Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

ERY MEFRI, Koreografer – Pimpinan Nan Jombang Dance Company

Posted by majalahsaran pada November 29, 2009

Latar Belakang Pemikiran Karya

Dipicu oleh keinginan meng¬eks¬presikan diri, dengan meyakini potensi yang ada dalam diri serta potensi budaya dan tradisi Minangkabau yang diyakini sangat kaya ide dan gagasan. Ini meru¬pakan sebatas keinginan men¬cip¬takan nuansa koreografi yang baru, yang ber¬pijak dan berakar pada karakter ma¬sya¬rakat Minangkabau, khususnya Randai.

Petatah Petitih

Petatah petitih/ pidato adat/ pasam¬bahan adat adalah sebuah tradisi yang selalu berfungsi dan dipergunakan se¬bagai dialog musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan untuk semua urusan yang menyangkut Nuansa Tradisi dan perilaku budaya di tengah masyarakat.

Dialog dan irama kata mempunyai retorika yang sangat berbeda dengan kata-kata sehari- hari.

Petatah petitih merupakan dialog yang dilakukan pada saat akan memulai sesuatu yang bernuansa adat dan buda¬ya ditengah masyarakat setempat.

Randai

Randai adalah salah satu kesenian tradisi yang masih tetap hidup dan ber¬kembang di tengah keseharian masya¬rakat Minangkabau. Boleh dikatakan bahwa dari sekian banyak jenis kesenian tradisi yang ada maka randai merupakan salah satu jenis kesenian yang dapat bertahan secara baik.

Randai adalah satu bentuk kesenian teater rakyat yang berbasis  gerak pencak silat. Pada umumnya pemain randai memang bisa bermain silat, tapi tidan semua pesilat bisa bermain randai.

Pada randai terdapat unsur tari yang disebut Galombang. Unsur dialog diambil dari cerita rakyat. Dan musik tradisional berupa nyanyian tradisi, yang disebut dendang dan tepukan tangan, pukulan pada tubuh, dan yang paling spesifik adalah pukulan musik pada celana yang disebut galembong. Uniknya semua pemain serba bisa, ikut menari, pemain dialog, dan sekaligus pemain musik. Dan randai ini dari awal sampai selesai selalu berbentuk ling¬karan dan berdurasi satu jam sampai satu malam.

Pesan-pesan yang disampaikan melalui Randai — yang juga dapat disebut sebagai teater rakyat — meng¬kom¬binasikan tari, musik dan teater dengan irama dialeg tersendiri, menja¬dikan ia sesuatu yang sangat penting untuk direnungkan.

Tari Piring

Tari piring menggambarkan per¬mainan ketrampilan dan ketangkasan anak nagari dalam berkesenian yang zaman dahulunya dilakukan oleh anak-anak muda pria pada saat pesta panen padi di tengah sawah. Dalam kisahnya turun temurun, piring yang digunakan untuk menari adalah piring yang dipakai sewaktu makan. Awalnya piring-piring tersebut berisikan makanan gorengan, gulai, sayuran yang membuat piring men¬jadi licin. Tanpa dicuci, para pemuda langsung saja menarikannya dengan me¬nunjukkan ketrampilan, keuletan, kecer¬dasan tanpa menjatuhkan piring dari telapak tangannya.

Pada umunya setiap daerah di Suma¬tera Barat (Minangkabau) memiliki kese¬nian Tari Piring. Hal demikian terjadi turun temurun, dan ketrampilan berkesenian ini menjadi sebuah tarian khas di Minang-kabau, yang menambah fungsinya untuk acara pengangkatan penghulu, pesta perka¬winan (baralek), acara adat nagari, dan acara lainnya yang memerlukan tampiln¬ya sebuah kesenian khas anak nagari. Perkembangan waktu saat ini anakanak perempuan juga sudah menarikan tari ini.

Sebagai Koreografer

Basic tradisi Minangkabau yang menjadi rambu-rambu untuk melahirkan karya-karya kontemporer, acuan atau pijakan tetap tidak terlepas dari Adat Minangkabau. Dalam setiap karya, unsur kuat tradisi menjadi ruh, spirit yang sa¬¬ngat spesifik pada nuansa gerak, tekhnik hingga falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” (alam adalah guru) yang mengakibatkan akar tradsi Minangkabau dan akar tradisi alam Minangkabau meru¬pakan pasangan nilai-nilai yang seja¬lan dalam menjalani aktifitas koreografi.

Seperti hal sama pentingnya saat kita harus mempertanyakan dan mengkaji keberadaan unsur modern dan unsur tradisi. Bagi saya, semakin terkait pada bentuk atau nilai-nilai modern, maka kian tinggi pula tantangan kita untuk menoleh ke akar tradisi. Masuknya unsur modern, adalah bagian pengayaan tradisi yang pada dasarnya tidak merusak satu sama lain, melainkan saling melengkapi dan mengisi.

Sebagai koreografer, kepekaan dan kejelian dalam memaknai tradisi untuk kebu¬tuhan konsep koreografi, pan¬dangan saya yang selalu khusus ter¬hadap karakter tradisi itu sendiri, men¬jadikan kewajiban dan keseharian gerak manusia adalah rangsangan dan bias koreografi saya sebagai koreografer.

Kolaborasi ketiga bentuk ini, seperti: petatah petitih, randai dan kedisiplinan koreografi yang saya jalani, memberikan harapan dan memunculkan keyakinan bahwa sesuatu yang baru akan dapat dihadirkan apabila kita mau merenung dan menyediakan waktu untuk disiplin dan kerja keras. ERY MEFRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: