Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Gempa Padang” untuk Saniangbaka

Posted by majalahsaran pada November 30, 2009

Oleh : DR. Zulheldi Hamzah Dt. Sinaro Sati, M.Ag. *)

Saat itu saya bersama dua orang teman berada di kantor Fakul- tas Agama Islam UniversitasMuhammadiyah Sumatera Barat (FAI UMSB). Tiba-tiba, gedung besar itu bergetar. Ha­nya selang beberapa detik, gempa langsung terasa sangat kuat. Kami berlarian ke luar. Kaki terasa berat diangkat dan dilangkahkan karena seluruh bagian gedung itu bak menari. Jarak ke pintu depan yang hanya beberapa meter terasa jauh. Sesampai di halaman, saya yang masih terhuyung-huyung berusaha berpegangan pada seba­tang pohon seukuran betis. Tapi, po­hon itu tidak berhasil saya raih karena dia juga bergoyang. Akhirnya dengan berdiri limbung dan pera­saan campur aduk, saya menatap miris gedung besar berlantai tiga itu sakarat. Goyangan dan ge­tarannya diiringi oleh retakan yang terlihat jelas menjalar cepat ke banyak bagian. Dinding beton dan kaca-kaca terdengar berjatuhan dengan keras.

Itulah saat-saat gempa dahsyat berkekuatan 7,9 skala richter (ada yang menyebut lebih dari 8 SR), Rabu 30 September 2009 jam 17.15 yang saya alami. Walau gempa besar telah reda dan berlalu, kepanikan dan ketakutan belum selesai. Karena tempat kami berada (Pasir Kandang, Tabing) sangat dekat dengan laut, orang-orang berlarian menjauhi pantai. Mereka berusaha secepatnya menuju jalan raya dengan tujuan Bypass atau Lubuk Minturun. Ketakutan yang teramat dalam terlihat nyata dari setiap wajah. Semua berusaha mengunci rumah, mengambil kendaraan, menggendong anak, berjalan dan berlari meninggalkan bibir laut sejauh-jauhnya. Terdengar jelas lantunan berbagai macam zikir dan doa di antara tangisan dan jerit ketakutan.

Seumur hidup yang telah mendekati kepala empat, dan telah menetap hampir 20 tahun di Padang, kota yang bela­kangan ini sering diguncang gempa, gempa hari itu adalah gempa terbesar yang pernah saya rasakan. Sekalipun meno­rehkan ketakutan dan duka mendalam, ada beberapa fakta penting yang baik untuk direnungkan. Dalam bahasa yang agak nyeleneh, poin-poin ini bisa dikatakan sebagai “bonus” dari Gempa Padang untuk kita semua. Inilah yang ingin saya bagikan untuk seluruh warga Saniangbaka di manapun berada.

Pertama, Gempa Padang kembali menegaskan bahwa kehendak Allah adalah mutlak. Tidak ada satu makhluk pun, termasuk manusia, yang bisa meng­ha­langi dan menolak kemauan-Nya. Tidak ada yang kuasa mencegah Allah meron­tok­kan hotel-hotel, bukit, gun­ung, bahkan rumah sakit sekalipun. Semua orang harus menerima ketika Allah mero­bek dinding-dinding lantai dua rumah me­re­ka dan melemparkannya ke arah mobil baru yang parkir dalam garasi. Tak satu­pun yang bisa menolak jika anak gadisnya harus mati mengenaskan, bertumpuk-tumpuk di tang­ga bersama teman-temannya dan dihimpit lantai beton yang sangat berat. Tidak ada yang bisa menghentikan Allah ketika Dia meluluh-lantakkan kota Padang, hingga dalam beberapa saat saja Padang berubah jadi kota mati.

Allah itu Maha Pengatur. Dialah Sang Penguasa alam ini sesungguhnya. Allah tidak pernah memberikan kuasa pada kita untuk mengatur alam, apalagi mengatur-Nya. Manusia diharamkan berpikiran bahwa dia berhak mendikte Allah tentang apa yang harus dikerjakan-Nya. Tidak pada tempatnya jika seorang manusia mengharapkan agar Allah harus begini dan begitu, mesti mengerti keadaannya dan harus mentolelir kesalahannya. Tidak benar jika seseorang mengajukan atau mene­tapkan syarat kepada Allah bahwa dia baru akan taat menjalankan perintah agama setelah Allah memberinya ini, itu dan sebagainya.

Kedua, Gempa Padang menegaskan bahwa dalam waktu sekejap saja Allah sangat berkuasa menjadikan semua jenis kebanggaan manusia menjadi tidak berharga sama sekali. Rumah yang menjadi kebanggaan selama ini mesti ditinggalkan karena dia telah berubah menjadi tempat yang sangat angker. Kendaraan yang baru dan mahal, yang selama ini menjadi ba­han cerita kemana-mana, harus ditinggalkan karena tidak mem­bantu mengantarkan ke tempat yang lebih tinggi. Mobil-mobil tersebut nyaris tidak bisa bergerak sama sekali. Ketakutan akan tsunami membuat banyak orang memilih berjalan kaki daripada terus duduk di dalam mobil.

Handphone yang selama ini jadi alat serbaguna dan sangat efektif berkomunikasi juga kehilangan fungsinya. Banyak orang yang mengalami kepanikan luar biasa karena HP-nya tidak dapat digunakan untuk bertukar informasi dengan orang-orang terdekatnya. Ketika terjebak macet total di Tabing pukul sejak pukul 17.30, saya berdoa, “Ya, Allah. Saya mohon kepada Engkau agar SMS saya yang menanyakan keadaan keluarga di rumah bisa terkirim dan jawaban dari keluarga saya juga sampai ke Saya”. Saat itu, saya benar-benar merasakan betapa berharganya sebuah SMS. Tapi Allah me-nol-kan segala keampuhan HP saya dan Dia tidak menghendaki SMS saya terkirim sampai saya tiba di rumah jam 21.30, bahkan  sampai dua hari kemudian.

Benar-benar tidak ada jurus pamungkas apapun yang bisa kita gunakan untuk “menghadapi” Allah. Tidak ada yang bisa diandalkan di hadapan-Nya. Gempa ini menyadarkan kita bah­wa rumah mewah-besar tidak sebanding dengan ketenangan batin, mobil baru yang bisa membawa kita kemana-mana tidak ada apa-apanya dibanding dengan berhubungan baik pada semua orang, bekerja tak kenal waktu tidak sebanding dengan pahala shalat, kecurangan sangat tidak bernilai dibandingkan kejujuran, anak yang shaleh jauh lebih bernilai dari anak jauh dari agama, walau bergelimang harta.

Realitas ini benar-benar menegaskan bahwa jangan sekali-kali seseorang meremehkan agama atau menganggap lebih penting hal-hal berseberangan dengan urusan agama. Jangan sampai nikmat yang telah diberikan Allah berupa uang, rumah, kendaraan, pekerjaan, anak-anak, teman dan sebagainya menjauhkan kita dari Allah. Karena, semua itu tidak berharga sama sekali dibandingkan dengan keridhaan-Nya.

Ketiga, Gempa Padang menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang bisa memastikan apa yang akan dialaminya sesaat setelah saat ini. Allah bisa menghancurkan semua hal yang telah kita rencanakan dengan matang. Tidak ada yang bisa merencanakan akhir dari semua yang dimilikinya. Seseorang tidak pernah tahu sampai kapan dia diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati uangnya, rumah, kendaraan, pekerjaan, pergaulan dan segala kesenangan yang dimilikinya sekarang. Manusia tidak pernah tahu kapan semua itu akan berakhir dan dengan cara apa Allah akan mengakhirinya. Seseorang juga tidak bisa memastikan kapan dan seperti apa dia akan mati.

Karena itu, marilah kita jadikan Gempa Padang ini sebagai cambuk untuk meningkatkan amal kebaikan kita. Marilah kita beramal lebih banyak lagi dari apa yang telah kita lakukan sampai hari ini. Tingkatkan kuantitas (jumlah) dan kualitas (nilai) shalat kita. Mari kita memberi dan berinfak lebih banyak lagi. Hiduplah sebagai anggota masyarakat yang baik yang kehadiran kita membawa ketenangan dan keberkahan bagi orang banyak. Lahirkan berbagai jenis kebaikan dari seluruh anggota badan yang kita punya. Buatlah sebuah perlombaan masal dan berkelanjutan bagi diri kita sendiri agar mata, telinga, hidung, kaki, tangan, pikiran dan semuanya berpacu untuk memproduksi kebaikan.

Jadikanlah Gempa Padang sebagai lonceng kematian bagi segala sifat dan perbuatan buruk kita. Mari kita jauhi judi, minuman keras-narkoba, mengambil hak orang lain, menipu, menjual barang-barang palsu, mengkhianati teman, berlagak baik padahal sangat licik dan menjual kwitansi kosong atau menyuruh orang lain menandatanganinya. Berhentilah menjadi orang yang selalu ingin menang sendiri, selalu ingin menunduk­kan orang lain untuk mendapatkan kemauan kita dan tidak pernah bisa menghargai orang lain.

Tidak ada yang bisa menolak malaikat pencabut nyawa keti­ka seseorang sedang berzina, korupsi dan menipu orang lain. Tidak ada seorangpun yang bisa mencadangkan bahwa beberapa tahun di akhir usianya akan digunakan untuk ber­taubat dan beramal sebanyak-banyaknya. Karena ini berbuat baiklah dari sekarang, apapun kebaikan yang bisa dilakukan. Hentikan kesalahan mulai dari sekarang, apapun jenis kesalah­an itu. Jadikan semua fasilitas yang telah diberikan Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, jangan untuk mendurhakainya.

Keempat, Gempa Padang ini mengabarkan kembali berita gembira yang sebenarnya telah lama kita dengar. Gempa itu meng­ajarkan lagi bahwa tidak sulit menjadi orang taat. Sesung­guhnya setiap manusia benar-benar dilahirkan dengan fitrah (ke­cen­derungan untuk bertuhan kepada Allah) dan fitrah tersebut tidak pernah hilang dari dirinya. Sebenarnya setiap orang sangat mudah untuk menjadi orang baik dan taat karena dia memiliki modal berharga untuk itu.

Kala itu, hampir setiap orang yang terlihat di jalan meng­ingat dan minta pertolongan kepada Allah dengan berbagai cara. Tidak hanya orang-orang yang terkesan shaleh, hal itu terlihat dari tampang dan penampilannya, tapi juga orang-orang yang kelihatannya selama ini jauh dari Allah. Nyaris semua  mereka ingat akan Allah dan minta belas kasih-Nya. Bahkan, menurut seorang tetangga, bosnya yang seorang Cina-Kristen juga turut “berzikir”. Ketika gempa mengguncang dengan keras, sang tetangga mendengar jelas bahwa bosnya, Sincik, mengucapkan La ilaha illa Allah dengan lafal dan logat yang terdengar aneh.

Ini sebuah bukti bahwa fitrah beragama merupakan watak dasar setiap manusia. Dia akan muncul, bahkan dominan, ketika manusia menghadapi kesulitan dan masalah besar seperti ini. Fit­rah tersebut tidak akan pernah hilang. Lebih jauh lagi, fitrah bertuhan tersebut merupakan sumber utama keamanan dan kenyaman hidup manusia. Keyakinan beragama merupakan sandaran yang sesungguhnya bagi manusia. Akan sangat merugi orang-orang yang selalu mendustakan dan tidak men­dengarkan suara fitrahnya untuk taat beragama dan men­jalankan ajaran Allah. Dia tidak akan memiliki sandaran yang tangguh dalam hidupnya.

Beragama dan bertuhan kepada Allah merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Orang yang suka melanggar aturan Allah berarti dia tidak memenuhi kebutuhan pokok atau sesuatu yang benar-benar dibutuhkannya. Sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap agama dan Allah jauh melebihi kebutuhan manusia terhadap makanan, pakaian, rumah, kendaraan, nama baik, teman dan sebagainya. Jika seseorang tidak taat menjalankan ajaran Islam, berarti dia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih dia butuhkan dari makanan. Jika kurang makan saja bisa menyebabkan seseorang dijangkiti berbagai penyakit mematikan, maka kurang beragama sudah pasti menghadirkan penyakit yang jauh lebih berbahaya.1

*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Padang dan UMSB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: