Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Tradisi Puaso Maso Saisuk

Posted by majalahsaran pada Agustus 30, 2009

Oleh  Cucu Angku Ambo

Sahuuurrttt, sahuuuurrrt, sahurrrrtt ibu-ibu, mande-mande, mamasak lah lai, jam di surau tangah alah menunjukkan pukua duo, sahuurrrrt. Mamasak lah lai piiikkkk!!!!

Sayup-sayup suara Angku Ambo terngiang-ngiang di telinga, membuat saya terbangun. Dengan sedikit mengeliat dan manggisa aia aki yang mengalir di pipi, saya langsung melompat dari tempat tidur, meraih kain sarung dan langsung turun dari rumah mengambil kaleang dan kayu, “yang sudah disiapkan dari kemaren malam” lansuang menuju surau tangah. Di sana sudah berkumpul para musahharati (piapuk, cenkingkong, toot, tongki, bagong, di ariang, bajul, tonyot, balul, sali dkk.)

Musahharati

Musahharati adalah orang yang bertugas membangunkan sahur, yang merupakan tradisi  dari negara Mesir. Sumber sumber sejarah menunjukan bahwa musahharati dan seni membangunkan orang untuk makan sahur mendapat tempat istemewa di hati umat Islam Mesir pada pertengahan pertama abad XIX seni ini mencapai puncak perkembangannya.

Pada waktu itu, setiap sudut dan bagian terkecil kota kairo memiliki musahharati. Kedudukan yang dimiliki oleh musahharati saat itu tidak lebih rendah dari kedudukan penyanyi pada masa sekarang. Hanya orang orang yang memiliki suara merdu yang bisa bekerja sebagai musahharati. Musahharati biasanya mulai berkeliling dua jam setelah matahari terbenam atau setelah sholat isya tepat. Sambil berkeliling, musahharati memukul drumnya, setiap saat sebanyak tiga kali.”

Kami musahharati surau tangah akan berkeliling dengan rute dari surau tangah-lapau langkok-piliang-lelang subarang balik ka surau tangah, sebagai ganti drumnya kami menggunakan berbagai macam kentongan “kecek urang jawa e” dek awak baganti pariuk buruk, panci, boto, kaleang dsb.” Sahuuuurrrrrrrrrrrrr.

Kami terus berkelilling sampai jam ampek untuk mambantu Angku Ambo manjagoan mande-mande untuk memasak dan makan sahur. Setelah itu kami pulang kerumah masing-masing untuk makan sahur. Dulu biasanya kegiatan memasak untuk sahur memang dilakukan sebelum sahur, karena pada waktu itu di kampuang belum ada rice cooker, kulkas apalagi kompor gas, untuk menjaga nasi agar tetap panas, biasanya disimpan didalam panci yang ditutup dengan bantal.

Badia Batuang

Selain bakuliliang, badia-badia batuang juga menjadi alat untuk membangunkan sahur. Layaknya peperangan, samak-samak merupakan tampek nan paliang seru untuk main badia batuang. Terinspirasi dengan meriam, badia batuang dibuat layaknya meriam, baik dari segi bentuk, ukuran, maupun cara penggunaannya.

Sekitar tiga atau empat ruas bambu, dimana batas masing-masing ruasnya dilobangi untuk keluar asap dan suara dentuman. Pada bagian atas, sekitar 10cm dari pangkalnya dengan menggunakan pahat dibuat lobang kira-kira seukuran  jari jempol, pada lobang tersebut dimasukkan kain perca/sobekan handuk yang dilumuri minyak tanah. dengan tambahan sebuah lampu togok dan sebatang kayu untuk menyulut api kedalam lobang bambu, setelah itu badia batuang siap diledakkan.

Untuk menghasilkan efek suara yang menggelegar masukkan sedikit karbit ke dalam lobang. Kualitas bambu juga sangat berpengaruh disini, bambu yang berkualitas adalah dengan ruas yang tebal dan sedikit tua dalam hal ini batuang bana yang mempunyai motif loreng merupakan yang paling baik dan menghasilkan suara yang menggelegar dan tidak gampang pecah.

Layaknya meriam badia batuang dihidupkan dengan menyulutnya dengan api menggunakan sebatang kayu. Kalau kadar asap dan kampasnya pas, akan menghasilkan suara yang menggelegar, kaleng yang diletakkan diujungnya akan terbang sampai ka subarang tangaya. Tapi kalau kualitas bambunya kurang bagus atau badia sudah penuh dengan asap, bunyinya akan malasuuuiiiih takah kantuiiik. Untuk mengatasinya terpaksa lobangnya dihambuih dulu, tapi hati-hati dalam mahambuih, seandainya masih ada api bisa-bisa apinya akan manembak kalua, dan membuat alis mata dan rambut jadi karitiang.

Setelah selesai shalat subuh, kami akan berkumpul untuk main bola di sindia, panek, haus, indak taraso nan penting main dulu, pagi-nya giliran latuih-latuih-an diloncek-an dijalan. Mainan dari busi bekas motor yang sudah dibuang isinya, lobangnya ditutup dengan baut yang diikatkan dengan kawat ke bodi busi yang sudah diberi ekor dari tali, yang berumbai layaknya celana penari suku asmat.

Lobang busi diisi dengan mesiu korek api dan ditutup dengan kertas catuih-nya kemudian ditutup dengan baut. Busi dilemparkan ke udara. Ketika ujuang baut menyentuk aspal akan menghasilkan suara ledakan, kalau tutup bautnya pas dengan lobang busi/padat, busi akan terlontar tinggu ke udara, lompatan tertinggi akan menghasilkan kebanggaan yang tiada terkira. Itulah kenikmatan ramadhan disiang hari yang penuh dengan permainan yang mengasikkan, selain itu karao juga menjadi permainan untuk parintang hari. Kalau siang haus, tingga manyilam se di surau tangah, kok panek bae lalok lai.

Pabukoan

Saat menunggu waktu berbuka ngabuburit kecek urang awak e merupakan saat-saat yang paling menyiksa, haus dan letih menghantui setelah seharian bermain. Tiba-tiba amak memanggil saya, “yuang ang bali pabukoan kalelang sabanta lah, ” Saya yang biasanya malas kalau disuruh amak, lansuang manyemba kareta unto mak etek nan sadang tasanda dijanjang.

Tujuan pertama adalah mambali es balok ka lapau pak junin. Setiap ramadhan es balok pak junin menjadi primadona, banyak orang antri belanja. Pak junin pun alah siap dek pakekeh e, sarupo gergaji, ladiang, jo panokok untuk mambalah batu es. Salain batu es, ado juo es tebak, sanok dalimo, tidak ketinggalan teh talua buatannya yang rasanya nomor wahid. Setelah membeli batu es, singgah sebentar ka lapau pak nasar untuk membeli sirup abc, setelah itu langsung ke bawah batang kubang. Didepan tugu carano, “yang berdiri diatas tembok setengah lingkaran yang biasa dijadikan tempat bersantai sambil menikmati sejuknya udara dibawah rindangnya pohon kubang,” sudah berjejer penjual pabukoan, mulai dari cindua, candin, pisang abuih, sanok dalimo, karamunyian dsb. Sasuai jo pasanan amak, sabungkuih cindua jo sasikek pisang abuih angku Manti Menuik kini lah tagantuang di stang kareta unto untuk dibao pulang.

“Wakatu babuko tingga satangah jam lai, Angku Ambo mulai maimbaoan ari di surau tangah,” setengah jam waktu yang terasa begitu lama, seakan lebih lama dari seharian menahan lapar, “tingga limo baleh minik lai bapak-bapak, ibu-ibu….. “ Angku Ambo tanpa bosan-bosan terus menyuarakan perputaran waktu, menit demi menit, limo minik, ampek minik, tigo minik, dua minik sampai tiba-tiba terdengar “babuko lah lai wakatu alah masukkkkk”. Setelah itu yang terdengar hanya capak-capak jo dentingan sendok yang beradu dengan piring. Angku Ambo antah lai babuko antah indak ndak ado lai nan paduli.

Tidak cukup hanya dengan berbuka di rumah, setelah magrib, lapau langkok adalah sasaran berikutnya, cindua kak bidah, anyang, karupuk, antimun balado, miso nida mambuek paruik batambah padek.

Safari ramadhan bukan hanya dilakukan oleh para pejabat dan anggota dewan, kami pun sudah melakukannya sejak lama, tujuan tentu tidak sama dengan pejabat yang mencari simpati masyarakat dan perjalanannya dibiayai oleh negara. Tujuan kami melakukan safari ramadhan adalah untuk mencari tempat shalat tarawih yang cepat selesainya “surau patas/surau ateh adalah salah satunya, walaupun 21 rakaat tapi patas” dan setelah itu kaliliang nagari untuk cuci mata.

Setelah itu perang badia batuang dimulai lagi, samak tapi tangaya muko lapau manti menjadi karan, dengan hati-hati saya mulai mengatur letak badia layaknya posisi meriam, moncongnya diarahkan ke jalan runtuh, lampu togok dinyalakan, tidak lupa ditambahkan sedikit minyak tanah plus karbit ke dalam lubang badia. Diujuang badia lah tapasang kaleng susu bendera. saya mulai menyulut api dengan kayu, dan perlahan-lahan memasukkannya kedalam lubang badia, dan…. Duuuaaaaaaaaaaarrrr!!!!.

Saya talompek jatuh dari tempat tidur, bunyi maracun yang sangat keras membangunkan saya dari tidur, sayup-sayup terdengar suara orang mengaji melalui kaset dari surau, saya melihat hari sudah menunjukkan pukul tiga subuh, tidak ada lagi teriakan sahur Angku Ambo, yang ada hanya suara kaset, begitu pula dengan suara badia batuang, sudah berganti dengan suara petasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: