Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Dr. Zulheldi Hamzah Dt Sinaro Sati, M.Ag.

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Berbekal Disiplin dan Kerja Keras dalam Meraih Gelar Tertinggi

Nagari Saniangbaka akhir-akhir ini mulai menggeliat di dunia pendidikan. Saat ini telah mulai banyak lahir generasi muda yang berkiprah di perguruan tinggi. Kota Padang merupakan daerah penghasil akademisi terbanyak. Saat ini hampir di setiap perguruan tinggi di Padang sudah ada anak ‘tangaya’ yang menjadi Dosen. Salah satunya adalah Dr. Zulheldi Datuk Sinaro  Sati, M.Ag, yang akrab di panggil Pak Zul. Beliau merupakan Dosen tetap Fakultas Tarbiyah dan Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol.

Seperti kita ketahui selama ini Saniangbaka merupakan nagari para pedagang (saudagar). Mayoritas penduduk nagari ini memilih berprofesi sebagai pedagang, baik di kampung maupun di perantauan. Padahal dari segi intelektualitas urang ‘tangaya’ tidak kalah dari nagari-nagari lain di Kab. Solok. Anak-anak ‘tangaya’ sejak dulu selalu berhasil menembus ketatnya persaingan di sekolah-sekolah favorit di Kota Solok pada pendidikan tingkat menengah (SMP dan SMA). Bukan itu saja, sebagian dari mereka berhasil menjadi yang terbaik. Sehingga keberadaan anak ‘tangaya’ sangat disegani di Kota Solok, apalagi kalau kita bicara tingkat Kecamatan X Koto SIngkarak.

Akan tetapi masa emas dari mereka hanya sebatas pendidikan menengah. Kerasnya saruan untuk merantau membuat mereka enggan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kalaupun ada setelah menjadi sarjana sebagian besar dari mereka-pun lebih memilih pergi merantau. Merantau dalam pandangan orang Saniangbaka identik dengan berdagang.

Sungguh ironis, nagari Saniangbaka yang merupakan salah satu nagari tua di Minangkabau, sampai saat ini sangat jauh ketinggalan dalam sektor pendidikan, bahkan masih berkutat dengan banyaknya generasi muda yang putus sekolah. Di tengah kebuntuan tersebut, Pak Zul hadir menentang arus, beliau tetap konsisten berkiprah di dunia pendidikan dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang paling tinggi. Berkat kerja kerasnya ninik mamak suku Tanjuang ini berhasil meraih gelar doktornya pada tanggal 24 Januari 2008 dengan yudisium cumlaude (terpuji), dalam acara Ujian Promosi Doktor yang bertempat di Auditorium Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat. Beliau berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Nifaq dalam Perspektif Al-Qur’an. Ini merupakan gelar doktor pertama yang diraih oleh anak Saniangbaka.

Disertasi nya mengupas tentang ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang kemunafikan dan orang-orang munafik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, doktor pertama Saniangbaka ini menyimpulkan bahwa kemunafikan merupakan persoalan yang sangat serius dan prinsipil. Al-Qur’an tidak memberikan toleransi sedikitpun kepada umat Islam untuk melakukan kemunafikan.

Selain mengajar di IAIN Imam Bonjol, beliau juga mengajar di UMSB, AKBP, dan Univ. Andalas Padang, disamping aktifitas sehari-harinya sebagai da’i.

Perjuangannya dalam mengarungi dunia pendidikan tergolong sangat keras, sejak dari pendidikan tingkat terbawah (SD) sampai tingkat tertinggi (Program Doktor/ S3). Ada beberapa kisah yang masih sangat terekam dalam memorinya

  1. Menolak jadi ketua OSIS. Doktor pertama Saniangbaka ini berasal dari keluarga sederhana dan tergolong kurang mampu. Ayahnya telah berusia 67 tahun sewaktu dia masuk SD tahun 1979. Di samping hasil dari sawah pusako Abak yang hanya beberapa piring sawah, ekonomi keluarga lebih banyak bergantung pada penghasilan amak manangguk rinuk. Kesederhanaan ini terkadang membuatnya kurang percaya diri, bahkan tidak ingin untuk tampil mengaktualisasikan diri. Sebagai pemegang gelar juara umum yang tak pernah tergoyahkan, dia dipavoritkan untuk menjadi ketua OSIS di SMP Sumani. Tapi hal itu dijauhinya dengan memilih membantu Abak di sawah sewaktu rapat pemilihan pengurus berlangsung.
  2. Memakai sepatu keduanya kiri. Doktor baru ini pernah memakai sepatu karet bagambia yang keduanya untuk kaki kiri selama lebih kurang satu tahun. Sewaktu kelas II SMP Sumani, karena kesalahan membeli sepatu dan tidak bisa ditukarkan kembali, dia harus memakai sepatu karet yang keduanya kiri ini. Ini membuatnya tersiksa dan tidak jarang menjadi bahan candaan kawan-kawannya.
  3. Memakai celana hasil kanibalisasi (dua dijadikan satu). Cerita ini berawal ketika dia mulai kelas III SMP Sumani. Ketika itu, dua celana birunya sudah tidak layak lagi dipakai karena sudah tua dan rusak oleh sadel sepeda yang selalu membawanya bolak-balik ke SMP Sumani. Karena tidak ada lagi celana yang masih layak dipakai ke sekolah, dia berupaya mengolah sendiri bagian yang masih kuat dari dua celana yang sudah tidak layak tersebut menjadi “celana baru” hasil modifikasi. Inilah salah satu celana yang digunakannya sampai berhasil menamatkan SMP dan mendapatkan NEM tertinggi.
  4. Jadi garin (marbot mushalla) dan guru mengaji merupakan bagian dari perjuangannya untuk tetap eksis di dunia pendidikan, baik ketika di MAM Pulau Punjung atau ketika IAIN Imam Bonjol Padang. Di samping itu, dia juga tidak menyia-nyiakan masa liburan semester perkuliahannya. Masa tersebut sering digunakan untuk mencari uang kuliah satu semester, yang ketika itu “hanya” Rp. 90.000, dengan jalan menjadi tukang, terutama tukang besi ketika masjid Taqwa Muhamadiyah Saniangbaka dibangun. Pengalaman inilah yang membuatnya bisa menjadi tukang besi untuk membangun sebuah rumah. Selain itu beliau juga merupakan tukang listrik yang mahir.

Disiplin dan kerja keras merupakan salah satu kunci keberhasilannya. Baginya tidak ada waktu yang sia-sia karena berleha-leha merupakan pantangan hidupnya, sehingga setiap waktunya terasa sangat bermakna. Kemanapun beliau pergi buku selalu menemaninya. Kepahitan hidup telah menuntunnya menjadi pribadi yang tegar dan kokoh. Apa yang diraihnya saat ini merupakan hasil kerja kerasnya yang tak kenal menyerah. Sehingga suami dari Reni Hasrin, S.Ag ini berhasil membiayai sendiri sebagian besar biaya pendidikannya semenjak dari MAM, sampai ke tingkat sarjana. Baginya tidak ada yang tidak bisa, prinsip inilah yang menjadi kunci keberhasilan doktor serba bisa ini.

Prinsip inilah yang diterapkan terhadap anak-anaknya. Libur sekolah untuk hal-hal yang tidak teramat penting merupakan pantangan baginya. Sekolah bagi anak-anak merupakan hal yang paling utama. Sehingganya justru saat ini, anak-anak nya ‘Syihab, Nasyarah, Nabila dan Syamil’  yang merasa keberatan ketika harus izin sekolah. Tak heran bakat dan kecerdasannya sudah nampak pada keempat anak-anaknya sedari dini. Berderet piala sudah terpajang di rumahnya, seperti piala juara mewarnai tingkat TK se Kota Padang yang diraih oleh anak ke-3 nya Nabila dan sibungsu syamil. Di sekolah pun keempat anaknya selalu menjadi juara kelas.

Bertandang kerumahnya yang sederhana di Komplek Bumi Lestari Indah Kuranji Padang, nuansa akademis dan religius akan terasa, terutama pada malam hari. Karena sejak selepas magrib TV tidak boleh lagi dihidupkan, semua anak dirumah sibuk dengan kegiatan mengaji dan belajar. Selain selalu juara kelas, semua anaknya sudah lancar membaca Al Qur’an sejak masih di Taman Kanak-kanak.

Semoga kita bisa mengambil teladan dari perjalanan hidup beliau. Disiplin dan kerja keras beliau mudah-mudahan bisa menjadi solusi ditengah rendahnya mental generasi muda Saniangbaka dalam menghadapi tantangan hidup. Karena saat ini sangat banyak dari orang tua, maupun generasi muda kita yang putus sekolah mengkambinghitamkan biaya sebagai alasan mereka untuk memilih berhenti sekolah. Padahal kalau kita perhatikan justru kehidupannya jauh lebih baik dari Pak Zul, sewaktu masih sekolah. Mereka beranggapan seolah-olah dunia ini akan kiamat kalau seandainya mengalami kekurangan biaya. Lalu dimana letak perjuangan, dimana Allah kalau kita memang mengaku sebagai orang beriman. Tidak mungkin bambu runcing bisa mengalahkan bedil dan meriam kalau tidak dengan perjuangan dan bantuan dari Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: