Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Pulang Basamo dan Nilai Kebersamaan

Posted by majalahsaran pada November 30, 2009

Sayang ka anak baberangi

Sayang ka kampuang batingga-tinggaan

Petuah tersebut diatas sengaja di­tanam­kan  dan diwariskan kepada warga ma­sya­rakat Minang secara  turun temurun, dengan harapan suatu saat seorang  warga Minang  yang telah dibekali de­ngan pengajaran-pengajaran, prinsip serta pegangan hidup dan berjuang di rantau  orang, apabila kelak telah berhasil diharapkan untuk berbuat, berbagi kepada  keluarga dan karib kerabat, demi  untuk mema­jukan nagari tempat tanah leluhur.

Pulang basamo telah mentradisi  bagi kelompok primordial masyarakat suatu daerah. Di masyarakat  di luar suku Minang, lebih dikenal dengan  istilah  “mudik”, yang agak mirip dengan pulang basamo. Cuma saja,  pelaksanannya tidak  terlalu dikoordinir, dan dari segi wak­tunya dilangsungkan saat lebaran Idul Fitri.

Bagi warga masyarakat Saniangbaka (IWS) yang berada di daerah perantauan, kegiatan pulang basamo 2010 Insya Allah merupakan kali yang ke empat, sesuai dengan agenda empat tahunan. Pelaksanaannya   di saat liburan panjang  pelajar/siswa, yakni sekitar akhir bulan Juni.

 

Belajar dari pengalaman

Pengalaman  pulang basamo pada waktu lalu, hendaknya dijadikan bahan evaluasi, sehingga membuat  warga Saniangbaka menjadi lebih peduli, makin arif cerdas, serta change of continue. Hal-hal yang  tidak baik, perlu diubah dan diperbaiki, dan yang sudah baik perlu dilanjutkan. Maka bagi segenap panitia yang diberi kepercayaan menjalani tugas sosial kemasyarakatan ini, sudah semestinya menyusun rencana kegiatan sejak dini, dan me-menej-nya secara maksimal.

Agenda pulang basamo, sebagai salah satu ajang palapehan taragak warga  yang telah lama  meninggalkan kampuang, pasti  ada suatu keinginan untuk mengenang memori kenangan masa lalu yang ingin dirasakan kembali. Kenangan dan rasa itu hanya ada di kampuang. Dalam soal salero, ada makanan faforit kita yang sekian lama  tak pernah ditemui di daerah rantau, apalagi untuk mencicipinya. Maka pada saat pulang basamo  selama  keberadaan di kampuang itu bisa kita jumpai seperti kue  kibas, mutu, pinyaram, onde-onde, samba singgang, palai  rinuk, bilih, dll.

Kearifan lokal akan makan spesifik   seperti diatas bisa ditindaklanjuti dengan melaksanakan bazaar makanan  spesifik salero kampuang ala Saniangbaka, yang tentunya pasti akan diminati oleh para warga kita  yang pulang basamo. Secara ekonomi, uang yang dibawa oleh warga yang pulang basamo akan mengalir dan akan berimbas terhadap penyehatan  ekonomi warga  masyarakat yang ada di kampuang. Diharapkan  teknik penge­lolaannya   melalui organisasi atau lem­baga seperti PKK, Bundo Kanduang, IPPSB dsb.

 

Perekat tali Silaturrahni

keluarga, kerabat

Walaupun banyak cara untuk mem­perkokoh jalinan silaturaahmi, tidak mesti harus bertemu muka (bersua). Dalam era kemajuan teknologi komu­nikasi dan informasi sekarang ini, komunikasi bisa dijalin melalui telepon, HP, face book, faksimail, dlsb. Akan tetapi, bila sudah dikondisikan dalam sesuatu yang situasional, seperti  kegiat­an pulang basamo,  permasalahan akan lain. Ada kesan kenangan  yang akan terukir yang bisa menjadi sejarah tersen­diri dalam perjalanan kehidupan sese­orang.

Jalinan silaturrahmi yang utama diantaranya terhadap anggota keluarga sendiri, kerabat, nan sajangka dan nan saeto, pasti masih ada di kampuang. Akan terasa sebagai penonton  manakala di saat kegiatan pulang samo  tidak ada satu orang pun jua anggota keluarganya yang berkesempatan untuk ikut pulang basamo.

Perasaan itu akan lebih  mendalam dan menghunjam serta membawa kepada kesedihan (ibo ati rang gaek ) apa bila seorang orang tua  yang selama ini hanya menjadi penghuni rumah, sementara sang anak, cucu dan menantu  semua pada merantau di negeri orang. Walau­pun orang tua tersebut duduk berlama  di depan pintu janjang rumah gadang, hanya akan membuat pikiran orang tua terus menerawang.

Dengan adanya momen pulang bagi warga masyarakat Saniangbaka, ke­sempatan tersebut tidak akan dilewati begitu saja. Terlepas dari bagaimana kesanggupan ekonomi dan kesang­gupan lainnya dari masing-masing warga kita yang dirantau, karena tak dapat dipungkiri ada sebagian warga kita yang harus bekerja keras banting untuk men­cari sesuap nasi dan untuk keluarga, yang jelas niat dan itikad baik dari mereka pasti ada. Kalau sudah demikian Allah SWT akan membuka jalan dan hik­mahnya bagi umatnya. Pulang keluarga, sesama warga dan kampuang  halaman.

Perjalanan dari tempat asal merantau menuju kampuang halaman dilakukan secara bersama sesuai dengan tempat start dan jadwal yang ditentukan nanti­nya oleh panitia. Ini tentu sebuah perjalanan yang sangat mengasyikkan. Segala kemungkinan yang akan terjadi akan diatasi seca­ra bersama. Ang­gota rombongan pasti tidak akan dibiarkan me­nang­gung sendiri atas sesuatu kea­daan yang tak di­inginkan. Keber­samaan tidak ha­nya dalam keta­wa, suka, atau senangya saja,  akan tetapi juga dalam susahnya. Inilah salah satunya bentuk kebersamaan yang akan  terasa nantinya.

Disamping  itu, momen  pulang basamo  adalah saatnya untuk keluar dari orbit rutinitas keseharian. Momen pulng basao merupakan kesempatan untuk memperkenal­kan anak-anak dan anggota keluarga kita dengan sanak saudara dan karib kerabatnya yang ada di kampuang. Kita dapat mengatakan : “Itu nak, mamak kamu, itu etek kamu, itu bako kamu, kalau itu panggia angku, anduang,” dan seba­gai­nya.

Kemudian secara langsung diharap­kan ada dampak per­baikan terhadap kepribadian kita. Mencermati perilaku, sikap dan kesibukan warga dirantau, terkadang ada sebagian sau­dara kita yang berhasil hidup sukses di rantau orang, berujar seolah-olah masa bodoh dengan persoalan di kampuang, atau meniadakan jasa orang orang lain. “Den marantau dan mangaleh takah iko kini,  indak ado dimodali  atau mintak modal ka rang gaek,” begitu ungkapan ber­nada angkuh yang sering kita dengar.

Untuk itu, agaknya perlu  diperha­tikan  ungkapan  kata dan kalimat berikut ini :

Kenanglah

Ibu yang menyanyangimu

Utuk ibu  yang selalu

Meneteskan air mata ketika kau pergi

Ingatkah  engkau  ketika ibu  rela tidur, tanpa  selimut demi melihatmu tidur nyenyak  dengan  dua selimut yang membalut tubuhnu

Ingatkah  engkau  ketika  jemari  ibu mengusap lembut  kepalamu  dan ingatkah engkau  ketika air mata menetes dari maat ibumu  ketika ia melihatmu terbaring sakit ?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu  menatikan  kepulanganmu dirumah tempat kau dilahirkan

Kembalilah memohon maaf  pad ibu  yang selalu rindu akan senyumanmu

Simpanlah sejenak kesibukan –kesibukan duniawimu yang selalu membuat lupa untuk pulang

Segeralah  jenguk ibumu yang berdiri menatimu di depan  pintu bahkan sampai malam kian larut.

Jangan biarkan  engkau kehilangan  saat yang kau rindukan  dimasa  datang ketika ibumu telah tiada

Tak ada lagi  yang berdiri di depan pintu  menyambut ketika  pulang

Tak ada lagi senyuman indah  tanda bahagia

Yang ada hanyalah  kamar kosong tiada penghuninya

Yang ada hanyalah  baju yang gantuang di lemari kamarnya

Tak ada  lagi yang menyiapkan sarapan  pagi untukmu makan, tak ada  lagi  yang rela merawatmu sampai larut malam  ketika kau sakit.

Tak ada lagi  dan tak akan ada lagi  yamng meneteskan  air mata  mendoakanmu disetiap hembusan nafasnya.

Kembalilah segera ….peluklah ibumu yang selalu menyanyangimu

Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukan  dan berikanlah yang terbaik diakhir hayatnya

Kawan, berdoalah  untuk kesehatannya

dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya

Jangan biarkan  engkau menyesal di masa  datang

Kemablilah pada ibu yang selalu menyanyangimu

Kenaglah selalu cinta dan kasih sayangnya

Ibum maafkan aku

Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas.

 

Demikian ungkapan kata dari se­orang yang menyadari keberadaan, serta peran ibu, orang lain, dan Tuhan  dalam hidupnya. Kita berharap, semoga pulang basamo betul-betul menjadi panggilan nurani  warga di rantau, yang didasarkan atas semangat kebersaman, hati yang suci lagi ikhlas.

Semoga. Amin ya rabbal alamin. 1 (Nusa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: