Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Saniangbaka Sering Alami Gelap Gulita

Posted by majalahsaran pada Agustus 31, 2009

Masyarakat Sumatera Barat  termasuk Saniangbaka kini sering dihadapkan dengan keadaan gelap gulita karena seringnya listrik padam. Pemadaman listrik kini sudah rutin dialami, bahkan sudah menjadi kebijakan resmi pihak PLN yang memberlakukan waktu pemadaman.

Kondisi tersebut harus membuat warga  bisa menyesuaikan dan  menerima  kenyataan  atas keputusan PLN  yang  memberlakukan  pemadaman listrik bergilir. Pasalnya PLN cab. Solok  secara resmi telah melayangkan surat pemberitahuan  kepada setiap pimpinan daerah, lembaga pemerintah dan swasta yang ada di Kabupaten  Solok.

Akibat pemadaman listrik bergiliran , masyarakat Saniangbaka mulai khawatir akan muncul tindak kejahatan dan terjadinya kebakaran akibat penggunaan lilin dan lampu minyak.

Keamanan dan kenyamanan  masyarakat nagari  Saniangbaka kembali terusik setelah terasa aman dan damai dalam beberapa tahun terakhir.  Kondisi yang  mulai mengkawatirkan ini merupakan dampak kemarau cukup panjang yang mengakibatkan  terbatasnya pasokan listrik dari PLN.

Pemerintahan nagari Saniangbaka   yang diwakili oleh Rusmadi Panito Pinyangek selaku Sekretaris Nagari mensosialisasikan  kepada masyarakat  pada hari Jum’at, 31 Juli 2009 di Masjid Raya Saniangbaka. Pemadaman  bergilir dilaksanakan  selang waktu 3 jam hidup kemudian 3 jam mati begitu seterusnya.

Menurut pihak PLN,  alasan kebijakan pemadaman yang dilakukan tersebut antara lain karena  semakin  berkurangya debit air  danau Singkarak  yang akan memutar  dinamo PLTA akibat kemarau panjang  belakangan ini. Sehubungan  dengan hal demikian pihak PLN  memohon maaf  kepada pelanggan atas ketidaknyaman  dalam pelayan PLN.

Kebijakan  PLN  yang  tidak populer tersebut  tentu akan mempengaruhi  aktifitas masyarakat  sebagaimana biasanya. Sering matinya listrik tentu  berpengaruh terhadap pola  kerja  atau akktiifitas masyarakat.

Dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat Saniangbaka  dan masyarakat sekitar adalah pemadaman secara bergiliran. Menurut beberapa sumber yang dihubungi di kampung, pemadaman ini berlangsung hampir setiap malam dengaan durasi kurang lebih tiga jam. Panjangnya waktu pemadaman membuat sebahagian besar masyarakat mulai was-was, terutama kaum ibu dan anak-anak.

Tokoh DPC IWS Jakarta, Albar kepada Saran juga menginformasikan tentang pemadaman listrik di Sumbar, termasuk Saniangbaka. Albar menuturkan, pemadaman cukup mengganggu karena jadwal pemadaman sering terjadi pukul 18.00 hingga 21.00 dan kemudian pukul 03.00 sampai pukul 06.00,  padahal waktu itu merupakan saat kegiatan melakukan ibadah.

Menurut Albar lagi, pemadaman berdampak secara umum, bahkan yang lebih parah ketika ada hajatan dan kematian. Aktifitas perekonomian juga terganggu karena masyarakat tidak dapat berbuat banyak ketika listrik padam. Hal yang meresahkan pula, lanjut Albar, ada kecenderungan tingkat kriminalitas meningkat, seperti kemalingan. Selain itu kenakalan muda-mudi juga meningkat karena sulit melakukan pengawasan saat kondisi gelap.

Pemadaman listrik ini dinilai sejumlah masyarakat sebagai kebijakan seenaknya dari pihak PLN, terlebih lagi kebijakan ini tanpa ada konvensasi sama sekali. “Akibat listrik padam, di Damasraya dikabarkan 5 orang meninggal akibat kebakaran karena warga memakai lilin saat listrik padam,” ucap Albar yang beberapa hari berada di kampung. (NJ/GS/pr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: