Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Balai Langang, Balai Gersang, Balai nan Hilang

Posted by majalahsaran pada November 30, 2009

Aku adalah kebaikan yang tidak mengenal kejahatan. Aku tidak pernah menyakiti siapapun semenjak aku dilahirkan. Tapi meskipun demikian, aku telah disembelih tanpa tahu dosa apa yang telah aku perbuat. Merobohkanku sama saja dengan melenyapkan keteduhan dan kesejukan di permukaan bumi ini.

Terlahir dan tumbuh di jantung sebuah nagari yang subur dan indah, merupakan sebuah anugerah tiada terkira yang aku rasakan. Di tempat ku berdiri denyut nadi kehidupan begitu terasa, aktifitas kehidupan ber­mula dan berpusat disini. Balailalang begitulah orang menamakannya, meru­pakan salah satu balai dari sekian ba­nyak balai yang ada di nagari Saniang­baka, seperti balaibatingkah, balai­gadang, dan balaipanjang.

Balai secara terminologi berarti pusat keramaian, sedangkan lalang berasal dari kata lalu lalang. Jadi balailalang bi­sa diartikan dengan pusat kera­mai­­an tempat orang berlalu la­lang, layaknya Alun-alun “pusat keramaian” di Pulau Jawa.

Di sini hidup terasa lebih mudah, tidak pernah aku merasakan kesepian, kekeringan dan kelaparan, apalagi yang namanya busung lapar. Semua kebu­tuhanku tercukupi di sini. Di kakiku mengalir sebuah sungai. Penduduk di sini suka menyebutnya tangaya — yang belakangan menjadi nama panggilan nagari ini, selain nama asalnya “Saniang­baka” — dengan airnya yang jernih, sela­lu mengalir tiada henti mengalunkan me­lodi alam yang bisa ku nikmati setiap saat. Walaupun sesekali amukannya mam­pu menghanyutkan apapun yang mengha­langinya, termasuk rumah-rumah yang berdiri di pinggir tangaya. Terse­dianya sumber air yang berlimpah mem­buat aku dapat tumbuh dengan baik, sehing­ga mempunyai tubuh yang besar dan kokoh.

Semua penduduk disini sangat menyayangiku, setiap hari dan hampir sepanjang waktu mereka dengan setia menemani hari-hariku. Para pemuda sa­ngat senang duduk, tidur, dan ber­senda gurau di pangkuanku. Sedangkan di kaki­ku dibangun sebuah tembok lurus “pa­lan­ta”, sepanjang lebih kurang sepuluh meter ke arah selatan, untuk tem­pat duduk dan maota sambil mele­paskan lelah selepas bekerja se­harian di sawah atau ladang. Biasanya lebih sering dimanfaat­kan oleh orang-orang yang sudah tua.

Di tengah-tengahnya berdiri sebuah carano, yang merupakan lambang peng­hormatan bagi pemuka adat Minang­kabau. Disebelah kanan carano ada dua buah anak tangga, sebagai jalan bagi war­ga yang ingin MCK ke tangaya. Anak-anak dilarang bermain di sekitar Balai­lalang. Kalau ada yang berani men­dekat, akan langsung kanai hariak untuk segera balik kanan. Suara itu akan tiba-tiba saja muncul, entah itu dari kakak, mamak, angku, atau abaknya, yang sedang duduk di palanta. Kalau sudah begitu anak-anak tersebut akan lari tunggang langgang menjauh dari Balailalang.

Aku telah ditakdirkan terlahir men­jadi pelindung bagi manusia maupun binatang dari panas dan hujan. Bahkan dedemit-pun “menurut keyakinan ma­nusia” suka berlindung di bawah ketiak­ku. Oksigen yang aku hembuskan ber­sama teman-temanku sepanjang hari mampu memberikan kesegaran dan kese­jukan kepada alam, oleh karena itu aku dijuluki sebagai salah satu paru-paru dunia.

Sampai saat ini aku tidak tahu sudah berapa lama hidup yang telah dijalani. Menurut ota palanta yang sering aku dengar, mereka meyakini umurku sudah ratusan tahun. Tapi sudahlah aku tidak terlalu memperdulikan itu semua, karena akupun ragu dengan semua itu. Bagai­mana mungkin mereka bisa memperkira­kan umurku, karena mereka hanya anak kemaren sore, yang umuanya baru se­umur jagung dan darahnya baru setampuk pinang. Yang jelas aku meru­pakan salah satu saksi sejarah kelahiran salah satu nagari tua di Minangkabau.

Tangaya yang mengalir di kakiku menjadi habitat ikan bilih “ikan-ikan kecil yang bergizi tinggi yang hanya hidup di Danau Singkarak dan anak-anak sungai yang mengalirinya, termasuk tangaya”. Layaknya ikan salmon yang hidup di sungai amazone amarika selatan, ikan bilih suka menantang arus air menuju hulu sungai, sesekali menyelinap ke bawah bebatuan dari kejaran tangan-tangan mungil yang berusaha menangkapnya.

Tangaya mengalir membelah nagari yang bundar menjadi dua kutub, yaitu barat dan timur. Balailalang pun terbagi menjadi dua, yaitu balailalang barat dan balailalang timur.

Aku berdiri di sudut perempatan Balailalang di belahan timur. Disamping kiri saya terdapat sebuah jembatan hati (titi) yang menghubungkan kutub timur dan barat dengan jalan yang sedikit menanjak. Titi dengan lantai papan, di atasnya tersusun dua baris papan pan­jang, sebanyak tiga helai perbarisnya sepanjang jembatan, yang disesuaikan dengan ukuran roda oto. Pada masing-masing pangka titi terdapat dua buah tembok miring setinggi satu meter de­ngan bagian atasnya berbentuk lancip, yang biasa digunakan sebagai tempat nongkrong oleh anak-anak muda.

Di bawah jembatan terdapat sebuah lubuk yang cukup dalam tempat anak-anak mandi, berenang menyeberangi tangaya sambil melawan derasnya arus tangaya, dengan sesekali berloncatan dari tembok yang cukup tinggi di sisi barat tangaya. Arus sungai yang deras merupakan tantangan yang ditunggu-tunggu. Sesekali mereka berlari keatas jembatan menguji adrenalin dengan terjun ke tangaya “yang mempunyai ketinggian sekitar enam meter” dengan bermacam-macam gaya, mulai dari gaya salto, patung pagoda, sampai gaya batu yang menghasilkan suara dentuman dan percikan air yang memancur tinggi akibat hempasan punggungnya. Ada juga yang hanya duduk mengambil ancang-ancang untuk terjun, akan tetapi tidak punya keberanian untuk melompat.

Karena letaknya yang strategis, Balai­lalang dijadikan sebagai pusat bis­nis terbesar oleh warga Saniangbaka. Pusat grosir, jasa angkutan, dan aneka jajanan khas tersedia di sini. Di sisi utara tempatku berdiri ada Toko Kubang yang merupakan pusat grosir yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari warga Saniangbaka, di depannya ada lapau Pak Junin yang hanya buka di pagi hari. Lapau dengan tenda seder­hana, di bawahnya ada sebuah meja de­ngan dua buah kursi panjang. Di bagian depannya juga ada sebuah palanta yang membelakangi jalan raya. Semenjak sebelum shalat subuh Pak Junin sudah mulai memanaskan air dari kompor gas “angin” di lapaunya untuk seduhan kopi, teh manis, dan teh talua untuk pelang­gannya. Nikmatnya aroma kopi, dan kocok-an teh talua-nya yang khas sudah cukup membuat perutku kenyang setiap pagi, tanpa perlu lagi mencicipinya.

Di seberang jalan, persis di depan lapau Pak Junin, tepatnya di depan tempat aku berdiri, ada pusat pertokoan yang mempunyai tiga petak ruko yang berlantai papan. Di sebelah kanan diisi oleh lapau angku kambuik, katan goreng pisang, onde-onde dengan ditemani segelas kopi siap memuaskan selera anda di pagi hari. Di siang hari berubah menjadi restoran, selain itu juga menjadi tempat berleha-leha/ tempat mangkal para pengangguran, bujang lapuak, dan pria marando tagang. Di tengah-tengahnya diisi oleh gudang bawang, sedangkan di bagian kiri miso sitomas menjadi pemuas selera pada sore dan malam hari. Di sebelahnya ada lapau mak etek, nan bagadincik dek surau bungo balailalang.

Ke arah selatan, di ujung palanta carano, juga terdapat sebuah ruko dengan tiga petak toko. Yang pertama adalah bengkel lukah katik sekaligus SPBU, penjahit kawakan Wan Khaidir di bagian tengahnya, serta paling ujung yang dibatasi oleh sebuah janjang untuk naik ke lantai atas diisi oleh lontong sinyun. Lontong sinyun “dengan gulai cubadak yang diselang-seling dengan gulai siam” adalah salah satu kuliner yang mempunyai cukup banyak pe­langgan. Karena rasanya yang khas dan nikmat, setiap pagi antrian pelanggan selalu memadati lapaunya, “yang dibagi dua dengan tempat potong rambut mak wan”. Perantau kalau sudah pulang tidak akan mau melewatkan lontong sinyun “karena rasanya yang khas”, layaknya “lontong pitalah”.

Di barat, tepatnya di belakang tem­pat ku berdiri “di seberang tangaya”, ada toko pupuk dan bangunan, serta toko kubang 1, yang selain menjual kebu­tuhan sehari-hari juga berdagang hasil bumi.

Bergeser agak ke utara, ada sebuah tanah lapang yang biasa dijadikan anak-anak untuk bermain sepakbola. Walau­pun hanya dengan saonggok rumpuik “disalah disudut yang berdekatan dengan surau batuang” anak-anak tetap berlarian dengan semangat mengejar dan menendang bola, dengan sesekali meri­ngis kesakitan karena menendang batu yang berserakan di lapangan. Teriakan pemilik rumah dipinggir lapangan, yang merasa terganggu dengan bola yang menerjang dinding dan atap rumahnya, merupakan nuansa lain di samping sorakan penonton. Pertandingan akan semakin meriah ketika ada pertandingan antar surau. Inilah uniknya nagari ini, surau bukan hanya menjadi basis untuk mengaji/ pertandingan MTQ, tapi juga untuk pertandingan sepakbola.

Selain menjadi sentra bisnis, tanah kelahiranku juga menjadi sentra pendi­dikan, salah satunya adalah makola senaw (MTsM) yang dibiayai murni dari swadaya masyarakat di kampung dan di perantauan. Sekolah berbasis Muham­madiyah dengan cat warna hijau yang menjadi ciri khasnya ini biasa dipanggil makola. Gedungnya terdiri dari dua lantai, lantai dasarnya dijadikan surau, diatasnya untuk sarana pendidikan. Sekolah senaw di siang hari, dan anak-anak mengaji pada malam harinya.

Makola layaknya kawah candra­dimuka generasi muda tangaya, di sekolah inilah cikal bakal intelektual tangaya lahir. Di subuh hari minggu, kegiatan didikan subuh begitu semarak, seperti mengaji, nyanyian, puisi. Siang harinya diramaikan oleh anak-anak ber­seragam biru putih. Sedangkan di malam hari riuh rendah suara anak-anak mengaji membelah keheningan malam.

Yang juga membuatku betah berdiri berlama-lama di sini adalah seringnya Balailalang dijadikan pusat hiburan bagi warga Saniangbaka. Setiap malam orang-orang ramai menonton TV umum yang berdiri persis di depanku. Apa­lagi ketika ada pertandingan bulutangkis yang me­nam­pilkan Lim Swie King atau Icuk Sugi­arto melawan musuh bebu­yutannya Yang Yang dari Cina.  Penon­ton akan meluber sampai ke jalan, namun tetap duduk dengan tertib. Acara musik yang paling mereka gemari adalah Aneka Ria Safari yang ditayangkan di TVRI setiap malam minggu. Setiap 17 Agustus-an panjek pinang, lomba balap karung, balap sepeda dsb. Menjadi hiburan tersendiri bagiku.

Di sini nuansa religius begitu terasa. Setiap masuk waktu shalat, senandung suara adzan akan bergema ke seluruh penjuru angin. Surau-surau yang letak­nya saling berdekatan mengisi setiap sudut penjuru angin. Surau batuang dan surau tangah di barat, surau gadang di utara, serta makola dan surau bungo di timur. Gema suara adzannya selalu meng­ingatkanku akan keagungan Illahi dan mensyukuri nikmat yang telah di­beri­kannya. Sebagai tanda rasa syukur, aku akan selalu menyembahnya dengan memiringkan tubuhku kearah kiblat.

Akan tetapi, di balik semua harmoni kehidupan dan keindahan yang tersaji, ada satu hal yang selalu mengganggu pikiranku. Seruan suara adzan dan mer­du­­nya lantunan ayat-ayat suci dari orang-orang yang bertadarus di surau-surau, tidak membuat penduduk disini merasa sungkan untuk berjudi dan menge­luar­kan kata-kata kotor yang sebenarnya sangat sulit aku terima. Bahkan mereka tega melakukan semua itu di pangkuanku. Terkadang mereka tanpa rasa malu me­ngen­cingi kakiku, padahal tangaya hanya berjarak “se­jeng­kal” dari tempat mereka berdiri. Tapi apa daya, rasa sayangku yang terlalu berlebihan kepada mereka membuatku tidak sampai hati untuk mengusirnya.

Akhir-akhir ini kesedihanku semakin bertambah. Dari bisik-bisik yang aku dengar, di tempatku berdiri saat ini akan dibangun sebuah jembatan besar dan megah. Mereka menganggap jembatan yang ada saat ini sudah tidak layak lagi untuk digunakan. Bis dan truk yang ber­ukuran besar selalu kesulitan melewati jembatan dari arah barat, karena ukuran­nya yang sempit, dengan tikungan tajam, dipangkal jembatan. Tidak jarang kendaraan besar tersebut tersangkut dan tergores oleh ujung besi pembatas jem­batan, dan kalau perlu mereka terpaksa berputar ke tanah lapang untuk kemudian mencoba peruntungan masuk dari arah utara yang sedikit lebih lapang.

Hal ini makin lama semakin ramai saja dibicarakan. Aku merasa sedih, karena kalau rencana ini terlaksana, yang pasti aku akan dikorbankan. Hari-hariku menjadi murung, hidupku terasa hampa, perlindungan dan kesejukan yang sela­ma ini aku berikan, seolah-olah tidak ada artinya dan tidak berbekas sama sekali di benak mereka.

Pada suatu malam yang dingin di tengah angin yang berhembus kencang, hatiku merasa sedih. Aku merasakan bahwa inilah malam terakhirku berdiri disini. Pengabdian yang sudah ratusan tahun aku jalani akan segera berakhir. Seorang pemuda bernyali besar telah ditunjuk untuk melenyapkanku.

Aku tidak tahu siapa namanya, tu­buhnya sedikit kuyu, bicaranyapun tidak jelas, “teloa kecek urang tangaya e”. Tapi dari mana dia punya keberanian untuk merobohkan tubuhku yang kokoh dan besar. Padahal sebagian besar penduduk disini meyakini di tubuhku bersemayam sebangsa jin dan makhluk halus lainnya yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan orang-orang yang berani menggangguku. “Sebuah kepercayaan yang sungguh menyesatkan.”

Saatnya pun tiba, secara perlahan-lahan dengan kampaknya yang tajam, orang tersebut mulai menggerogoti dan mencabik-cabik akarku. Sedikit demi sedikit darah mulai mengalir, urat-urat di kakiku satu persatu mulai putus. Dia begitu bersemangat mengayunkan kam­paknya yang tajam dan mengkilat. Perih dan sakit yang aku rasakan tidak di­perdu­likannya.

Setiap hari, selama hampir satu bulan lamanya, dengan sabar dia terus me­mutilasi tubuhku. Kondisi tubuhku semakin melemah, tak sanggup lagi rasanya kaki ini menopang tubuhku yang tinggi besar. Pandanganku sudah mulai berkunang-kunang, kepala pusing. Dalam kondisi sekarat sayup-sayup terdengar sorak-sorai orang-orang yang selama ini selalu berlindung dan menghabiskan hari-harinya dipangkuanku “seolah tidak tahu berterima kasih” meneriakkan hidup caplambin, hidup caplambin, ya… akhirnya aku tahu, rupanya caplambin nama orang yang telah mengakhiri hidupku. Setelah itu semuanya menjadi gelap, tubuhku ambruk, dia dengan le­luasa memotong-motong bagian tubuh­ku menjadi berkeping-keping.

Kini tempatku sudah digantikan oleh sebuah tembok beton yang kokoh seba­gai penyangga rangkaian besi baja yang sambung menyambung menyeberangi tangaya. Keangkuhannya telah memu­dar­kan pesona Balailalang. Tidak ada lagi kesejukan, keteduhan dan ke­nyamanan, yang ada hanyalah keger­sangan dan debu yang beterbangan dari hembusan angin setiap kendaraan yang lewat. Pesona dan rona Balailalang telah runtuh, Balailalang yang dulu rindang dan ramai dikunjungi penduduk, seka­rang sudah berubah menjadi gersang, sepi layaknya kota  mati. Roda kehidupan tidak berjalan lagi sebagaimana mestinya.

Langang, itulah kata-kata yang selalu terucap setiap perantau pulang kampung. Mereka kebingungan tidak tahu lagi kemana harus duduk maota sambil malapeh salero jo taragak. Tidak ada lagi Batang Kubang yang selama ini menaungi dan memberi kesejukan, tidak ada lagi palanta carano, lapau-lapau sudah pudua. Yang tersisa hanyalah kegersangan. Hujan seakan-akan enggan menghampiri nagari ini, membuat tangaya menjadi kering, air yang mengalir tidak mampu lagi menghanyut­kan sampah-sampah yang berserakan, ikan bilih sudah berangsur punah.

Siang paneh barangin menyengat kulit, malam dingin menusuk tulang. Apakah ini azab akibat nagari yang salah urus. Penduduknya kehilangan teladan dan pegangan karena pemimpinnya sibuk memikirkan perutnya yang semakin membuncit, terlena dengan nikmatnya kursi empuk, sehingga lupa akan janji-janjinya. Ulama menghilang entah kemana. Harmoni kehidupan sudah porak poranda.

Andai masih ada Batang Kubang, Balailalang tidak akan berubah menjadi balailangang, balaigersang, balai nan hilang.1

Padang, Ramadhan 1430 H

2 Tanggapan to “Balai Langang, Balai Gersang, Balai nan Hilang”

  1. manthabbb… tulisan sia ko? baa ndak ado namo penulisnyo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: