Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Desi Asmaret, Srikandi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Kiprah warga Saniangbaka di dunia politik untuk wilayah Sumbar akhir-akhir ini mulai menggeliat, terlihat dengan banyaknya warga yang menjadi caleg pada pemilu 2009 yang lalu mulai dari DPRD Tk. II, DPRD Tk. I dan DPR RI. Kondisi ini semakin diperkuat dengan terpilihnya salah seorang srikandi Saniangbaka, ‘Desi Asmaret yang akrab di panggil Desi’ menjadi anggota KPU Sumbar periode 2008 – 2013.

Terpilihnya Desi menjadi Anggota KPU Sumbar sungguh di luar dugaan, karena dari lima orang anggota yang terpilih, dia merupakan satu-satunya perempuan. Perjalanannya untuk mendapatkan jabatan tersebut tidaklah mudah. Bahkan keberadaannya di KPU pada awalnya sempat digugat oleh lawan politiknya, dengan melaporkannya terlibat dalam kepengurusan salah satu partai politik sebelum menjadi anggota KPU ‘yang salah satu syaratnya harus independen dan tidak terikat dengan partai politik manapun juga.’ Akan tetapi berkat perjuangannya akhirnya dia berhak memangku jabatan tersebut, karena memang apa yang dituduhkan kepadanya tidak terbukti kebenarannya.

Terlahir dari keluarga petani, putri pasangan Rustam Katik Marajo (suku Sumpadang) dan Asmanidar (Suku Piliang) ini seperti kebanyakan anak-anak Saningbaka mengawali pendidikannya di SD Inpres Landok, dan kemudian melanjutkannya ke ‘Makola’ MTsM di Balailalang.

Pada tahun 1990 Setamat dari MTsM beliau mencoba peruntungan dengan merantau ke Padang Panjang dengan masuk Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah (KMM), yang pada saat itu menjadi salah satu kiblat pendidikan islam di Sumatera Barat.

Setamat sekolah di KMM Padang Panjang, ibu dua anak ini ‘dari hasil pernikahannya dengan Muhammad Isral, SE’ meneruskan pendidikan di IAIN Imam Bonjol Padang, dengan segala keterbatasan biaya pendidikan dari orang tua yang hanya seorang petani ‘Itupun karena berhasil lulus ujian masuk perguruan tingi dengan jalur PMDK.’ Kalau tidak beliau juga belum tentu akan melanjutkan pendiidikan karena alasan ekonomi tidak mencukupi.

Sebetulnya keinginannya adalah menjadi psikolog seperti Ibunda Prof.DR. Zakiyah Drajat, namun tidak kesampaian karena orang tua memang tidak sanggup membiayai pendidikan penulis ke luar Sumatera Barat. Sementara di Sumatera Barat sendiri pada waktu itu belum ada jurusan Psikologi. Akhirnya ia memutuskan kuliah lewat jalur PMDK dengan pertimbangan biaya. Yang penting tekad waktu itu asal dapat kuliah di Perguruan tinggi dan bisa tamat tepat waktu, agar tidak terlalu menyusahkan orang tua. Sejak saat itu beliau mengubah rencana dan mimpi dari menjadi Psikolog ternama menjadi seorang Hakim dengan mengambil jurusan Peradilan Agama Fakultas Syari’ah.

Setamatnya dari fakultas Syari’ah tahun 1997, Desi mencoba melamar menjadi CPNS Hakim Agama di Pengadilan Tinggi Agama. Pada waktu itu berhasil melewati ujian tertulis dan berdasarkan rangking menempati posisi nomor 4, dengan nilai 80,2. Dimana ketentuannya adalah peserta yang akan mengikuti wawancara adalah dua kali jumlah yang dibutuhkan. Ketika itu yang dibutuhkan adalah 4 orang, maka menurut logika tentulah beliau menjadi bagian dari yang akan dipanggil untuk mengikuti tes wawancara. Namun pada saat tes wawancara ternyata namanya tidak tidak terpanggil malah di papan pengumuman namanya sudah berpindah menjadi posisi urutan ke 9. Yang otomatis tidak akan  dipanggil untuk tes wawancara. Setelah di protes ke salah seorang panitia, namun tidak mendapat tanggapan berarti.

Peristiwa itu cukup memukul mentalnya, namun beliau tidak putus asa. Terbukti dengan diterimanya beliau menjad tenaga dosen kader di Fakultasa Syari’ah dan alhamdulillah di terima dengan mata kuliah Hukum Islam di Indoensia dan Hukum Waris di bawah dosen pengampu Prof.Dr. Amir Syarifudin, MA.

Sementara menjadi dosen kader di IAIN,  Desi juga mengabdi di Pengurus Wilayah ‘Aisyiah Sumbar dan sebagai dosen serta staf akademik pada PGTK ‘Aisyiyah dimana sekarang sudah meningkat menjadi PGSD Program S1. Dan akhirnya diangkat menjadi Sekretaris Program di sana. Empat tahun mengabdi di almamater IAIN Fakultas Syariah, namun tidak ada harapan untuk diangkat menjadi Dosen tetap. Kondisi ini memaksanya untuk keluar dari dosen kader di IAIN karena alasan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk bertahan.

Sementara bekerja Beliau berjuang meneruskan pendidikan di Program S2 Konsentrasi Syari’ah/Hukum Islam di IAIN Imam Bonjol Padang. Pada semester tiga dipertemuakan oleh Allah SWT dengan jodoh dan menikah pada tahun 2000. Karena kesibukan mengurus keluarga baru, pekerjaan, dan aktiv di organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah dan Aisyiyah Sumatera Barat, serta mendampingi ibu mertua yang lagi sakit strok selama lebih kurang dua tahun. Akhirnya beliau baru dapat menyelesaikan perkuliahan S2 pada tahun 2003 setelah anak pertamanya, Farhana berumur 2 tahun.

Sang buah hati

Disamping mengurus keluarga dan mengabdi di Perguruan tinggi ‘Aisyiyah beliau juga aktif mengurus organisasi besar ‘Aisyiyah – Muhammadiyah, dimana sekarang menjadi anggota Majelis Kesjahteraan Sosial Pimpinan Wilayah Aisyiyah, diantara kegiatannnya adalah  pertolongan umat dalam bentuk pengembangan masyarakat, pembinaan panti, dan pengelolaan bencana. Kegemaran berorganisasi dari kecil inilah yang mengantarkannya dapat mengenal lingkungan pekerjaaan dengan baik, lingkungan keluarga besar Aisyiyah-Muhammadiyah se-Indonesia khususnya keluarga besar Muhammaadiyah-Aisyiyah Sumatera Barat ibarat sebuah keluarga seperti kedekatan hubungan orang tua dengan anaknya.

Ketika tim seleksi KPU Sumatera Barat membuka proses pencalonan anggota KPU Sumatera Barat, beliau pada awalnya dimotivasi oleh kawan-kawan Nasyi’ah dan orang tua di Aisyiyah, bahwa sesuai dengan Program Nasyi’ah pada Periode 2004-2008 adalah Menguatkan Peran Nasyi’atul ‘Aisyiyah dalam Pengambilan Kebijakan Publik.  Untuk itu Nasyi’ah harus mengembangkan sayapnya dan ikut serta dalam hal menentukan kebijakan publik. Maka sebagai Sekretaris Wilayah, beliau merasa inilah saatnya untuk ambil bagian. Dengan restu dari keluarga dan kawan-kawan organisasi, terkhusus ibunda Meiliarni Rusli dkk, ibu dua anak ini meberanikan diri untuk mencalonkan diri. Alhamdulillah setelah melewati berbagai seleksi, baik tes tertulis, wawancara, psikologi maupun observasi lapangan. Akhirnya terpilih menjadi 10 besar. Dari sepuluh besar itu, KPU Nasional lalu melakukan fit and pro pertest. Tersebutlah nama Desi Asmaret sebagai salah seorang dari lima anggota KPU Sumbar terpilih Periode 2008-2013. Keempat yang lain adalah laki-laki dari anggota KPU periode 2000-2005. (AS)

Satu Tanggapan to “Desi Asmaret, Srikandi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat”

  1. nal, PA A said

    desi… memang hebat, mash segar dlm ingatan waktu satu lokal perkuliahan dulu… bagaimana desi berdiskusi dan menyatakan pendapatnya di hadapan kawan.. luar biasa., selamat buat desi, maju terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: