Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Kenangan Letkol (pur) H. Syamsul Bahri dalam Operasi Seroja

Posted by majalahsaran pada September 5, 2009

Menyebut urang awak yang hidup dalam dunia militer, rasnya tidak pas jika tidak menyebut nama Letkol TNI AD (pur) H Syamsul Bahri Palimo Kayo. Nama beliau sampai kini masih banyak dikenal. Bahkan di sejumlah rumah urang awak di perantauan, masih ada terpampang foto beliau di dinding yang terlihat begitu gagah dan berwibawa.

Jika pernah popular disebut, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) atau kini disebut TNI (Tentara Nasional Indonesia) selalu manunggal dengan rakyat, atau dari, untuk dan oleh rakyat, maka sosok Syamsul Bahri ini memang terasa sangat pas. Beliau mampu memainkan dwifungsinya, satu sisi sebagai prajurit TNI dan satu sisi lain adalah rakyat yang selalu siap membela sesama.

Sebagai tokoh urang awak yang senior di militer, tentu banyak pengalaman yang ada pada dirinya. Pak Letkol Syamsul Bahri yang kini bermukim di Bandung ini mengaku punya pengalaman berkesan, yaitu ketika tugas di Timor Timur yang kini menjadi Negara sendiri, disebut Timor Larose.

Salah satu pengalaman tugas yang begitu berkesan bagi Bapak Letkol (pur) H. Syamsul Bahri Panglimo Kayo adalah masa ditugaskannya beliau dalam operasi Seroja pada tahun 1978- 1979. Beliau menceritakannya langsung pada Saran dalam suatu kesempatan beberapa waktu lalu.  Sebagaimana kita ketahui, Operasi Seroja adalah  penumpasan pemberontak di Timor- Timur. Para pemberontak itu diantaranya adalah kelompok Fretilin dengan beberapa dedengkotnya seperti; Xanana Gusmao, Nicolau Lobaso, Don Bosco, Ramos Horta dan sebagainya.

Pada waktu itu beliau masih berpangkat Kapten, berada pada barisan intel yakni dari Pusintelstrad Dephankam. Saat itu juga terlibat Lettu Prabowo dan Kapten Muchdi Pr dari kesatuan Kopassus. Sempat pula bergabung dengan RK Sembiring Meliala sebagai komandan Sektor sector 7 ujung timur, saat itu dalam upaya pengejaran gembong pemberontak, Xanana Gusmao. Sewaktu keluar sempat terlihat oleh beliau adanya korban tembak oleh Fretilin, diperkirakan ada sekitar lebih dari sepuluh orang, diketahui merupakan dari pasukan Batalyon 328 Siliwangi yang terkenal itu. Namun dari barisan dia tidak ada korban.

Setelah itu bersama Batalyon 744 memburu Presiden Fretilin waktu itu, Nicolau Lobaso. Sebanyak gabungan dari 50 Batalyon dikerahkan di daerah Ailiu. Waktu itu mereka dapat dikepung oleh pasukan TNI, tanpa ada perlawanan yang berarti.  Sehingga mengakibatkan banyak jatuh korban di pihak mereka, termasuk Don Bosco. Sedangkan dipihak kita tidak ada jatuh korban. Di situlah Prabowo dapat kenaikan pangkat karena dianggap punya prestasi luar biasa. Mayat Lobaso dibawa ke Markas Komando Kogadgad dibawah pimpinan Brig Dading Kalbuadi di Dili. Sedangkan Dan Yon 744 Mayor Yunus Yosfiah naik pangkat menjadi Letkol, dia langsung sesko ke Amerika, sekembalinya dapat Pangkat Kolonel.

Setelah sukses melakukan penyergapan itu, Pak Syamsul bersama yang lain lebih banyak berkonsentrasi di Kota Dili. Dan pada Agustus 1979 beliau dipulangkan dengan Pesawat Hercules langsung ke Halim Perdana Kusuma Jakarta.  Sayang memang perjuangan dan pengorbanan yang besar dari para pejuang kita itu akhirnya harus sia- sia dengan lepasnya Timor- Timur dari pangkuan Republik Indonesia. (yd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: