Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

E. Dt Palindih: KAN Menaungi Seluruh Ninik Mamak Dalam Nagari

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Kerapatan Adat Nagari (KAN) adalah kumpulan orang-orang terhormat di suatu nagari. Di sana terdapat tokoh- tokoh yang dituakan atau telah didahulukan selangkah dan ditinggikan sarantiang. Mereka urang ampek jinih dari berbagai suku yang ada di nagari. Mereka adalah para Datuk Pangulu, Dubalang, Manti dan Pandito.

Dalam struktur masyarakat Minangkabau yang masih memegang kuat tradisi/adatnya, maka keberadaan KAN menjadi  sangat penting, kapai tampek urang batanyo, kapulang tampek urang mangadu.

Merekalah yang paling tahu tentang berbagai urusan, seperti urusan   tanah ulayat, kepemilikan harta warisan ( pusako randah dan pusako tinggi ), helat perkawinan dan sebagainya. Di hadapan ninik mamak dalam nagari, KAN berada pada struktur paling atas.

“KAN itu menaungi seluruh ninik mamak dalam nagari,” demikian E. Dt Palindih, salah seorang pengurus KAN Saniangbaka. Sebagai salah satu pilar dari tigo tungku sajarangan, KAN juga bertugas mengurus masalah sanak panakan. “Tugas KAN adalah mengurus dan mengatasi masalah sanak panakan,”jelasnya.

Jadi kalau ado masalah yang sulit diatasi oleh sanak panakan, maka KAN siap turun tangan untuk menyelesaikannya. Cuma diharapkan penyelesaian awal dilakukan di masing-masing keluarga bersama ninik mamak masing- masing dahulu,”Istilahnya bajanjang naik, batanggo turun. Jadi tidak semua hal harus KAN yang mengurusnya,” kata Datuk.

Namun untuk situasi sekarang, di tengah masyarakat yang cendrung bersikap pasif, kadang- kadang kalau kapai ndak mau batanyo, kapulang ndak pulo mangadu. Jadi diperlukan juga sikap proaktif dari KAN, supaya permasalahan tidak terlanjur berlarut dan rumit sehingga sulit untuk diatasi.

Banyak persoalan  di tengah masyarakat membutuhkan  peran KAN untuk mengatasinya.  Masalah moral, rendahnya pengetahuan warga tentang adat yang basandi syarak, persoalan kemiskinan, ukhwah/persatuan, budaya cime’eh, tagalincia batu alia dan lain sebagainya. Semuanya memerlukan peran orang tua kita dari kerapatan adat  bersama ulama dan umara’ untuk mengatasinya. (yd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: