Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

H.Syukri Dt Gadang: Mengurus KAN Saniangbaka Sebagai Ladang Amal

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Semula tak pernah membayangkan akan menjadi  Ketua KAN (Kerapatan Adat nagari) Saniangbaka, karena merasa tidak cakap dalam soal adat. Akan  tetapi “pasangan lah tibo di kuduk, ndak bisa maelak lai.” “Ternyata Allah SWT sudah takdirkan  bahwa inilah saatnya saya harus berbuat untuk  KAN Saniangbaka sebagai sebuah lembaga yang punya peran penting  dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Saniangbaka  yang sudah centang parenang, semrawut .

Setidaknya itulah yang terungkap oleh  H.Syukri Dt Gadang, kelahiran 3 Maret 1952, suku Balai Mansiang. Ketua KAN Saniangbaka terpilih untuk periode 2010 s/d 2015. Penghulu yang satu ini mempunyai usaha penggilingan padi (heler Matahari) dan usaha dagang di  Kerinci,

Mengetahui lebih jelas tentang  H.Syukri Dt Gadang, ikuti wawancara Saran berikut ini:

Kenapa hasil formatur yang terpilih (ketua,Sekretaris dan bendahara) yang diberi waktu 2 minggu untuk melengkapi struktur kepengurusan KAN, itu waktu yang terlalu lama  dan terkesan alot ?

Kami sebagai formatur yang terpilih sudah menjalani tugas untuk melengkapi kepengurusan KAN untuk priode 2010  s/d 2015, dengan  landasan berpikir alua jo patuik berupaya memilih  orang-orang yang betul –betul memiliki integritas yang tinggi, memiliki kecakapan yang  baik di bidang adat dan agama serta profesional di bidangnya nanti. Setelah kepengurusan dirasa sudah lengkap selanjutnya perlu pengesahan dalam rapat umum yang akan dihadiri oleh urang ampek jinih (Panghulu suku, Manti adat, Malin adat, dan dubalang adat) yang bertempat di Balai-balai adat.

Apa yang Bapak  prioritaskan  dalam program KAN Saniangbaka ke depan ?

Mencermati jalannya kepengurusan KAN pada periode –periode sebelumnya setidaknya menjadi bahan evaluasi bagi saya, kenapa KAN tidak begitu berperan dalam mengayomi persoalan-persoalan anak kemenakan dan nagari yang seakan tak terurus. Rencana 1 x  sebulan diadakan pertemuan atau rapat KAN.

Selama ini dalam rapat  kehadiran anggota tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ke depan setiap kegiatan rapat akan diadakan semacam uang rapat sebagai pangganti rokok gak sebatang, sebab  kita memaklumi secara ekonomi tidak semua pengurus dan anggota KAN berekonomi mapan. Sekiranya masih ada pengurus dan  anggota KAN masih setengah hati, kami akan mencoba  dengan menindaklanjutinya berupa teguran secara bertahap.

Bagaimana Teknis rapat KAN ke depan sehingga membuahkan hasil dan dapat mengakomodir permasalahan nagari dan anak kemenakan ?

Rapat-rapat KAN   yang akan digelar nanti haruslah bisa melibatkan dan memberdayakan semua anggota  rapat. Adanya peserta rapat yang mendominasi pembicaraan akan bisa dikurangi dengan sistem pengajuan usulan  dan tanggapan secara tertulis. Materi usulan yang memiliki kesamaan diklasifikasikan dan dibahas secara sistematis. Jadi satu kali rapat ada satu topik persoalan yang dibahas dan dikupas secara tuntas. Artinya dalam rapat tidak ada dan lain-lainnya.  Sebab itu akan membuat rapat menjadi ngambang dan bertele-tele.

Bagaimana KAN mensosiailisasikan tentang adat kepada anak kemenakan?

Seperti yang pernah dilakukan oleh pengurus KAN sebelumnya, adanya penyuluhan adat kepada warga masyarakat menurut saya itu kurang efektif karena akan masuk talingo suok kalua talingo kida, jadi kalau program KAN sudah  berjalan dengan efektif melalui ninik mamak, kaum dan suku masing-masing persoalan dan urusan adat akan bisa dipahami dan diterima anak kemenakan.

KAN sebagai lembaga yang terhormat, kenapa akhir-akhir ini wibawanya  luntur di mata masyarakat?

Begitu hebat  dan banyaknya  persoalan -persoalan anak kemenakan dan nagari dalam era globalisasi sekarang ini kadang tidak terselesaikan dengan baik dan luput dari perhatian KAN, sehingga persoalan semacam ini tidak bisa terselesaikan secara  instan atau tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bilamana KAN sudah sekuat tenaga berjuang dan berbuat sesuai dengan peran dan pungsinya maka wibawa KAN akan terangkat dengan sendirinya.

Kerapatan Adat Nagari mempunyai fungsi yang sangat berat, yaitu melakukan pembinaan masyarakat hukum adat, dengan Adat basandi Syarak, syarak basandi Kitabullah, yang meliputi segala aspek kehidupan beradat dalam Nagari, baik itu Nagari dalam arti teritorial, maupun dalam arti sosial dan moral. Kerapatan adat Nagari juga mempunyai wewenang untuk mengatur dan mengelola harta pusaka Nagari, sehingga bagaimana sumberdaya yang ada dalam Nagari dapat dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan, keselamatan anak kamanakan, lahir dan batin.

Kalau  diperhatikan  tidak semua Pengurus dan anggota KAN yang menguasai masalah adat. Adakah KAN  punya  program tentang  hal tersebut?

Memang  KAN sebuah lembaga yang keanggotaannya juga terdiri dari  penghulu. Posisi penghulu dalam kaumnya masing-masing “kai Pai tampek batanyo,kapulang tampek babarito ,didahulukan salangkah ditinggikan sarantiang. Diakui tidak semua anggota KAN  cakap dan mumpuni dalam soal adat.

Kami akan mencoba merencanakan mengadakan penyuluhan adat setiap sebelum rapat KAN dimulai dengan mendatangkan nara sumber   dari LKAAM baik dari kecamatan , Kabupaten dan Propinsi. Masalah adat memang salingka nagari, tapi sedikit banyaknya pasti ada kesamaan yang bisa memperkaya wawasan dan pengetahuan pengurus dan anggota KAN. Diharapkan nanti KAN  dapat menghadapi tantangan ke depan. Karajo nan dikakok, baban na dijunjuang, harus dapat ditangani dengan sikap arif bijaksana, amanah, profesional, penuh tanggungjawab dan integritas kita secara bersama-sama

Bagaimana Angku Datuk menyikapi persoalan nagari kita sekarang ini.?

Secara pribadi saya prihatin dengan kondisi nagari kita. Secara ke dalam centang palenang  disebabkan KAN selama ini lengah, lalai kurang tanggap. Seharusnya Facebook yang berisi hujatan tidak akan terjadi. Kalau sejak awal-awal serius  menangani persoalan nagari.

Seharusnya masalah Air bersih tidak sampai ada demo-demoan. Sebab kita adalah orang Minang. Ketika demo terjadi  mereka keluar dari etika tak menjadi orang Minang. Sebab di Minang, tidak baik meneriakan malu kepada orang. Ajaran nilai adat: suku tak dapek diasak, malu tak dapek diagiahkan.

Apalagi kita orang Saniangbaka punya petuah urek bajalin, pucuak baampeh. Kito semua badusanak pasti ada sangkut  pertalian darah. Selama ini kurang dipahami dan dihayati oleh anak kamanakan. Kalau orang dahulu itu dijago bana sangkuk badusanaktu. Itu mamak  waang, itu angku waang, itu dusanak anduang waang dan lain sebagainya.

Dahulu kalau ado seseorang yang menghina Wali Nagari, itu akan dipanggil oleh dubalang adat di sukunya  untuk dinasehati dan dikasih pelajaran. Berikutnya tidak yang berani seenaknya berkata apalagi melecehkan Wali Nagari.

KAN  BMN dan Wali Nagari yang semua dijabat atau dipimpin oleh orang suku Balaimansiang  telah menanda tangani nota kesepakatan untuk bertekat bersama membangun nagari, mambangkik batang tarandam. Artinya nama baik suku Balaimansiang dipertaruhkan.

Apa yang dilakukan KAN agar persoalan anak kemenakan tidak langsung sampai ke Kapolsek ,Pengadilan seperti yang sering terjadi?

Penyelesaian sengketa/ kasus di Minang bertingkat dalam mekanisme informal adat. Kasus privat diselesaikan mamak rumah/ paruik, penghulu andiko (mamak tertua di paruik), mamak jurai, mamak suku dan penghulu suku.

Kasus komuninal diselesaikan tuo kampung (penghulu memimpin kampung yang dipilih dari penghulu andiko), mamak nagari dan KAN. Diyakini di Minang, tak ada kasus yang tidak dapat selesai: tak ado kusuik tak akan salasai/ tak ado karuh nan tak kajaniah. Kalau tak jernih juga, masih ada tingkat mekanisme formal dengan hukum formal mulai dari peradilan pemerintahan nagari dengan penegak hukumnya polisi dan peradilan negeri. Karenanya perankanlah ninik mamak dan berdayakan kelembagaan adat dengan akomodasikan perda

Menjadi anggota pegurus,apalagi ketua  KAN perlu pengorbanan segala-galanya. Bagaimana Angku Datuk sebagai ketua mengemban amanat ini?

Menjadi pemimpin apa saja perlu pengorbanan, apalagi lembaga sosial kemasyarakat  yang tidak digaji. Ketika saya diberi kepercayaan  menjadi ketua saya harus siap berkorban waktu, tenaga  uang bahkan perasaan.

Hal itu semua perlu didasari oleh semangat cinto ka nagari serta tanggung jawab moral  dan ini juga  adalah ladang amal. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk-Nya dan memberkati-Nya. Jadi yang perlu diluruskan niatnya. Insya Allah keluarga saya mendukung akan posisi saya kali ini.   (Nusa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: