Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Ironi Nagari Seribu Takbir

Posted by majalahsaran pada November 30, 2009

Oleh : Wendri HP

Melihat udul tulisan di atas,mungkin kita semua bertanya-tanya apa itu ironi ?. Maksud tulisan ini ada kaitannya dengan keadaan yang terjadi di nagari kita, Saniangbaka nan tercinta. Mengapa? Penulis membaca majalah Saran edisi  3/ September 2009. Diberitakan bahwa nagari kita akan menjadi panitia penyelenggara MTQ tingkat kecamatan, pada bulan Juli 2010 mendatang, yang akan diikuti oleh seluruh nagari di Kecamatan X Koto Singkarak.

Mungkin ini momen yang sangat penting dan even yang dapat kita banggakan. Karena nagari kita di percaya menjadi panitia penye­lenggara. Jadi patutlah kita dukung, supaya acara ini dapat terlaksana dengan sukses.Tetapi setelah membaca isi Saran tersebut, penulis jadi kaget bahwa Saniangbaka pada MTQ tahun lalu hanya mendapat urutan terakhir (juara puncit ).

Sungguh ironis, memang. Di nagari ini banyak berdiri surau-surau yang megah. Andi Saputra di situs saniangbaka.org. bahkan menjuluki Saniangbaka sebagai “Nagari Seribu Takbir”. Memang sangat­lah bertolak belakang. Dalam tulisan itu sangat jelas di gambarkan keadaan kampung dengan jarak surau-surau dan pemukiman pen­duduknya.

Jadi ini akan menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita, apa sesungguhnya fungsi surau-surau yang banyak dan megah itu. Apa hanya sekedar untuk bermegah-megahan, tanpa mengoptimalkan fungsinya. Penulis yang sewaktu masih kecil hidup di kampung, merasakan betul fungsi surau sebagai tempat anak anak mengaji dan shalat berjamaah. Sekarang, masihkah ada anak-anak mengaji di sana? Kalau masih, mengapa tidak bisa melahirkan kafilah-kafilah handal yang bisa kita banggakan?

Dengan memahami tulisan di atas, marilah kita sama-sama mencari solusi yang bisa mengubah kata “ironi” di atas. Mungkin ini bukan pekerjaan yang mudah, dan juga bukan masalah yang bisa disele­saikan dengan instan. Ini menyangkut skill dan keterampilan yang harus di pelajari dan dilatih secara kontinyu, dari tingkat dasar sampai mahir dalam menbaca Alqur’an.

Mungkin di bawah ini ada masukan dari penulis yang bisa menjadi pertimbangan untuk mengambil langkah-langkah  kedepannya:

1.   Sangat di perlukan peran aktif para orang tua, dan juga ninik mamak yang ada di kampung, dalam mendorong dan membimbing generasi muda dan anak-anak agar mau belajarhingga mahir membaca Alqur’an.

2.   Dicarikan solusi, supaya generasi muda dan anak-anak tertarik untuk datang ke surau dan belajar mengaji. Diantaranya dengan membentuk semacam Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM) di setiap surau. Pengurusnya harus aktif dan kreatif membuat program yang menarik bagi anak-anak.

3.   Dukungan dari aparat pemerintahan nagari, dengan mengadakan perlombaan secara bertahap dan kontinyu, sehingga generasi muda termotivasi untuk berprestasi.

4.   Dicarikan guru-guru sukarelawan ataupun honorer yang bisa didanai dari swadaya masyarakat ataupun bantuan dari perantau.

Demikian tulisan ini, supaya dapat sama-sana kita renungkan dan kita kerjakan bersama-sama, demi kemajuan nagari yang kita cintai. 1

Satu Tanggapan to “Ironi Nagari Seribu Takbir”

  1. Lelang Subarang said

    Sungguh ironi memang, ironi lainnya Kok tulisan Nagari Seribu Takbir yang jadi referensinya ngak dimuat? Penasaran kepingin baca..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: