Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Keuangan Tsanawiyah Selalu Defisit

Posted by majalahsaran pada November 30, 2009

Meskipun telah di subsidi oleh pemerintah melalui program BOS (Biaya Operasi Sekolah), MTsM Saniangbaka setiap bulannya masih mengalami ketekoran kurang lebih Rp. 6 jutaan.

Animo Masyarakat semakin tinggi untuk belajar dan menimba ilmu agama di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Saniangbaka. Hal ini dijelaskan oleh Syafri Bayman, Ketua Badan Penyelenggara Majelis Pendidikan dan Kebu­dayaan (BPMPK) Muham­madiyah Saningbaka dalam pembi­caraan lewat telepon dengan Yudiharzi dan Jufrial dari Majalah Saran beberapa waktu lalu.

Untuk tahun ajaran ini (2009/2010), bangku MTsM Saniangbaka sudah diisi oleh 270 orang murid, yang terbagi dalam 9 lokal. Disamping kuantitas yang meningkat, mutu dan prestasi siswa juga terjadi peningkatan signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat kelulusan yang mencapai 100%, pada tahun ajaran kemarin (2008/2009).

Namun demikian, dibalik kemajuan dan peningkatan ter­sebut, MTsM Saniangbaka masih memiliki berbagai persoalan, baik dari dalam maupun dari luar. “Meskipun kita telah di subsidi oleh pemerintah melalui program BOS (Biaya Operasi Sekolah), setiap bulanya kita masih mengalami ketekoran kurang lebih Rp 6 jutaan,” kata Syafri Bayman.

Kekurangan ini disebabkan tidak seimbangnya biaya operasional dengan pendapatan. Selain subsidi BOS sebanyak Rp 9 juta, MTsM Saniangbaka memiliki pemasukan rutin dari infaq orangtua murid berkisar Rp 4 jutaan perbulan. Sementara untuk honor guru saja, diperlukan hampir Rp 13 jutaan perbulan. Belum lagi biaya lain yang dibutuhkan untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar.

Sehubungan dengan berbagai persoalan itu, Syafri Bayman mengharapkan kepada warga Saningbaka, terutama di perantauan, untuk ikut membantu meringankan beban biaya, demi kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di MTsM Saningbaka ini.

Pak Syaf  juga berharap kepada perantau untuk menjadi donatur tetap. Melalui Saran, beliau juga mempertanyakan eksistensi HIDUPI (Himpunan Donatur Pendidikan), yang dulu pernah aktif. “HIDUPI cukup membantu kami dari bulan kebulan,” jelasnya.

Secara khusus  beliau juga sangat berharap agar ILUSA (Ikat­an Alumni Tsanawiyah) turut membantu mencarikan jalan keluarnya. Bahkan Pak Syaf sempat mengutip usulan Jufrizal yang ditulis di Majalah Saran edisi 2, halaman 38, dalam judul Refleksi Babalik ka Nagari. Penulis artikel itu mewacanakan agar ILUSA menjadi motor berdirinya usaha bersama sekolah. 1 (GS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: