Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Kota Padang Pasca Gempa 30 September

Posted by majalahsaran pada November 29, 2009

Sore itu, Rabu tanggal 30 September 2009, tepatnya pada pukul 17.16 WIB, merupakan hari yang sangat memilukan sekaligus menakutkan bagi warga Sumatera Barat. Gempa besar dengan kekuatan 7,6 SR yang berpusat di 57 Km barat daya Pariaman dengan kedalaman 51 Km telah meluluhlantakkan Ranah Minang.

Bangunan-bangunan hancur, long­sor menenggelamkan perkam­pungan, serta ra- tusan orang meregang nya- wa tertimbun longsoran dan reruntuhan bangunan. Masyarakat berhamburan keluar rumah, dengan wajah pucat pasi. Goncangan sangat kuat berlangsung cukup lama, seakan-akan bumi ini menenggelamkan apapun yang ada di permukaannya.

Pada saat itu tsunami menjadi mo­mok yang sangat menakutkan. Terba­yang bagaimana dahsyatnya tsunami di Aceh, sehingga membuat warga panik, terutama di Kota Padang yang berada di pinggir pantai. Seperti yang diceritakan oleh Damsiwar, yang saat gempa terjadi terjebak di dalam Sentra Pasar Raya. “Keti­ka saya sudah keluar sekitar sete­ngah jam setelah gempa terjadi orang berteriak-teriak bahwasanya tsunami akan datang, sehingga warga berham­buran berlari kesana kemari bak semut, berusaha menyelamatkan diri,” Walau­pun pada akhirnya tsunami tidak terjadi.

Warga berbondong-bondong menu­ju kearah timur yang berada di ketinggian untuk menghindari tsunami, baik dengan jalan kaki maupun menggunakan ken­daraan bermotor. Jalanan Kota Padang macet total, karena mereka menuju ke arah yang sama, yaitu Indarung, Limau Manis dan Lubuk Minturun yang merupakan daerah perbukitan. Padang – Indarung yang dalam keadaan normal bisa ditempuh dalam waktu setengah jam, kali ini sampai enam jam. Seperti yang diutarakan Zulheldi yang pada saat kejadian gempa sedang berada di Lu­buk Buaya. Untuk menuju ke ru­mahnya,  yang berada di Kuranji, membutuhkan waktu 4 jam, padahal jaraknya tidak lebih dari 15 Km. Gesekan-gesekan kecil sesa­ma ken­daraan tidak dihiraukan lagi, yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana secepatnya menjauh dari bibir pantai.

Titik api terlihat di beberapa lokasi, yang berasal dari rumah dan gedung yang terbakar, seperti di Plaza Andalas, Sentra Pasar Raya, Kawasan Pondok, dan beberapa rumah penduduk. Sesaat setelah gempa, listrik langsung mati total dan begitupun dengan sinyal ponsel. Membuat kota Padang seperti kota mati.

Warga takut masuk ke rumah, karena khawatir akan terjadi gempa susulan. Mereka mulai membentangkan tikar dan membangun tenda di halaman rumah.  Suasana menjadi tambah mencekam karena menjelang malam, hujan mulai turun, sedangkan sebagian besar warga tidur beralaskan tikar diluar rumah, takut akan terjadi gempa susulan. Akhirnya sebagian dari mereka nekat tidur d iteras atau didalam rumah, walaupun berada dibawah ancaman bangunan rumah yang sudah retak-retak, yang sewaktu-waktu bisa saja runtuh menimpanya.

Sementara itu, di pusat kota banyak yang terjebak di bawah reruntuhan ba­ngunan, karena sebagian besar gedung bertingkat di kota Padang runtuh. Seperti di Hotel Ambacang, Bimbel GAMA, Adira Finance, Sentra Pasar Raya, dan gedung lainnya. Diyakini ratusan orang terjebak di dalam bangunan-bangunan tersebut, namun sulit bagi tim evakulasi untuk menyelamatkan mereka. Dikarena­­kan malam yang gelap, karena listrik mati, dan keterbatasan alat, serta di bawah guyuran hujan. Akhirnya proses evakuasi baru dimulai pada keesokan harinya. Mayoritas ‘showroom’ kenda­raan dan hotel-hotel ber­bintang yang banyak roboh, kalaupun masih berdiri akan tetapi keadaannya sudah miring dan tidak layak lagi untuk ditempati. Mobil dan sepeda motor ba­nyak yang terhimpit dibawah reruntuhan bangunan.

Sehari setelah gempa krisis mulai melanda, krisis air karena instalasi listrik dan PDAM banyak yang rusak. Kabel listrik berserakan dijalan, karena tiang-tiangnya banyak yang tumbang. Begitu juga dengan krisis BBM dikarenakan hanya sebagian dari SPBU yang ber­operasidan terputusnya pasokan untuk Kota Padang. Antrian kendaraan dan warga yang membawa jerigen memadati SPBU yang beroperasi, antrian memblu­dak sampai ke jalan. Di warung-warung pinggir jalan harga minyak bisa mencapai Rp. 20.000/liter. Selain itu krisis air membuat warga banyak yang meman­faat­kan ‘tangaya’ untuk mandi, mencuci atau sekadar mengambil air untuk kebu­tuh­an sehari-hari. Kondisi ini mengingat­kan kita pada kondisi ‘tangaya’ pada tahun 80-an. Dimana sebagian besar warga mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap keberadaan ‘tangaya’.

Di belahan lainnya, tidak terbayang­kan bagaimana keresahan sanak kelu­arga mengingat keberadaan Saudara-saudara mereka yang ada di Padang. Karena sarana informasi ter­putus total. Akibatnya banyak diantara mereka yang datang ke Padang untuk menjemput keluarganya, dan membuat akses ke Padang jadi sulit. Jalan Padang-Padang Panjang putus total karena longsor di Silaing. Sedangkan jalur Solok-Padang yang menjadi satu-satunya alternatif juga mengalami longsor di beberapa titik, bahkan di Sitinjau badan jalan tinggal separuh, walaupun masih bisa dilalui. Beradunya antara arus pengungsi dari Padang yang menuju ke Solok dengan mereka yang menuju ke Padang membuat jalan jadi macet total. Menurut penu­turan Albar salah seorang pengendara mobil, yang pada hari kamis itu menjem­put ke­luarganya ke Padang, saking macetnya, dia yang berangkat dari Padang pukul 5 sore baru sampai di Solok keesokan harinya pada pukul 9 pagi.

Sinyal telkomsel — yang mayoritas digunakan di Sumbar — baru muncul pada jum’at sore. Setelah itu telpon tidak berhenti berdering dari keluarga untuk menanyakan keadaan. Padatnya jalur komunikasi membuat telpon sering terputus. Pada saat itu mungkin ke­panikan sedikit bisa terobati, terlepas dari bagaimana kondisi keluarga, apakah selamat atau menjadi korban.

Selain banyaknya korban jiwa, dan hancurnya tempat usaha, rata-rata rumah penduduk di Padang mengalami kerusakan, setidak-tidaknya retak-retak. Dari ratusan korban jiwa, Alhamdulillah tidak satupun yang berasal dari IWS Padang. 1

Tim Relawan Gempa IWS Padang

Penasehat : Abel Tasman, SS

Penanggung Jawab : Tasman Dt. Tan Manggagar, SH, MH

(Ketua IWS   Padang)

Ketua : M. Sobri, SHI

Sekretaris : Dery Andri, S.Si

Bendahara : Eka Karjoni, A.Md

Publikasi : Andi Saputra, S.Kom

Dokumentasi : Mhd. Adri, MT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: