Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Tanah Rantau, Masihkah Menjanjikan?

Posted by majalahsaran pada September 5, 2009

Oleh Yudiharzi.

Penghasilan yang didapat dengan berusaha di kampung sudah semenjak lama tidak lagi mencukupi, sementara magnit tanah sebarang begitu kuat, membuat gelombang pergeseran urang awak karantau menjadi tak tertahankan. Keberangkatan mereka ke negeri orang tidak lagi sekadar marantau sementara, tetapi sudah betul betul untuk pindah menetap, bahkan sepertinya untuk selamanya. Kalaupun ada yang masih sempat pulang itupun hanya untuk sebentar dan akan kembali lagi meninggalkan kampung yang makin hari makin lengang.  Apakah pepatah”Sejauh tabangnyo bangau, pulangnyo ka kubangan juo” masih berlaku bagi urang awak? Entahlah, yang jelas saat ini kecendrungan perpindahan itu masih terjadi.

Problem yang muncul akibat kuatnya tarikan rantau itu jelas bermacam macam. Ada rumah kosong tak terurus yang tentu menimbulkan suasana sepi dan seram. Banyak sawah dan ladang diserahkan pada urang kaluaran. Urusan baradat kadang jadi repot karena sebagian Angku Datuk Pangulu lagi di rantau. Ada lagi orang tua tua yang anak cucunya di rantau, sedangkan mereka tetap memilih bertahan, entah siapa yang mengurusnya. Agak serius pula adalah tidak terurusnya tanah ulayat yang telah menimbulkan kesalahpahaman dengan Nagari tetangga.

Boleh jadi faktor utama penyebab semua ini adalah kebijakan pembangunan oleh pemerintah yang terpusat di tanah Jawa, sehingga orang daerah pada berlomba ke sana dengan maksud untuk merubah nasib. Di mana ada gula di sana ada semut, dan  di tanah Jawa seolah gula itu pada taserak. Siapa yang tidak tergiur untuk menghampirinya. Maka jadilah orang orang daerah pada meninggalkan kampungnya, tidak terkecuali urang awak. Namun walaupun penyebab awalnya adalah kebijakan pemerintah lalu apakah kita hanya menunggu saja, dalam arti soal ekonomi masyarakat nagari serahkan saja pada pemerintah, kalau pemerintah memikirkan hal ini ya syukur kalau tidak ya biarlah apa jadinya saja, apakah seperti itu? tentu saja tidak.

Kita semua harus juga berperan aktif untuk menentukan bagaimana bentuk Saniangbaka masa depan,yaitu Saniangbaka yang punya kekuatan ekonomi yang ditandai dengan banyaknya basis produksi terutama di sektor pertanian perkebunan dan juga sector industri rumah tanga, seperti halnya dinagari lain yang sudah lebih dulu terlihat mapan.  Sehingga suatu saat gula itu tidak lagi hanya ada dirantau, tetapi di kampung pun ada, bahkan mudah mudahan lebih banyak dan lebih manis.

Oleh karena tidak semua urang awak mendapatkan manisnya gula di rantau serta factor kampung yang semakin sepi, maka tidakkah saatnya kita memikirkan perlu nya sebuah titik balik, yaitu adanya basis ekonomi yang kuat dikampung. Sehingga tidak mustahil terjadi gerakan balik kakampuang, terutama pada dunsanak yang sudah merasa sulit untuk tetap bertahan dinegri orang.

Untuk itu perlu dilakukan upaya yang lebih serius, segala kegiatan usaha yang sudah mengarah kepada penguatan ekonomi dikampung harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Segala potensi yang ada perlu disatukan agar cita cita besar itu dapat diraih. Dalam hal ini ada tiga potensi utama yang harus digerakkan sebagai penopang, yaitu: masyarakat nagari, perantau dan pemerintah. Pertama Masyarakat Nagari adalah pelaku utama dalam segala bentuk program ekonomi nagari, lalu Perantau Sukses sebagai pendukung financial, serta dukungan Pemerintah dalam hal pembangunan infrastruktur, iklim usaha dan ketahanan harga disaat panen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: