Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Renung-renungilah, sembari bermuhasabah : Saniangbaka Sepatutnya kembali Kepada Adat Bersandikan Syara`

Posted by majalahsaran pada Januari 7, 2010

M Aktifanus Jawahir
(email : manja58@yahoo.com)

‘Sayang kanagari, batingga-tinggakan”, itulah ungkapan pendek yang indah warisan peninggalan orangtua kita almarhum Abuya Prof Dr Hamka, rangkaian kata yang dalam maknanya ini sering diulang-ulang oleh banyak orang dan di banyak tempat sampai ke hari ini, baik di Sumatra Barat, maupun di perantauan.

Menanggapi persoalan berita Saran dan beberapa situs Saniangbaka yang lain tentang Wali Nagari Saniangbaka, walaupun saya belum membaca Saran yang baru itu karena sudah dua nomor saya tidak pernah lagi dikirimkan Saran, karena saya memang salah seorang sesepuh Saran dan IWS yang tidak perlu diingat lagi. Apa yang terjadi dengan Dasrizal  C.Bahar saya tidak terkejut dan heran, sebab ini sudah menjadi bacaan dan pengalaman kita beberapa dekade lamanya, karena apa yang  terjadi dengan pengalaman buruk Wali-Wali Nagari yang lalu sudah pasti akan dialami oleh Wali-wali Nagari akan datang tidak terkecuali pengalaman kini yang dirasakan oleh Dasrizal.

Makanya saya termasuk yang bersyukur bila urang sumando saya Tarmizi M Noor, berhenti jadi Wali Nagari dan hanya mau menjabat untuk satu periode saja. Sudah pasti beliau sangat memahami dan merasakan; bagaimana tingkah-polah, watak dan persaudaraan yang tidak pasti di Saniangbaka, keseharian Tarmizi tentu sangat merasakan suka dan dukanya. Apa kurangnya almarhum Dinar Lukman Rangkayo Sutan, yang taat beragama, disiplin, tegas dan semasa beliau itulah nagari aman, termasuk dari usaha pemurtadanan terselubung yang tidak disadari urang nagari, tetapi tetap saja yang dibicarakan kelemahan dan keburukan beliau, yang tidak seberapa berbanding amal salehnya berkadar 90-95% nilainya.

Saya sebetulnya sangat terkejut dan hairan, dengan keberanian Dasrizal untuk turun panggung bersedia menjadi Wali Nagari, ibaratkan terjun ke dalam lubuk air yang hitam dan agak berbau, tidak terlalu dalam, tetapi berenang dalam air yang tidak jernih dan merasakan ketidak pastian karena, waktu kita mau terjun semua orang bersorak dan mendukung dengan sebuah keberanian, yang tidak enak setelah kita menerjuninya. Bila kita sudah di dalam lubuk itu, pada mulanya orang akan mentertawakan dengan sikap kita yang aneh, namun akan merubah mancibiakan, mencemeeh dan mengumpat dengan kata-kata atau kalimat, yang tidak enak didengarkan dan sudah pasti dari segi adab dan akhlaq apalagi dari sudut ilmu dan argumentasi tidak boleh dipertanggungjawabkan.

Tidak ada pilihan bagi Dasrizal dan semua warga Saniangbaka, harus sama-sama bertanggungjawab, kerana bukan  saja keberanian Dasrizal harus dihargai dan dihormati, tetapi pemilihan yang dilakukan oleh warga di nagari harus ditunaikan dengan amanah dan memberikan kerjasama, yang sangat terhormat dan penuh tanggungjawab, begitu pula dengan IWS seluruh Indonesia, yang begitu menggebu-gebu mendukung dulu, harus memberikan pembelaan dan renpons yang positif kepada Dasrizal, begitu juga dengan Saran, dalam beberapa terbitannya mengkampanyekan dan memberikan dukungan 100% kepada Dasrizal, kenapa kini kerana nila setitik harus dirusakkan susu sebelanga!

Kepada para sarjana Saniangbaka, hatta yang sudah S3 sekalipun, kenapa harus ikut campur dalam soal tetek-bengek, remeh-temeh, bahkan nampaknya ikut mengeruhkan suasana, menjadikan lubuk semakin dipenuhi air yang terlalu hitam dan menambahkan busuk yang tidak berkesudahan. Alangkah baiknya kalian berfikir dengan jernih, memberikan ide; jalan keluar dan memecahkan masalah, mendamaikan yang tegang, meluruskan benang yang kusut, menjernihkan air yang keruh, tidakkah peranan cendikiawan, ikut mendewasakan dan mencerdaskan masyarakat dan kaumnya!

Para sarjana Saniangbaka, tentu sangat mampu membedakan mana yang patut dan wajar dilakukan, bidang mana pula para sarjana tidak perlu ikut campur, kalau tidak boleh menyelesaikan persoalan. Dengan ilmu yang ada tentu kita dapat menatap dengan tenang dan jernih mana dia mutiara ilmu dan mana pula intan hujah dan kebenaran, dengan dhamir dan nurani yang dalam seharusnya tanggung jawab sarjana lebih luas dan melihat masa depan, dengan secara perlahan melakukan transformasi dan secara langsung atau tidak langsung, menggiatkan perubahan berfikir dan tingkah laku orang Saniangbaka, ke arah yang lebih berisi dan mentradisikan budaya berfikir positif dan tingkah laku, yang dihormati dan disayangi oleh rakyat sesama nagari dan disegani oleh orang luar nagari kita.

Memang kita tidak boleh mengelak dari parlemen palanta Saniangbaka, pembicaraan yang tidak berkesudahan dan tidak jelas ujung pangkalnya, tetapi alangkah baiknya, budaya palanta kita perkemaskan menjadi lebih berbudaya, ditahapi dengan pengisian ilmu dan penuh hikmah, sehingga palanta tidak bernilai omong kosong dan adakalanya banyak berisi dusta dan kepalsuan, sepanjang ratusan tahun sejarahnya, yang untuk masa depan Saniangbaka harus diubah lebih positif dan konstruktif. Di sinilah peranan cendikiawan Saningbaka, banyak-banyaklah merenung berfikir dan bertafakur, sehingga menghasilkan buku, tanpa ikut campur mengeruhkan keadaan Saniangbaka, yang seharusnya dunia dengan teknologi canggihnya, penggunaan  ITC (Teknologi Informasi dan Komunikasi), digunakan untuk kepentingan yang bermakna, dan memberikan kesan kepada wajah Saniangbaka di dunia global ini seharusnya sudah berobah.

Sejarah masa lalu Saniangbaka, soal wali nagari dan kepemimpinannya, biarlah jadi pengajaran pahit dan manis untuk diambil hikmahnya, parangai galincia batu alia, tidak mudah akan berubah apalagi akan terjadi transformasi, begitu pula dengan sikap taiimpik nak di ateh, takuruang nak di lua, ini sikap egois, individualistik, mau untung sendiri, tanpa memikirkan orang lain, yang bahkan orang itu merupakan dunsanak dan saudara kita juga. Kita sudah mengorbankan beberapa generasi terbaik Saniangbaka, untuk menjadi wali nagari, namun apa kesudahannya mereka dicampakkan dan dihina, tiada penghargaan dan terima kasih, perangai buruk ini jangan diulangi lagi, hentikan membunuh watak (character assanation) warga Saniangbaka, yang menjadi wali nagari.

Saya menjadi teringat kenapa almarhum Abuya Imam Jawahir Datuk Bandaro Aceh, tidak mau jadi wali nagari, begitu pula dengan almarhum Kakanda Abdul Kadir Datuk Rangkayo Marajo, yang baru berpulang kerahmatullah pada akhir tahun lalu. Beliau-beliau ini, kerana lama tinggal di nagari dan sangat mengerti budaya dan perangai orang nagarinya, beliau-beliau tidak mau hidupnya diakhiri dengan kejatuhan buruk dalam konteks penilaian orang Saniangbaka, hanya karena menjadi wali nagari.
Penilaian baik hanya sementara, penilaian buruk seolah-olah sepanjang hidup, dan bilakah perangai seperti ini akan berubah, kita tidak boleh mengubahnya, makanya jalan terbaik sebagaimana kata Hamka sayang nagari tinggal-tinggalkan, tetapi jiwa dan fikiran kita tidak pernah melupakan Saniangbaka. Paling tidak bagi yang tinggal di nagari, berhijrahlah dari perangai lama yang tidak baik sebahagian orang Saniangbaka ke arah cara hidup yang lebih mengutamakan kasih sayang dan akhlaq  yang mulia.

Saniangbaka, sebagai bahagian dari komuniti besar keluarga Minangkabau, marilah kita kembali kepangkal jalan; kembali kepada adat yang indah dan terhormat, penuh sopan santun dan kelembutan, kita hilangkan budaya mengumpat di belakang, biasakan berterus terang dengan sopan dan bahasa yang halus, bicarakan langsung dengan Wali Nagari dan pihak-pihak yang mau mendengarkan suara kita. Tegakkanlah adat itu dengan dasar syara’ atau syari’ah, ajaran Islam yang terlalu luas ilmu-hikmah dan sangat tinggi akhlaq dan peradabannya. Islam mengajarkan segala-galanya; sense of solidarity, sekaligus menumbuhkan semangat keterbukaan, terus terang, pada masa yang sama menjaga ukhuwah dan persaudaraan.

Janganlah adat basandi syarak, dan syarak bersandikan Kitabullah, sekedar slogan kosong, sekedar pemanis mulut, pelipur lara hati yang hampa, jadikanlah ianya untuk dihayati dan diamalkan dengan ilmu dan kekuatan akhlaq Islam yang agung itu, sahingga kita betul -betul memiliki karamah insaniah yang dicintai oleh manusia lain, tetapi lebih dari itu sangat dikasihi oleh Allah SWT. Hidup kita hanya sekali, janganlah dipersia-siakan diisi dengan lagho, fitnah, dusta dan perbuatan yang tidak bermanfaat buat diri kita dan merugikan orang lain, malahan ianya sangat tidak ada nilai disisi Ilahi, bahkan kita termasuk orang yang rugi bukan hanya didunia, lebih-lebih lagi di akhirat sana.

Alangkah manisnya petatah-petitih Minangkabau “Nan kuriek iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baik iyolah budi nan indah iyolah baso (bahaso).  Ini acuan kecil dalam setiap kita berbicara, berfikir dan bertindak, fikirkan dulu secara baik, masak dan matang agar akibat dari ucapan dan tindakan kita tidak menyakiti orang lain, apalagi orang kampung kita sendiri dan harus ingat, pada kesempatan lain sakit hati dan kecewanya orang lain, juga boleh menimpa kita pada waktu dan kesempatan yang lain.

“Pucuk paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang-lenggangan, anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan. Ini falsafah dan artinya sangat luas, bukan hanya berkaitan dengan bantuan  material yang zahir, tetapi jiwa dan rasa raso jok pareso, harus mampu kita hayati dan kembangkan oleh semua anak nagari, yang bermakna kalau dijadikan hukum dialektika dan selalu berputar ditempat yang sama. Semua masalah tidak akan jadi masalah, dan kalau ada masalah baru ianya dapat diselesaikan dengan sangat kreatif dan dinamis, penuh kekerabatan dan persaudaraan, asasnya bersatu kita teguh bercerai kita rubuh.

Toh kita sesama orang Saniangbaka, semuanya bersaudara, kalau tidak bersaudara berarti dia bukan urang Saningbaka, pucuk bajelo urek baampeh, kemanapun kita berputar atau kawin dengan orang Sa niangbaka, sebelumnya tetap dunsanak atau saudara kita, jika tidak sepupu, dua pupu atau tiga pupu, paling kurang adalah persaudaraan kerana suku atau pertalian darah yang agak jauh, ini sudah pasti. Awal tahun 80-an, Kakanda Sjahruddin Khatmi Rangkayo Mudo menjadi wali nagari, saya salah seorang pengkritiknya, saya bicara berhadapan dan terus terang di depan pertemuan warga Saningbaka di Surau Gadang selepas puasa tahun 1982, semua kritik disampaikan dengan ikhlas, tanpa niat lain, Alhamdulillah kini setelah beliau tidak menjadi Wali nagari hubungan kami tetap hangat dan penuh persaudaraan.

Jadi marilah kita kembali ke pangkal jalan, selesaikan masalah ini dengan baik, tenang dan kesabaran yang panjang, karena kalau kita tetap saja jatuh menjatuhkan, siapa lagi yang akan menjadi wali nagari. Ada yang mau dijatuhkan lagi dengan cara seperti ini, akhirnya yang terjadi sepanjang sejarahnya di masa datang adalah, kerja kita jatuh menjatuhkan, hasilnya pasti tidak akan ada lagi orang akan menjadi wali nagari. Marilah kita berembuk bersama; Dasrizal perlukan kesabaran, ambil hikmahnya, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai tungku tigo sajarangan, DPP IWS dan semua IWS di seluruh rantau, ayo bermusyawarah dengan kepala dingin, hati yang jernih dan cari penyelesaian, bukan meneruskan kekusutan dan pertengkaran.

Kepada Saran jadilah media dan mediator, yang baik berada di tengah-tengah, dan mampu memberikan problem solving, sehingga untuk terbitan akan datang warga dan pembacanya, akan mendapatkan ilmu atau bahan yang cerdas, dalam penyelesaian masalah ini, bukan menambah kusut dan memeningkan kepala warga dan pembacanya, yang akan menjadikan Saran untuk terbitan masa mendatang, ditunggu-tunggu oleh warga dan pembaca, kerana di dalamnya penuh dengan pil atau kapsul yang berisikan mutiara hikmah dan hujah-argumen yang bermutu, sebagai obat penyelasai masalah-masalah yang terjadi di nagari dan di rantau.

Pengalaman saya beberapa bulan yang lalu, menghadiri sebuah Musyawarah Cabang IWS yang tidak perlu disebutkan nama tempatnya, selama 4 jam tidak dapat menyelesaikan persoalan yang biasa dan sangat sederhana, karena pimpinan sidang tetap mengulang itu ke itu dan peserta yang agak emosi tidak dapat dengan cerdas mengedepankan ide, untuk segera menyelesaikan pokok persoalan yang dibicarakan. Maaf, saya menyebutkan pengalaman dengan dua ormas di Malaysia, satu tingkat nasional Malaysia dan satu tingkat Asia, 3 sampai 6 persoalan besar dapat diselesaikan hanya dalam masa 2 sampai 3 jam. Yang penting bagaimana kita memanej waktu dan menguruskan isu yang berkembang dengan baik, ada nilai intelektual dan penuh kedewasaan.

Untuk  itu biarlah semua pihak, di nagari dan rantau marilah kita dukung Dasrizal sampai habis periodenya, setelah itu baik Dasrizal maupun pemilih harus melakukan shalat Istikharah, apakah Dasrizal masih mampu untuk menjadi wali nagari ataupun dia sudah tidak mau, sebaliknya pemilih di samping melihat dengan mata yang zahir calon-calon baru, beristikharahlah kepada Ilahi semoga diberikan pengganti wali nagari yang lain, yang harapnya lebih baik dari sebelum-sebelumnya, dengan satu janji-iktikad dan iltizam, di masa datang tidak lagi mengulangi karenah lama, mengkreasi konflik dan silang sengketa, bukan hanya dengan Wali Nagari, tetapi antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok, yang tidak menarik untuk diratapi di zaman moderen ini. Tulisan saya ini tidak ada kepentingan apapun, kecuali karena cinta kepada nagari yang merupakan secebis amanah Ilahi di persada bumi yang luas ini, untuk tidak kita nodai dan khianati, Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: