Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Wawancara Khusus SARAN dengan Koreografer Ery Mefry

Posted by majalahsaran pada November 29, 2009

Tak Pernah Diutus Pemda Sumbar, Tapi Dikenal di Luar Negeri

Karantau Madang di Hulu
Babuah Babungo  Balun
Ka Rantau Bujang Dahulu
Di Kampuang Pangguno Balun

Pantun ini agaknya telah menjadi darah daging bagi generasi muda di Minang¬kabau (Sumatera Barat). Kaum muda di Ranah Minang pergi kerantau, pergi membawa kekurangannya, karena di kampuang sendiri tak punya apa-apa, di kampuang sendiri dianya belum berguna dan bermanfaat. Bertolak dari pantun ini pulalah  telah terbuka inspirasi Ery Mefri  seorang  koreografer muda dalam meng¬garap sebuah nomor tari  dan diberi judul “Rantau Berbisik”

Ery Mefri lahir tahun 1958 di Sa¬niang¬baka, anak dari pasangan (Alm) Jamin Manti Jo Sutan ( Manti Menuik ) dengan Nurjannah suku Sumpadang, seorang penjahit sulaman benang emas. Titisan darah  dan jiwa seni  dari abaknya   ditambah dengan  pengalaman sewaktu  masih kecil ketika berusiatiga tahun, sering diajak  abaknya melatih anak mudo basilek, manari, berandai, sehingga  sering takalok sorang di pangkuan  abak,  ketika  abaknya  memainkan musik dan dendang .

Apa yang terserap oleh mata  dan telinga Ery Mefri kecil, memberi kecer¬dasan tersendiri, mengalirkan spirit dalam berkarya, sehingga  mengantar¬kan¬nya menjadi seniman yang  dikagumi  banyak orang, terutama bagi yang memahami arti sebuah karya seni.  Isteri dan keempat anaknya —  Angga Mefri, Rio Mefri, Geby Mefri, Intan Mefri, Ririn Mefri — semua melibatkan diri dalam dunia seni tari, group “Nan Jombang”.

Untuk mengenal  lebih dekat sosok  Ery Mefri, majalah SARAN sempat berbincang-bincang di sela-sela kesi¬bukan¬nya  di Taman Budaya Padang, lo¬ka¬si tempat dia  sehari-hari berkantor. Berikut petikannya.

Seberapa jauh pendidikan formal berkontribusi dalam kegiatan anda berkesenian ?

Setamat dari SD Negeri I Saniang¬baka saya sempat merantau ke Jakarta. Pernah manggaleh petasan di kaki limo, dan acok dikaja dek petugas keamanan, Pernah pula karajo di lapau nasi  “Ru¬mah Makan Beringin” Kebayoran, Jakar¬ta Selatan, bagian tukang cuci piring alias  tukang cebok. Tahun 1975 pulang kam¬puang, kemudian sekolah di SMP Imam Bonjol,  tamat tahun 1977, kemu¬dian melanjutkan ke SMKI Padang Panjang.

Sewaktu mau melanjutkan ke SMKI, ayah dan keluarga saya lainnya sebe¬tulnya kurang setuju. “Waang kan lah pandai manari, manga masuk sekolah manari juo lai,“ begitu kata beliau waktu itu. Tapi bagi saya sekolah di SMKI meru¬pakan pilihan hati, dan betul–betul karena minat. Akhirnya tahun 1981 saya berhasil tamat dan dapat  ijazah SMKI.

Berbekal ijazah tersebut, tahun 1982, saya merantau ke Padang. Kebetulan di Taman Budaya Padang ada lowongan kerja untuk satu orang, dan secara kebe¬tulan yang mendaftar cuma saya seorang. Maka jadilah sampai sekarang sebagai salah seorang pegawai tetap dan bera¬ktifitas untuk seni budaya  di Taman Budaya Padang.

Mengapa anda menggunakan nama group “Nan Jombang”, dan sejak kapan   ter¬ben¬tuk¬nya ?

“Nan Jombang” berasal dari sebutan nama abak, Jombang, yang artinya :  geneang, nakal tapi disenangi orang. Nakal, baik ka padusi maupun ka yang lain, seperti dalam main sambah andai malam hari. “Nan” sebagai kata penguat yang berarti “yang”. “Nan Jombang”  disingkat dengan “NJ” (Nurjannah dan Jamin).

Group Nan Jombang lahir 26 tahun lalu, persisnya pada tanggal 1 Nopember 1983. Tahun depan, pada ulang tahun ke-27, kami sudah merancang  “Pergelaran 9 x 3  = 27”. Maknanya adalah, kami akan tampil di tiga benua, sembilan tampek dan akan membawakan sembilan  jenis pergelaran karya seni. Sekarang dalam proses penja¬jakan oleh manejer Nan Jombang, yang kebetulan isteri saya sendiri. Per¬siapan.telah dilakukan, tahun 2010 insya Allah akan direalisasikan.

Sejak kapan anda mulai menari, dan bagaimana ceritanya ?

Sewaktu  masih berusia lima tahun, saya sering mengikuti ayah saya menga¬dakan penampilan  tari dalam suatu acara adat  (baralek ) di daerah Koto Tangah. Ketika saya didaulat oleh orang Koto Tangah untuk manari, saya jadi  kaget. Katanya, ”masak anak tukang tari ndak bisa manari“. Akhirnya saya  coba beranikan diri, hingga bisa sendiri.

Apa ide dasar yang mempengaruhi karya-karya anda ?

Sebagai seorang koreografer yang melahirkan karya –karya kontemporer, saya memiliki acuan dasar pijakan dalam berkarya yang tidak lepas dari adat Minangkabau . Dalam setiap karya, unsur kuat tradisi menjadi ruh, spirit nan spesifik dalam setiap gerak, teknik menjadikan “alam takabang jadi guru”  sebagai akar tradisi karya Minangkabau.

Tradisi yang saya maksud, adalah yang digali dari  karakter urang Minang dalam keseharian, di mana saja berada. Lebih fokus, karya saya didasarkan pe¬ngem¬bangannya pada  seni tradisi, seper¬ti pada kesenian randai, tari piring, tari tan bentan, tari adok, dan lain sebagai¬nya.

Bagaimana suka-duka perjuangan anda, sehingga berhasil menjadi seniman berkelas International ?

Dari tahun 1983  sampai  tahun 2004 adalah masa-masa yang penuh dengan perjuangan yang hebat. Dipangkas, dicekal, karena banyak saingan. Karena Nan Jombang adalah kesenian Minang  bernuansa modern bersifat seni murni, maka dianggap asing, hingga sering dihujat, dihina, dicaci maki. Kadang tari  nan Jombang lah dionyoaak, namun ndak laku. Begitu nampak lah ka mulai hebat, banyak pula orang  nan maram¬pok, ndak ado ciek alah juo si Ery  Mefri tu. Begitu kata mereka.

Suatu hari, saya diundang untuk mengikuti Indonesian  Performing Art Mart (IPAM), yang dise¬leng-garakan oleh Kementerian Kebu¬dayaan dan Pariwisata di Nusa Dua Bali, pada 15 – 17 Juni 2004. Ini merupakan pertunjukkan seni berkelas internasional. Saya sendiri ketika itu sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah undangan kepada Nan Jombang “lai ndak sasek”. Biasanya Nan Jombang selalu dikebelakangkan. Akhirnya saya yakini bahwa  ini adalah kesempatan  atau pintu gerbang menuju dan membuka pintu  dunia. Para penon¬ton kegiatan tersebut  hampir seluruh¬nya utusan negara luar.

Penampilan  Nan Jombang sengaja dipersiapkan sematang mungkin, sekitar setengah tahun. Alhamdulilallah, pertunjukan Nan Jombang mendapat sambutan yang luar biasa dari para penonton, yang terdiri dari para bule-bule. Selesai pertunjukan, saya langsung diserbu, dihujani pertanyaan : ”lah bara lamo giat dalam seniman”. Saya jawab, sudah lebih kurang 25 tahun.  Mereka bertanya lagi : “kok baru sekarang pemerintah Indonesia memberi kesem¬patan anda tampil”.

Para bule itu sangat terkesan, dan menawarkan kesediaan saya untuk tampil di negara mereka. Ada dari Jerman, Australia, Inggris, Singapura, dan lainnya.

Apa prinsip hidup anda dalam berkesenian ?

Banyak orang kita berprinsip, kalau mau maju, tinggalkan ranah Minang. Bagi saya,  itu adalah sebuah prinsip yang tidak populer. Saya dalam hal ini menentang arus. Kenapa? Saya tidak akan meninggalkan Minangkabau, bisa ndak saya maju dengan prinsip demikian.

Dalam menempuh lika-liku perju¬angan hidup, saya lebih  berprinsip iba¬rat¬kan air yang mengalir, jangan pakai target, kalau pakai target membuat perjuangan menjadi habis,atau  berhenti.

Bagaimana perhatian pemerintah di  Sumatera Barat terhadap pengem¬bangan kesenian.

Secara nasional, kegiatan kesenian sebetulnya tidak pernah membuat pemerintahan negara kita, Indonesia, dirugikan. Justeru sebaliknya, dengan adanya  group kesenian, akan dapat mendatangkan devisa bagi negara.

Untuk skala Sumatera Barat, perlu diketahui, Nan Jombang  ndak pernah diutus mewakili daerah Sumatera Barat, mungkin karena Karya seni  Nan Jombang dianggap agak blak-blakan, sarat dengan muatan kritikan sosial, dan main daram. Ndak sama  dengan group kesenian lainnya yang bersifat meleng-gang lenggok,  sehingga  sering didanai serta minta dana. Artinya apa ? Saya ngak mau membawa uang  Indonesia ke luar  negeri, akan tetapi sebaliknya.

Begitu harumnya Nan Jombang  di luar negeri, maka ketika saya hendak  bepergian mengadakan pertunjukan seni Nan Jombang ke luar negeri, saya  lapor kepada Gubernur Sumbar, waktu itu masih Bapak  Gamawan Fauzi. Beliau secara spontan memberikan bantuan dana dengan jumlah yang lumayan.

Sebegitu salut dan bangganya  dengan Nan Jombang, Gamawan Fauzi waktu itu menga¬takan : ”Kalau Guber¬nur Sumatera Barat memang saya, tapi kalau Gubernur Seni Sumatera Barat, orangnya adalah Ery Mefri”.

Meskipun demikian, saya tetap berharap  kepada pemerintah daerah  Sumatera Barat agar  lebih memperha¬tikan kesenian anak nagari, yang kian hari sudah banyak yang ditinggalkan  atau tidak dilirik lagi oleh generasi muda .

Apakah anda bersedia tampil spesial untuk memeriahkan Pulang Basamo tahun 2010 ?

Saya ingin  sekali dan siap dengan penam¬pilan yang spesial untuk nagari saya, Saniangbaka yang tacinto, dalam memeriahkan kegiatan Pulang Basamo Tahun 2010. Tempatnya mungkin di aula SMAN 2 X Koto Singkarak, atau di gedung pertemuan. Dalam kegiatan tersebut  kegiatan seni anak nagari sebaiknya juga ditampilkan .

Nantinya, siapa saja, orang mana saja, boleh menyaksikan pertunjukan Nan Jombang. Tapi dengan syarat, selambat-lambatnya sebulan menjelang jadwal pelaksanaan panitia sudah  menginformasikan kepada saya.

Apa harapan anda untuk kesenian anak nagari di Saniangbaka ?

Secara pribadi saya agak prihatin kalau kesenian anak nagari tidak aktif atau ndak hiduik. Saya mengajak kepada penggiat seni yang ado di kampuang, mari kita hidupkan dan giatkan lagi kesenian anak nagari. Menurut saya, pengembangan kesenian anak nagari akan dapat menjadi media silaturrahmi, pembelajaran tentang adat serta agama. Karena dalam berkesenian anak nagari  nan tuo –tuo dapat memberikan pesan, raso, nasehat  kepada anak mudo.

Hal ini pulalah  menjadi suatu pengalaman yang saya alami, dan tak pernah saya lupakan  ketika masih di kampuang dulu. Kalau Allah SWT mengizinkan, Insya Allah saya berencana untuk membuat rumah seni  “Manti Menuik”, sebagai kenangan terhadap jasa-jasa abak dan sebagai upaya untuk melestarikan  seni tradisi di Saniang¬baka.Terakhir sebagai rasa tanggung jawab saya, insya Allah saya bersedia meluangkan waktu untuk membina kesenian anak nagari di  Sanianbaka.    NUSA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: