Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Seni Budaya Saniangbaka Antara Realita dan Harapan

Posted by majalahsaran pada November 29, 2009

Tari Tan Bentan merupakan cuplikan kisah perebutan Puti Bungsu oleh Imbang Jayo dan Cindua Mato. Karena kesaktiannya, Cin¬dua Mato berhasil mengalahkan Imbang Jayo. Tari ini terdiri dari lima bagian yang merupakan peris¬tiwa perseteruan antara Cindua Mato dengan Imbang Jayo: Pada-pada (pado-pado), Dendang-dendangan, Adau-adau, Din-din dan Jundai.

Pado-pado adalah pengungkapan filosofis dalam bentuk gerak tari dari ungkapan; babuek baik pado-padoi, babuek buruak sakali jaan. Dendang-dendangan, lagu-lagu menyenangkan yang dibawakan Cindua Mato di hadapan Imbang Jayo supaya Imbang Jayo tak mencurigai Cindua Mato.

Adau-adau adalah cerita atau lagu yang disampaikan Cindua Mato untuk mem¬buat Imbang Jayo tertidur. Pada tahap ini Puti Bungsu ikut menari yang makin menghibur Imbang Jayo. Tertidur atau talalok dalam pengertian ini adalah talalok dalam pengertian karakter atau talalok yang dimaksudkan di sini adalah takicuah, karena Cindua Mato bermak¬sud merebut Puti Bungsu.

Din-din adalah usaha yang dilaku¬kan Cindua Mato untuk mendinginkan atau menyejukkan hati Imbang Jayo dan masyarakat Sungai Ngiang, supaya mereka tidak curiga sama sekali dengan tindakan yang akan dilakukan Cindua Mato.

Jundai berkisah tentang serangan atau perang batin yang dilakukan Cindua Mato terhadap Imbang Jayo. Imbang Jayo akhirnya kalah dan bangun dari tidurnya dalam keadaan gila (jundai). Itulah makna tari Tan Bentan yang sering ditampilkan Manti Menuik.

Randai  Ilau yang merupakan randai khas Saniangbaka  juga mengisahkan   Cindua mato dan Puti Bungsu. terdiri dari  tujuh episode  dengan  12 macam ge¬rakan. Setiap episode mempunyai ge¬rakan  yang yang tidak  sama. Inilah yang membuat berbeda dengan  randai daerah lainnya. Gerakan yang lincah  dan menarik, membuat  setiap orang berdecak  kagum dan  terpesona.

Berbagai ragam seni  tradisional Mi¬nang¬kabau khas budaya Saniangbaka tersebut sudah sering diundang tampil dalam kegiatan pementasan seni yang berskala lokal maupun nasional. Tari Adok, tari Tan Bentan, randai Ilau, dan lain sebagainya, pernah tampil  antara-lain di Taman Budaya Padang, Taman Ismail Marzuki Jakarta,  TVRI, RRI Padang.  Juga sering tampil mememenuhi  undang¬an, mengisi kegiatan seni pada waktu baralek, baik di kampuang maupun di rantau.

Tampil dan dikenalnya  seni budaya  Saniangbaka  oleh masyarakat banyak  tersebut tidak lepas dari kepiawaian dan  keseriusan  tokoh pendahulu  yang ber¬giat dibidang seni tradisional. seperti Mendiang  Jamin Pado, Mendiang Manti Menuik.dll.

Kegiatan Penggiat Seni  Budaya Tradisional

Di tengah kemajuan zaman  dan derasnya arus informasi serta globalisasi seperti  telah beragam dan canggihnya dunia hiburan sekarang ini, kadang membuat  orang mudah  melupakan hal-hal yang bersifat Tradisonal   termasuk contohnya dalam pengembangan dan pelestarian  seni budaya tradisional minang.  Penggiat seni  budaya di Saniangbaka  seakan ditantang  agar bagaimana    seni budaya yang dimiliki   tetap lestari dan  diminati  oleh lapisan  masyarakat.

Penggiat seni  di Saniangbaka   sekarang ini seperti Dt Bagindo Nan Gadang, Manti Talelo Basa, Suar Tan Marajo, Tarsril Tan Marajo Asrius, Evi Candra SPd dan  Anak mudo lainnya sebenarnya   tetap mengupayakan  latih¬an secara berkala. Hal ini di lakukan demi keberlanjutan  atau kelestarian seni bu¬daya Saniangbaka di masa  mendatang.

Pada masa  pemerintahan  Saniang¬baka sebelum sekarang ini  latihan dan pengkaderan  seni budaya pernah di¬adakan  di Rumah Gadang Bawah Ka¬luang  milik Tarmizi Mkt Sutan (mantan Wali Nagari Saniangbaka) .Sekarang ini setidaknya ada dua tempat latihan yang masih mempunyai anggota  atau anak mudo yang aktif  yaitunya di rumah Bapak Suar Tan Marajo di suku Tanjung Guci dan di rumah Asrius  di Lapau Mang¬gih yang  siap  menampilkan  hasil latihan manakala ada undangan

Pendidikan Sekolah  sebagai  Media strategis  Pewarisan Seni  Budaya Tradisonal

Dengan adanya  KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang di¬berlakukan pemerintah di setiap jen¬jang pendidikan sekarang ini,  sebenarnya memberi peluang kepada setiap daerah untuk menggali dan mengembangkan materi ajar sesuai dengan  potensi daerahnya masing-masing. Dalam mata pelajaran kesenian, misalnya,  di sana ada kesenian tradisional yang bisa di¬masukkan dan dikembangkan lagi dalam materi ajar Muatan Lokal dan pengem¬bangan diri yang harus dikuasai oleh anak didik.

Pembelajaran Muatan lokal dan pengembangan diri pada suatu sekolah, dalam ketentuannya  tidak mutlak harus di ajarkan oleh  guru tetap yang ada di sekolah tersebut. Pengajarnya bisa didatangkan dari  individu kelompok masyarakat yang memiliki  kualifikasi dan kompeten di bidang tersebut. Jadi untuk menularkan  dan menanamkan kecintaan terhadap seni budaya tradisional kepada   pelajar di Saniangbaka, sekiranya pihak sekolah tidak mempunyai tenaga yang mampu di bidang ini,  maka bisa saja memberdayakan atau bekerjasama dengan komunitas  seni yang ada di kenagarian Saniangbaka.

Perlu Apresiasi terhadap kegiatan seni Budaya Tradisional

Sebuah karya seni yang ditampilkan    oleh penggiat di bidang seni, tentu tidak jadi begitu saja. Semuanya  melalui proses  yang tidak gampang, mulai dari merekrut  anggota, belajar menguasai konsep ge¬rakan,  menjiwai tema dengan melalui  latihan yang berulang kali, dan sete¬rusnya. Jadi, untuk siap disajikan atau ditampilkan, suatu karya seni memer¬lukan proses yang menuntut pengor¬banan waktu dan tenaga.

Lantas, bagaimana semestinya kita — sebagai anggota masyarakat di luar komunitas tersebut — menyikapinya ?. Suatu hal yang patut  dilakukan adalah memberikan penghargaan  yang  baik atas jerih payah  para penggiat seni tersebut. Sekali-kali jangan  pernah ada  sikap yang terkesan kurang  menghargai.

Seperti dikisahkan oleh  Ibu  Elvi Cendra  S.Pd., salah seorang Guru  SMPN  4  Saniangbaka  yang sehari-harinya adalah juga   peng¬giat seni. Beliau mempunyai pengalaman   yang kurang enak dengan sikap  seba¬gian masyarakat, katakanlah panitia  acara  dalam suatu  pementasan randai  oleh anak didiknya, sehingga  anak didiknya  merasa kecewa dan hanya bisa menangis

Pengalaman lain yang juga dialami oleh penggiat seni  Manti Talelo Basa.   Sua¬tu waktu, beliau  mengikuti undangan kegiatan Pekan Budaya Kabupaten Solok di Danau Kembar. Seyogyanya setiap na-gari mengutus jumlah  peserta yang ba¬nyak untuk mengikuti kegiatan ter¬sebut. Akan tetapi, karena kurangnya  koor¬dinasi, kurangnya persiapan dana, dan macam-macam kekurangan lainnya,  maka Saniangbaka  hanya tampil dengan jumlah peserta yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Peristiwa itu menjadi buah pertanyaan bagi banyak peserta lainnya.

Persoalan yang menjadi hambatan

Apapun bentuk kegiatan yang akan di langsungkan, selalu terkait  dengan persoalan dana. Apalagi  masalah uang yang terbilang sensitif . Salah seorang anak mudo yang pernah aktif dalam kelompok latihan,  yang tidak mau disebut namanya, pernah  mengeluhkan  kurang transparannya pengelolaan keuangan. Semestinya,   kalau ada hasil  pementasan,  maunya bajaleh–jaleh, jangan  jadikan orang lain sebagai obyek. Kalau bajaleh-bajaleh,  para donatur juga tidak akan segan-segan memberikan sumbangsih¬nya. Sekecil apapun dan dari manapun sum¬ber dananya,  harusnya bisa diper¬tanggungjawabkan.

Melihat perkembangan  seni budaya  anak nagari, sudah saatnya peme¬rin¬tahan nagari Saniangbaka untuk  turun ta¬ngan  megelola aset  seni budaya atas nama nagari. Dengan demikian hal ihwal seperti aoal kepengurusan, keanggotaan, pendana¬an. tempat  latihan, dan lain seba¬gainya, bisa dibicarakan dan dise-pakati secara musya¬warah.  Kapan perlu dibuat sema¬cam sanggar untuk pelatihan dan pe¬ngem¬bangan seni budaya Saniang¬¬baka, yang dikelola secara profesional.

Secercah harapan  demi Seni Budaya Saniangbaka

Kegiatan  seni budaya  tentu tidak bisa lepas dari masalah pendanaan, un¬tuk penanggulangan biaya latihan seni  budaya Saniangbaka dan dalam rangka memenuhi undangan penampilan seni budaya,  para penggiat seni selama ini tidak semestinya tangannya  harus di bawah terus, kepala harus mendekur, mata harus dilindapkan agar orang hiba. Perlu dipahami bahwa hidup tidak¬nya seni budaya Saniangbaka di masa mendatang menjadi tanggung jawab  semua masyarakat.   Apabila  seni budaya produk khas Saniangbaka  ini terabaikan atau luput dari perhatian pemerin¬tahan nagari dan pemuka masyarakat, jangan kaget jika suatu waktu warisan seni budaya yang menjadi kebanggaan Saniang¬baka kan tinggal nama dan kenangan. Untuk itu  perlu diupayakan  suatu langkah  pembinaan dan pengelolaan secara profesional. Semoga.  NUSA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: