Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Esha Tegar Putra, Sastrawan Muda dari Saniangbaka

Posted by majalahsaran pada November 29, 2009

Namanya Esha Tegar Putra, sehari-hari akrab dipanggil Esha. Ia lahir di Solok, Sumatra Barat, 29 April 1985, dan besar di nagari Saniangbaka, sebuah nagari kecil di tepian danau Singkarak. Esha adalah anak pertama  dari lima ber¬saudara dari pasangan Elvi Candra S.Pd dan Suryadi Danil.  Sekarang Esha Sedang studi di jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas/ Unand (angkatan 2005) dan pernah  menjabat sebagai Ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) di kampus tempat Esha menimba ilmu.

Selain kuliah, Esha menyibukkan diri malalui kegiatan  menulis puisi, cerpen dan essai. Berbagai karyanya pernah dimuat di ber¬bagai media cetak, antara-lain koran Singgalang, Padang Ekspres, Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Seputar Indonesia, Jurnal Puisi, Bali Pos, Riau Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Posmetro Jambi, Jurnal Kreativa, dan di berbagai situs Internet.

Esha tergabung dalam antologi Herbarium (2007), Kampung dalam Diri (2008), dan Pelabuhan Desember (2007) dan Kegiatan lain yang diikuti  adalah  bergabung  di Komunitas Daun, Ranah Teater, Teater Rumah Teduh dan menge¬lola Rumah Kreatif Kandangpadati.

Selain itu, Esha juga aktif sebagai anggota Dewan Kesenian Suma¬tera Barat (DKSB). Beberapa kali diundang membacakan puisi dalam pertemuan penyair Sumatera dan Nasional, antara-lain di Payakumbuh (2008) dan di Bangka Belitung (2009). Terakhir Esha di¬undang  menjadi pembicara pada Temu Sastrawan tingkat International “ Ubud Writer & Reader Festival International”, yang berlangsung  di Bali  dari tanggal  6 s/d  12 Oktober 2009 lalu. Esha tercatat sebagai penyair termuda yang diundang dalam acara tersebut.

Berbagai prestasi dan penghargaan pernah diraih oleh anak Saningbaka yang satu ini. Diantaranya adalah penghar¬gaan Sastra Award dari Fakultas Sastra UNAND tahun 2008 dan 2009; peng¬hargaan sebagai Penulis Terbaik Sumbar tahun 2007dari Taman Budaya Padang; Nominasi Esai Seni dan Budaya tahun 2009; Nominasi Puisi Radar Bali tahun 2009, serta juara dan nominasi  lomba cipta puisi  tingkat daerah dan nasinal  lainnya.

Semua prestasi yang diraih  penyair muda ini   merupakan buah dari ketekunan dan kerja keras, belajar menulis secara otodidak, dan selalu disiplin dalam berkarya. “Sebagai pemula, saya menar¬getkan tiap malam harus ada karya  yang saya hasilkan,” ujarnya. Sekarang Esha lebih suka  menulis berdasarkan ide yang datang, biar karya  lebih maksimal.

Di sela kesibukannya, Esha sempat  bertemu  dengan  SARAN  dan  berbagi cerita di sebuah kafe  Fakultas Sastra kampus Unand. Pada kesempatan itu,  Esha bercerita bahwa  Esha telah meram¬pungkan suatu karya antologi tungg¬alnya, dengan  judul “Pinangan Orang Ladang”.

Dalam  kumpulan puisi terse¬but, ia  mengangkat  dan membandingkan realita kehidupan  masyarakat  yang  ber¬ju¬ang hidup di perantauan, dengan orang kampuang yang kesehariannya hidup sebagai petani yang tinggal di ladang. Buku  yang terdiri dari lebih seratus halam tersebut dicetak  sebanyak  1500 eksamplar  di salah satu  percetakan di Yogyakarta. Karena banyaknya peminat¬nya. Buku tersebut habis laris terjual.

Dalam  berkarya Esha, mempunyai motto : kalau  ingin melakukan  sesuatu lakukan dengan sungguh-sungguh.  Sebetulnya  bakat Esha  sudah terlihat  sewaktu  masih duduk dibangku SLTP 4 X Koto Singkarak (SMP Pinang Saniang¬baka). Esha sering punya kebiasaan yang dianggap pelamun. Kadang membuat    Evi Candra  S.Pd — guru di sekolah ter¬se¬but, yang tak lain adalah ibu kandung¬nya — menjadi khawatir dan curiga. Kadang  kebiasaan tersebut dilawan  dan disalurkan  melalui membaca di perpusta-kaan, walaupun ketika itu buku  di Per¬pus¬takaan SMP Pinang  masih terbatas.

Sewaktu di SLTA,  Esha sudah  mulai  mencari jati dirinya. Ia sering terkesan  berpenampilan agak urakan, sering ber¬gadang hingga larut malam, hingga teman-teman  sebagian mulai menaruh curiga. Tidak cukup sampai di situ. Sewaktu duduk di kelas III  SMAN X Koto Singkarak, sejumlah guru  sempat menganggap Esha agak kurang beres.  Padahal menurut pengakuan yang tulus  kepada kedua orang tua, Esha ndak ado manga-manga.    Akhirnya pihak sekolah  SMAN X koto Singkarak tetap  bersi¬kukuh untuk mengeluarkan  Esha  itupun didasari oleh permintaan orang tua.

Seolah tidak ada lagi pilihan, kecuali harus meninggalkan SMAN X Koto Singkarak,  maka  Esha didaftarkan  ke SMAN 3 Solok. Di sanalah Esha menamatkan  dan mendapatkan ijazah SMA. Dan luar biasanya, ketika itu  Esha bahkan lulus dengan nilai yang sangat bagus, sementara teman-temannya banyak yang tidak lulus.

Ijazah SMA diperoleh setelah melalui perjuangan yang hebat. Esha coba  bersaing di SPMB, namun ketika itu Esha belum beruntung. Untuk sementara Esha berencana menjatuhkan pilihan atau keputusan pergi merantau, seperti lazimnya kebanyakan  teman–teman sekampuang.  Dua tahun merantau ke Bandung, dengan suatu tekad mencari  pengalaman.  Ia pernah mencoba bekerja sebagai pelayan toko, atau jadi anak buah orang. Terkadang  masalah tempat tinggalpun numpang dengan sesama teman yang senasib sepenanggungan di rantau orang.

Suka-duka di perantauan menum¬buhkan  kemauan yang kuat untuk kuliah. Akhirnya, tahun 2005, jadilah Esha menyandang status mahasiswa. Pada semester 1 dan 2  Esha,  lebih banyak menyesuaikan diri dengan  kehidupan kampus, dan masih  terfokus pada mata kuliah. Ketika mengikuti kegiatan ekstra kampus,  dalam hal ini adalah kelompok sastra, Esha mulai tertarik dan terjun langsung ke dalam dunia kesusateraan.

Lika liku hidup yang telah  dilalui,  mulai sejak kecil  hingga sekarang, membuat  Esha menjadi tegar dalam menggapai cita –citanya, sesuai dengan nama lengkapnya Esha Tegar Putra. Ketekunan  dalam  mengeluti dunia sas¬tra  membuat  dirinya  lebih bisa mandiri dalam bidang finansial, setidaknya bisa meringankan beban orang tua dalam biaya  kuliah. Secara perlahan, kesung¬guhan dan kepiawaiannya  telah  meng¬antarkan Esha menjadi  sastrawan yang cukup diperhitungkan. NUSA

4 Tanggapan to “Esha Tegar Putra, Sastrawan Muda dari Saniangbaka”

  1. wah mantap, seumuran sama saya dah terkenal. hehehe

  2. miko said

    Mantap………
    SELAMAT SA………
    ASAH TARUIH…………
    AWAK SALUTE

  3. donivingky said

    mantap…………… salut buat esha, ado nan tau FB nyo ESHA?

  4. ketik se ESHA TRGAR PUTRA di Facebook/ google.heheheheheh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: