Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Empat Jembatan dan Kejayaan Saniangbaka

Posted by majalahsaran pada Agustus 31, 2009

Bukti kejayaan Saniangbaka pada dekade sebelum tahun 1900-an atau lebih jelasnya sebelum Kemerdekaan Indonesia dari tangan Penjajah adalah adanya Empat Jembatan menuju  pusat ekonomi Saniangbaka (Aialasi, Jambak dan sekitarnya ). Kenapa kita menyebut Aialasi dan sekitarnya sebagai pusat ekonomi Saniangbaka tempo dulu? Kita tidak dapat menyebut dan mengungkap kejayaan Saniangbaka masa lalu tanpa menyebutkan Aialasi dan sekitarnya.

Selama ini kita memang tidak menemukan sejarah tertulis yang menyebutkan hal di atas, namun secara nyata bukti-bukti itu  dapat kita pahami, dari terbentangnya empat jembatan menuju kampung yang disebut Aialasi itu. Yaitu Jembatan Kapalo Banda, Jembatan Baturuik, Jembatan Kuok dan Jembatan Aialasi. Menurut berbagai sumber yang layak dipercaya, keempat jembatan ini adalah buatan Kolonial Belanda pada tahun 1830-an dan mereka juga merenovasinya pada awal tahun 1900-an.

Berdasarkan cerita di atas, setidaknya ada dua pertanyaan penting yang  timbul  dalam hati kita yaitu

1.    Ada apa dengan Aialasi ??
2.    Kenapa Kolonial merasa perlu menguras pikirannya umtuk membuka akses masuk ke Aialasi, padahal mereka tahu tantangan medan sangat berat.

Dari ratusan ribu hektar lahan yang ada di Ranah Minang, khususnya untuk kabupaten Solok, Saniangbaka dalam hal ini Aialasi termasuk yang istimewa dalam menghasilkan kebutuhan  bangsa Eropa kala itu, yaitu kopi. Hampir semua nagari yang terhimpun dalam Kecamatan X koto Dibawah tidak memiliki kebun kopi, kalaupun ada seperti Ujuangladang-Kotosani, atau Gando-Panianggahan, luasnya tidak seberapa. Jika dibandingkan dengan kebun kopi yang ada di Aialasi. Sebut saja resor yang ada di atasanya, semuanya ditumbuhi oleh kopi yang subur .

Alasan itulah yang menjadikan kaum kolonial menempatkan diri untuk membangun sarana transportasi ke Jambak yang medannya jauh lebih berat dari Aia Angek, Ujuang Ladang, ataupun Gando-Paninggahan.

Sarana transportasi itu juga masih dapat dipakai oleh masyarakat Saniangbaka sampai sekarang, meskipun belakangan  kondisinya kurang terawat, karena hasil pertaniaan dari atas sana tidak lagi dapat diandalkan.

Untuk mengingat sejarah dan perkembangan ekonomi Saniangbaka sudah sepantutnya juga kita memikirkan kembali kelangsungan  keempat jembatan itu. Jika hal ini  terabaikan maka tidak mustahil keempat jembatan itu akan tertutup dalam  lipatan sejarah Saniangbaka, seperti halnya kejayaan Jambak dan Aialasi masa lalu. Orang tua kita yang pernah hidup di masa itu kini hanya mampu bercerita bahwa Pasar Jambak yang digelar setiap hari Sabtu itu juga dikunjungi oleh pedagang dan pembeli dari nagari tetangga seperti Uujuang Ladang, Payo, Tanjuang Bingkuang dan Paninggahan.

Patut kita syukuri juga  karena  Saniangbaka tumbuh lebih maju dari nagari tetangga dalam berbagai hal, terutama   (fisik) bangunan rumah dan sarana ibadah. Sebutan nagari seribu surau juga merupakan hasil dari pertaniaan kopi dan pemanfa’atan dari “Empat Penjajah”  peninggalan dari penjajah itu.

Bahkan keduanya juga punya peranan penting menghantarkan warga Saniangbaka menjadi eksportir kopi ke Eropa pada tahun 1960-an. Suatu hal yang wajar dan masuk akal, karena ribuan ton biji kopi dapat dihasilkan dari perkebunan rakyat kita dengan luas lebih  dari 500 hektar.

Kini tinggal bagaimana kita menjaga eksistensi dari jembatan-jembatan itu, bukan hanya sebatas memugar atau membangunnya kembali. Tapi jauh lebih penting dari itu semua, bagaimana kita dapat kembali memaksimalkan penggunaannya. Suatu kesia- siaan bila kita bangun tanpa dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.  Masih adakah mata air kehidupan di atas sana yang mampu menyirami kehausan ekonomi masrakat dan sebagai parintang jalan ka rantau nan lah pasa. (Gindo Sutan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: