Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Mengalir Tanpa Bunyi

Posted by majalahsaran pada November 29, 2009

Saya lahir di Saningbakar, Solok Sumatera Barat, pada 23 Juni 1958, dan koreografi pertama saya lahir pada tahun 1983, berjudul “NAN JOMBANG”. Karya perdana ini sekali¬gus menjadi nama group yang  saya diri-kan dan saya pimpin.

Prosesnya saya rasa waktu itu di¬picu oleh keinginan untuk meng¬ekspresi¬kan diri, dengan meyakini potensi dalam diri serta potensi budaya dan tradisi Minangkabau yang Saya yakini sangat kaya ide. Gagasan¬nya sederhana saja, waktu itu mungkin sebatas keinginan menciptakan nuan¬sa koreografi yang baru, yang tetap berpijak dan berakar pada karakternya tradisi (ruh/spirit) bukan bentuk fisiknya, melainkan sebuah misi dari pemikiran dan kecerdasan seorang koreografer.

Proses koreografis yang sangat penting dan sangat mempengaruhi karya- karya tari saya sampai saat ini, karena saya lahir dan hidup di tengah- tengah keluarga seniman tradisi, yang memiliki paham dan anutan tradisi yang kuat.

Ayah saya Jamin Manti Jo Sutan (al¬mar¬hum) dikenal sebagai  seorang penari tradisi dengan akar tradisi yang kuat, sementara Ibu Nurjanah adalah seorang penenun benang emas. Dan uniknya, saya tidak pernah belajar atau diajarkan menari  piring secara lang¬sung, tapi saya sangat mahir me¬mainkannya.

Ini adalah proses sejak saya ber¬umur tiga tahun, dimana  setiap dua ka¬li seminggu saya selalu duduk dan ti¬duran di pangkuan ayah melihat    orang menari piring dan mendengar musik saat ayah memainkan musik tari piring yang sedang berlatih. Dan pada umur lima tahun saya langsung saja bisa menarikannya, di saat pesta perkawinan (baralek).

Faktor lingkung¬an adat dan tradisi Minangkabau kedua orangtua yang apresiatif terhadap seni tradisi dan kemudian pilihan saya yang menjadi¬kan tradisi akar penting untuk peng¬garapan karya kontemporer, dan me¬ru¬pakan paduan yang menyemangati kelahiran koreografi saya sampai saat ini.

Sebagai koreografer yang mela¬hir¬¬kan karya-karya kontemporer, acuan atau pijakan tetap tidak terlepas dari adat Minangkabau. Dalam setiap karya, unsur kuat tradisi menjadi ruh, spirit yang sangat spesifik pada nuansa gerak, tekhnik hingga filsafah “Alam Takambang Jadi Guru” (Alam terkembang adalah guru) yang mengakibatkan akar tradisi Minang¬kabau dan alam tradisi Minangkabau merupakan pasangan nilai- nilai yang sejalan dalam menjalani aktifitas koreografi.

Sama pentingnya saat kita harus mempertanyakan dan mengkaji kebe¬radaan unsur modern dan unsur tra¬disi. Bagi saya, semakin terkait pada bentuk atau nilai- nilai modern, maka kian tinggi pula tantangan kita untuk menoleh keakar tradisi. Masuknya unsur modern, adalah bagian penga¬yaan tradisi yang pada dasarnya tidak merusak satu sama lain, melainkan saling melengkapi dan mengisi.

Sebagai koreografer, kepekaan terhadap keseharian dan kejelian da¬lam memaknai tradisi untuk kebu-tuhan konsep koreografi sangat di¬perlu¬kan. Pandangan saya yang ter¬lalu khusus terhadap karakter tradisi itu sendiri, menjadikan kewajaran dan keseharian gerak manusia yang saya buat mengalir dan selalu mengalir, hingga tanpa bunyi, adalah rangsang¬an  dan bias koreografi saya sebagai koreografer.

Karakter dari ketradisian Minang¬kabau, menjadi pusat pengembangan dan sumber penemuan saya. Bahwa gerak  wajar manusia merupakan inti dan sumber pemunculan jati diri karya kontemporer saya. Dan sebagai koreo¬grafer, musik merupakan nafas dari karya tari yang saya salurkan melalui penari. Hingga setiap produksi karya, alat-alat musik berusaha dikurangi dan digunakan seminimal mungkin. Kare¬na bagi saya “teriakan kesakitan kita, tak mungkin disuarakan orang lain”. ERY MEFRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: