Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Rinduku Pada Tapian

Posted by majalahsaran pada September 5, 2009

Oleh Giems

Aku baru saja pulang dari pekerjaan rutin ku di sebuah pasar kecil dikawasan  Jakarta pusat, kepenatanku terobati ketika buah hatiku langsung menyonsongku masuk rumah.Anak- anakku yang masih kecil adalah buah cintaku dengan perempuan kampung yang perkasa, sederhana dan berhati selembut salju. Sepuluh tahun lebih kami mengarungi  bahtera kehidupan, suka dan duka kami  hadapi bersama, meski sesekali terdapat perbedaan pendapat dberbagai hal. Namun semuanya dapat kami kami hadapi dengan baik.”Cinta tanpa kebahagiaan addalah neraka kehidupan”,  mungkin itulah makna Rumahku adalah sorgaku.

Tidak mudah melupakan peristiwa ketika aku harus pergi meninggalkan kampungku. Amakku yang begitu menyayangiku, aku lihat tidak tahan , ketika beliau menyururuhku meninggalkan kampung halamanku,  sementara abakku hanya mampu diam seribu bahasa sambil menghirup kok Kaisernya di sudut rumah yang hampir roh dimakan usia. Masih terngiang ditelingaku ucapan amakku,” Nak kalau waang ingin merobah nasib ang tinggakanlah kamangko, ndak ado nan mambuek ang  maju di sikodah,  awak bukan katurunan pagawai “. Katanya padaku di  malam itu.  Seketika ku jawab “  iyolah mak, ambo pikia dulu, ambo masih barek maninggaan kampuangko. Jawabku  dengan penuh kegalauan  yang membuah dada bergemuruh.

Semenjak itu aku ja pemurung dan suka menyendiri di tepi pasia. Ang suka bekerja jadi pemalasdan tidak punya gaiarah hidup.”Tempatku di sini bukan di rantau”. Begitu hati kecilku berontak. Gelar sarjana yang aku raih dengan susah payah tidak memberi arti bagiku. S

Sekarang hari hariku ku habiskan dengan  membaca buku, hanya itulah at keseihanku, hanya ini hobiku, tempat favoritku adalah tapi pasia sambil menikmati ombak bergulung dan hembusan angin yang sepoi- sepoi, hamparan padi yang menghijau.  Sring aku gelisah ketika mendengar ocehan mande-mande sambil basiang dengan tangannya yang perkasa cekatan, betapa bersahajanya mande-mande itu.  Ada jalan pematang yang paling aku sukai, walau jalan itu jarang di lalui orang. Jalan itu semak  dan penuh duri sikajuik  tapi di situlah aku melihat sekuntum bunga yang sangat indah. Setiap melei pematang itu aku selalu berhenti dan ingin memetik bunga itu.

Sudah lebih sebulan, aku belum memberi jawaban pada amakku, amakku pun juga tidak berani bertanya lagi,  kami hanya diam ., Taapi amalam itu aku beranikan bicara,” mak awak bukan keluarga perantau, indak ado tapatan nan tapek di tuju, alah hampia 25 tahun umua ambo alun tatampuah tanah ranta tulai dek ambo”. Amakku a diam dan beranjak ambil jubahnya, lalu pergi kesurau melaksanakan shalat isya. Lama sekali amak di surau, sudah hampir jam sepuluh beliau belum juga pulang. Aku mulai khawatir dan pergi keluar menyusulnya. Dan alangkah terkejutnya aku, ketika aku melihat Amakku membaca Al-qur’an sambil berlinang air mata, lalu aku datangi dia bil bersimpuh di hadapannya, dan mencium kakinya dan kemudian memeluknya. Aku atak sanggup menahan luapan air mata, dan kami berduapun menangis tersedu-sedu.

Nak amak sabananyo indak taloklo bapisah jo waang, caliaklah abak  ang  alah mulai sakaiak sakik –an , kasia amak ka baiyo, mamak ang jarang kamari  dan adia- adiak ang masih ketek-ketek. Hatiku  semakin galau  dan kiran semakin kacau , tak satupun yang dapat aku perbuat. Satu-satunya membuat aku tenang adalah tapi pasia. Sering aku menyendiri di surau kasik, yang masih kokoh berdiri dengan gagah menghadang hijau sawah, walau surau lai sudah berubah ujud tergerus modern. Sering aku berkontemplasi sambil bermunajat kepada Allah SWT. Merenungkana diri. “ Ya.. Allah berilah aku keutusan yang tepat”.

Keputusan harus segera aku ambil sebab bila aku terlambat, aku pasti menyesal. Dan ketika aku ter-inspirasi tulisan DR. Ali Syariati – endikiawan Iran, bahwa “ 27 peradaban dunia di bangun oleh orang perantau” Dan saat itulah aku tuskan untuk meninggalkan kampung ketika keputusan itu aku utarakan kepada amak, alangkah gembitra hatinya. Dengan susah payah beliau kesana kemari mencarikan ongkos ketanah jawa.  Harus berangkat dan kami harus perpisah walaupun kami saling menyayangi. Semenara abakku hanya memandangi kami sambil manggmanggut seraya menghisap rokok Kaisernya.

Aku berangkat , diantar oleh amakku , naik di jalan –didepan bengkel Waidi dengan bis Gumarang Jaya. Selatinggal, kampungku rupamu nan elok takkan pernah aku lupakan, aku akan selalu merindukan tapi pasia.

Lama sekali aku terombang-ambing rantau, pindah dari satu induk semang ke insemang yang lain , karena sebenarnya aku kurang berminat berdagang. Aku hampir putus asa, dan memutuskan untuk pulang kampung. Di tengah ke galauan  itu datanglah pertolongan Allah SWT.  Melalui lah seorang saudaraku , Beliau dngan penuh kekhlasan membantuku dia juga turut mencarikan tempat berdagang bagiku. Semoga Allah menerima Amal ibadah saudaraku itu dan dan di ampuni segala dosa-dosanaya.

Sudah hampir dua puluh tahun aku merantau, belum banyak yang aku dapatkan , tapi rasa syukur selalu aku aturkan padaNya, karena semua alah rahmatdan Karunia Nya. Yang Hidup di kota Metropolitan sangat menjenuhkan dm bosankan, untung ada paguyuban kampungku, sehinga aku terkadang sedang berada di tapian………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: