Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Melongok Kondisi SD Negeri 10 Saniangbaka, Pasca Gempa 2006

Posted by majalahsaran pada November 30, 2009

Ketika terjadi gempa bumi tahun 2006, proses belajar mengajar di SD Negeri 10 Saniangbaka sempat terganggu, karena gedung sekolah tidak layak pakai. Setelah berlalu tiga tahun lebih, keadaan belum sepenuhnya pulih. Mengapa ?

SD Negeri 10 Saniangbaka dengan jumlah murid  146 murid, diasuh oleh 6 orang guru PNS dan 4 orang guru hono­rer. Lokasi sekolah ter­bi­lang stra­tegis, terletak di pusat Nagari Saniang­baka, tepatnya di Jorong Balai Gadang. Di sana terda­pat Balai Adat atau kantor KAN Saniang­­baka, pos ronda. Pohon beringin tua  sebagai tempat nong­­krong dan berteduh pernah tumbuh di lokasi tersebut, kini telah diremajakan. Konon kabarnya kebe­radaan pohon beringin mempunyai mak­na dan simbol tersendiri dalam adat Minangkabau

Di sekolah inilah sebagian besar anak kemanakan rang nagari Saniangbaka, khususnya yang bermukim di Jorong Balai Gadang,  belajar menimba ilmu pengetahuan. Ketika majalah Saran menyempatkan diri untuk bertanya langsung kepada Maryanis A. Ma. Pd  selaku kepala sekolah, tentang perkem­bangan SDN 10 Saniangbaka, ternyata banyak menyimpan masalah yang dikeluhkan dan dipendam sekian lama oleh majelis guru yang mengabdikan dirinya di SD tersebut. Keluhan  para guru tersebut, pada hakekatnya adalah keluhan kita bersama juga, karena sekali lagi,  yang belajar di sana tak lain adalah putera puteri Saniangbaka juga.

Sejak pasca gempa  2006, murid SD  Negeri 10 Saniangbaka satu-satunya SD di Saniangbaka yang dipindahkan belajar di bawah tenda lapangan balai lalang barat Saniangbaka, selama lebih kurang 1,5 tahun, karena gedung sekolah diang­gap tidak layak pakai. Dalam pengerjaan proyek pembangunan kembali gedung SD Negeri 10 Saniangbaka, Pemda kab. Solok tidak melibatkan kepala sekolah dan komite sekolah, karena sumber dana­nya dari Kesra Bantuan Gempa Kab. Solok. Konstruksi bangunannya konon diren­ca­na­kan bertingkat dua, namun sampai sekarang belum ada  tanda-tanda pemba­ngunan lantai dua tersebut di­lakukan.

Sebe­narnya pihak pemerintahan naga­ri Saniang­baka merencanakan pemindah­an ke lokasi baru, tepatnya dekat surau kasik. Maka dibentuklah tim yang ber­tugas untuk menuntaskan masalah lahan dan pencarian dana. Karena tidak adanya kata sepakat de­ngan pemilik  lahan, maka  pembangunan gedung baru tetap pada lokasi lama.

Ketua Komite Sekolah, Yunisbar Ma­rah Banso, ketika ditanya masalah kualitas bangunan, mengungkapkan rasa kecewanya. Soalnya, pengerjaan ba­nguna­n yang dilakukan oleh kontraktor putera Saniangbaka. sendiri, kualitas  dinilai masih di bawah standar . Apabila hujan  datang coran lantai dua bocor, pintu lokal dan jendela banyak yang tidak bisa dikunci.

Untuk kelanjutan pembangunan  lantai 2 gedung SD Negeri 10 Saniang­baka, pemerintahan nagari melalui hasil Munresbang selalu menjadikannya  sebagai skala prioritas,  dengan sumber dana pembangunan dan DAK 2009. Tapi entah karena apa, setiap kali ditetapkan selalu hilang ditengah jalan. Demi kese­lamatan putera puteri Saniangbaka yang belajar di  SD Negerei 10 Saniangbaka, dan memperhatikan kondisi gedung  sekarang ini, sebaiknya perlu disurvei oleh tenaga ahli, mungkin dari PU, untuk menjawab apakah pembangunan lantai duanya masih layak untuk  dilanjutkan.

Gedung baru yang sedang diba­ngun, hanya terdiri dari tiga ruang belajar  dan satu ruang WC. Sedangkan   gedung  lama  sisa gempa, yang masih bisa dipakai tinggal satu ruang belajar dan ruang  kantor berukuran  3m x 8m. Menurut penuturan Maryanis A.Ma Pd, se­harus­nya perlu enam ruang belajar. Maka  dengan terpaksa  anak -anak menumpang  belajar di ruang balai-balai adat (kantor KAN).  Kondisi ruang kantor yang sum­pek dan sempit  membuat   para guru  tidak leluasa dan tidak bisa berbuat banyak dalam aktifitasnya sebagai seorang guru. Untuk memeriksa latihan murid saja,  guru harus  bergantian, kare­na  meja yang tersedia cuma dua buah.

Meskipun kondisi sarana dan prasarana di SD Negeri 10 Saniangbaka serba terbatas, namun proses belajar mengajar diupayakan tetap berjalan. WC guru dan siswa tidak berfungsi sebagai­mana mestinya, karena ketiadan sumber air. Akhirnya para murid memanfaatkan “WC terpanjang”, yaitunya di tangaya.

Seorang guru kelas VI,  yang meng­ajar di ruang milik balai adat (KAN) Saniangbaka, menyampaikan keluhan  yang dirasakannya. Diantaranya,  saat  ada kegiatan olah raga di halaman  seko­lah, murid  di lokalnya sering melihat ke luar halaman. Keadaan diperparah lagi dengan  kondisi  lantai  kayu yang mulai lapuk dan udara yang terasa panas.

Menurut Kepala Sekolah   SD  Negeri 10 Saniangbaka, masya­rakat di lingkung­an sekitar terkesan kurang peduli. Ketika jam berbaris atau masuk PBM,  pedagang yang berjualan di lingkungan sekolah tetap melayani murid berbelanja. Hal ini tentu merendahkan disiplin sekolah, atau terlalu tinggi “rasa memilikinya”. Bukti­nya, apa saja barang peralatan  sekolah yang terting­gal diluar, mungkin  karena terlupa disim­pan, akan hilang begitu saja. Kejadian ini, menurut beliau, sudah kerap kali.

Masalah yang menyelimuti SD Negeri 10 Saniangbaka semakin lengkap dengan hadirnya Pos Ronda di lokasi sekolah. Kadang dijadikan  murid  SD untuk tempat sembunyi (ma’andok) karena tidak buat PR. Sampah  yang  ber­serakan,ditambah bau kencing diantara gedung baru dengan ruang belajar bekas gempa yang menyengat hidung.

Ketika Yunisbar Marah Banso  dita­n­ya seputar berdirinya Pos Ronda, beliau  mengaku tidak bisa tegas. ”Bapi­ci­ang se mato lai”, karena desakan dari pemu­da yang telah meng­galang dana dari donatur dari Solok dan dari rantau. Sejak awal  rencana pendirian pos ronda bukan  di lokasi sekolah.  Tapi karena tidak tun­tas­nya persoalan  izin  hak pakai  di tanah milik pribadi, maka terpaksa didirikan di lokasi sekolah,” katanya.

Wali Jorong Balai Gadang, Delfitri, mengatakan bahwa ia sendiri sebe­tulnya kurang setuju pemba­ngunan  Pos Ronda di sana. Menurutnya, pembe­ri­tahuan  awal kepada wali jorong  bukan di lokasi sekolah. Soal dampaknya yang kurang baik terhadap proses belajar mengajar (PBM) di SD Negeri 10 Saniang­baka , ia berjanji dalam waktu dekat  akan berkoordinasi dengan kepala sekolah.

Kondisi yang memprihatinkan tersebut, seperti kurangnya sarana pra­sarana di SD Negeri 10 Saniangbaka dan kurangnya koordinasi dan kepe­dulian masyarakat di lingkungan  sekolah, sudah sepatutnya menjadi perhatian semua pihak. Ketidak nyamanan yang dirasakan oleh para guru, sudah barang tentu akan berpe­ngaruh terhadap hasil belajar  putera-puteri Saniangbaka yang sedang menimba ilmu di SD Negeri 10 tersebut. Ini hendaknya  perlu segera dicarikan solusinya. Semoga. 1  (Nusa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: