekuatan ekonomi. Itu adalah modal utama untuk membuat di kampung punya basis ekonomi yang kuat juga, yaitu yang ditopang oleh  banyaknya basis produksi terutama di sektor pertanian, perkebunan dan juga sector industri rumah tangga, seperti halnya dinagari lain yang sudah lebih dulu mapan.  Sehingga, suatu saat gula itu tidak lagi hanya ada di rantau, tetapi di kampung pun ada, bahkan mudah mudahan lebih banyak dan lebih manis.

Seandainya kondisi perekonomian di kampung sudah kembali pulih, infrastruktur mendukung, lapangan pekerjaan tersedia, maka tidak mustahil akan  terjadi gerakan balik ka kampuang, terutama pada dunsanak yang sudah merasa sulit untuk tetap bertahan di negeri orang.

Untuk itu perlu dilakukan upaya yang lebih serius, segala kegiatan usaha yang sudah mengarah kepada penguatan ekonomi di kampung harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Segala potensi yang ada perlu disatukan agar cita cita  itu dapat diraih. Dalam hal ini ada tiga potensi utama yang harus digerakkan sebagai penopang, yaitu: masyarakat nagari, perantau dan pemerintah. Pertama Masyarakat Nagari adalah pelaku utama dalam segala bentuk program ekonomi nagari, lalu Perantau Sukses sebagai pendukung financial, serta dukungan Pemerintah dalam hal pembangunan infrastruktur, iklim usaha dan ketahanan harga disaat panen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: