Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Akhirnya Gempa “Besar” Itu Datang Juga

Posted by majalahsaran pada November 29, 2009

Gempa adalah sebuah keniscayaan, yang tidak bisa kita tolak kehadiran­nya. Tapi kita tidak bisa memastikan di mana dan kapan gempa itu terjadi, karena sampai saat ini tidak ada ilmu yang bisa memprediksi kapan akan terjadinya gempa. Yang bisa dilakukan adalah mem­persiap­kan segala sesuatunya untuk mengantisipasi terjadinya gempa.

Sejak terjadinya gelombang tsunami yang meluluh­lantakkan Aceh dan Nias, yang mengiringi gem­pa berkekuat­an 9.0 SR, pada 26 Desember 2004 lalu,rasa takut meng­hantui penduduk yang ting­gal di pesisir pantai, terutama di kawasan barat pulau Sumatera.

Kawasan ini me­mang merupakan daerah pertemuan lempeng Indo Australia dan lempeng Eurasia, di sana juga terdapat patahan Sumatera yang mem­bujur dari Aceh sampai Lampung. Selain itu, menurut pakar gempa Suma­tera Barat, Dr. Badrul Kemal Mustafa, “gempa besar selalu berulang dalam siklus 200 tahunan,” gempa terakhir terjadi pada tahun 1833.

Kehidupan di Padang seolah-olah berada dibawah ‘teror’ gempa dan tsunami sehingga menim­bul­kan ketakutan yang berle­bihan. Seperti pernah terjadi lima tahun lalu, pada 30 Desember 2004 dini hari. Waktu itu beredar isu bahwa air laut naik, sehingga warga berhamburan lari ke tempat yang lebih tinggi. Suasana menjadi kacau, masyarakat berlarian untuk menyelamatkan diri. Bahkan malam itu ada yang melarikan diri sampai ke Solok. Padahal semua itu hanyalah isyu. Sama sekali tidak ada gempa yang seha­rusnya mengawali dan menjadi penye­bab terjadinya tsunami. Kalaupun terjadi gempa besar (min. 6.0 SR) belum tentu akan terjadi tsunami.

Semenjak itu, gempa berkekuatan cukup besar beberapa kali terjadi di per­airan barat Sumatera, sehingga menguat­kan perkiraan dari pakar dan peneliti gempa. Diawali dengan gempa Nias pada tanggal 28 Maret 2005, dengan kekuatan 8.7 SR. Getarannya terasa sangat keras di Kota Padang, sehingga menambah kekhawatiran. Kondisi ini ditanggapi serius dan ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah Kota Padang, dengan mengadakan berbagai simulasi gempa dan membuat jalur-jalur evakuasi untuk mengantisipasi terjadinya tsunami.

Peramal pun ikut memperkeruh sua­sana, dengan ramalan-ramalan yang me­nyesatkan dan tidak terbukti kebenaran­nya. Seperti ramalah Mama Loren, pera­mal Australia yang dengan berani me­nen­tukan tanggal terjadi nya gempa, dan mengakibatkan warga Kota Padang kembali mengungsi.

Di saat warga Padang masih dilanda kecemasan, pada 6 Maret 2007 warga Sumbar justru dikejutkan oleh gempa 6,5 SR yang terjadi di darat dan berpusat di sekitar Padang Panjang dan Danau Singkarak. Dekatnya pusat gempa dengan pemu­kiman penduduk menimbul­kan kerusakan yang hebat di daerah Solok, Tanah Datar, Agam, Bukittinggi dan Padang Panjang. Gempa ini terjadi di luar dugaan, tidak ada satupun pengamat dan peramal yang memperkira­kan akan terjadi gempa di daerah ini.

Masih pada tahun yang sama, pada tanggal 12 September 2007, terjadi lagi gempa besar dengan keku­atan 7,8 SR yang berpusat di Muko-muko, yang menghancurkan Bengkulu dan sekitarnya. Setelah gempa ini, peramal kembali berulah. Paranormal Brasil, Jucelino Nobrega da Luz, meramal­kan akan terjadi gempa 8,5 SR dan tsunami yang justru didapat melalui mimpi, bukan berdasarkan kajian ahli gempa. Seakan tidak kapok-kapoknya, masyara­kat Bengkulu dan Padang kembali meng­ungsi, dan hasilnya juga sama, ramalan tersebut ternyata hanya omong kosong.

Kondisi diatas menggambarkan begitu kuatnya tekanan psikologis yang dihadapi warga Kota Padang. Selain per­kiraan dari pakar gempa, dan memang Padang merupakan daerah rawan gempa. Ramalan-ramalan sesat dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, ditambah lagi dengan gempa-gempa kecil yang memang sering terjadi, dan seolah-olah sudah menjadi keseha­rian bagi warga Kota Padang. Apalagi menyaksikan parahnya dampak gempa yang terjadi di Aceh, Yogja, Padang Panjang, Bengkulu dan terakhir di Tasikmalaya.

Tekanan yang begitu kuat membuat warga lebih memilih bersikap pasrah. Judul diatas seolah-oleh menggambarkan kesombongan penulis yang seakan-akan mengharapkan datangnya gempa. Akan tetapi itu sebenarnya representasi dari bagaimana tertekannya warga sampai-sampai mereka berfikiran bahwasanya, “kalau memang akan terjadi gempa besar terjadilah, setelah itu mungkin kita bisa memulai dan menjalani hidup dengan tenang.”

Ungkapan diatas menggambarkan betapa lelahnya masyarakat hidup di bawah ‘teror’ gempa besar yang tidak bisa dipastikan kapan akan terjadi. Dan setelah mampir kesana kemari pada akhirnya memang pada hari Rabu tanggal 30 September 2009, tepatnya pukul 17:16 WIB, gempa berkekuatan 7,6 SR —  belakangan diralat menjadi 7,9 SR” — yang berpusat di barat daya Pariaman. Gempa ini bukan hanya menghancurkan Kota Padang, tapi juga Pariaman, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, serta sebagian Pesisir Selatan dan Kab. Solok. Walaupun tidak terjadi tsunami, akan tetapi daya rusaknya sungguh luar biasa. Padahal selama ini pemerintah justru lebih menitikberatkan antisipasi terhadap ancaman tsunami.

Kalau lah terjadi tsunami, mungkin tidak terbayangkan apa yang akan terja­di. Tempat ketinggian yang merupakan lokasi aman dari ancaman tsunami, justru rawan terjadi longsor. Seperti di Kab. Padang Pariaman dan Kab. Agam, long­soran telah menimbun perkam­pungan dan mengubur hidup-hidup penduduk­nya. Saat ini akibat gempa banyak bukit-bukit yang dalam kondisi kritis dan rawan longsor. Di Sitinjau bahkan, longsoran tanahnya telah memakan korban salah seorang anggota DPRD Sumbar dari PPP, yang pergi mengamankan isterinya ke Solok, karena masih trauma dengan gem­pa. Sekali lagi gempa ini kembali membalik­kan per­kira­an pakar, penga­mat, apalagi peramal. Siapa yang menyangka Pariaman, Pa­dang Pariaman, dan Agam akan mengalami kerusakan sebegitu parahnya. Adakah antisipasi akan ancaman longsor yang demikian hebatnya.

Lantas ke mana pergi­nya tukang ramal yang selama ini menebar teror di masyarakat, di mana Mama Loren, Juce­lino Nobrega da Luz? Adakah mereka ber­suara sebelumnya, adakah mereka memperkira­kan gempa ini akan terjadi? Masihkan kita mempercayai orang-orang yang selama ini menebar teror dan kebohongan di tengah masyarakat. Masihkah kita mempercayai ramalan-ramalan yang tidak terbukti kebenaran­nya dan menyesatkan.

Dari semua fakta yang terjadi di atas, dan dengan terjadinya gempa di Pari­aman, apakah teror sudah berakhir se­hing­ga masyarakat bisa memulai hidup baru dengan tenang? Ternyata tidak, saat ini kembali ber­edar isyu yang entah dari mana sumber­nya, yang mengatakan akan terjadi gempa susulan dengan skala yang lebih besar, dan kita masih saja memper­cayainya. Selama kita masih ‘menuhan­kan’ tukang ramal, selama itu pula hidup tidak akan bisa tenang. Akhirnya kepada Allah lah kita kembali.1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: