Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Ketua DPC IWS Jakarta H Andri Novel: Iuran Anggota, Jantung Organisasi

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

H. Andri Novel selaku ketua DPC IWS yang telah berkiprah selama 3 (tiga) periode kepengurusan menjelaskan, dalam ber-IWS kita terkadang mengalami kesulitan dalam hal pembiayaan organisasi, selama ini biaya organisasi kita dapatkan dari kotak amal. Dana dari kotak amal ini sepenuhnya kita manfaatkan untuk kebutuhan Sosial seperti santunan  musibah dan lain-lain.

“Dana ini jelas tidak mungkin kita pakai untuk biaya administrasi, karena niat dari orang yang menyumbang  jelas untuk kebutuhan yang bersifat ukhrawi. Sehingga kebutuhan administrasi dan kegiatan serimonial lain kita keluarkan dari kantong pengurus dan atau berjalan dari orang perorang,” ucapnya.

Lebih lanjut Andri mengatakan, “sekarang kita  sedang membuat terobosan dalam hal pendanaan organisasi ini. Kita sedang mengaktifkan kembali iuran anggota dan baru kita mulai dari kalangan pengurus, sehingga setiap kegiatan yang di usung oleh DPC IWS tidak lagi mengemis dalam pembiayaan,” terang H. Novel , seraya menambahkan iuran anggota merupakan jantung bagi bergeraknya roda organisasi.

Dalam kesempatan lain, salah seorang pembina DPP IWS H. Sudasril Darwis menjelaskan kita telah terbiasa mengumpulkan dana dengan ‘oyak-oyak katidiang’. Kebiasaan ini harus dirobah, sekarang zaman sudah modern. Terobosan ini sangat bagus, IWS ke depan harus menjadi organisasi dengan mangemen terbuka dan tertata, bukan lagi organisasi ‘palanta’ yang yang tidak melakukan dokumentasi atas setiap ketetapan dan kebijakan masa lalu.

Hal senada juga disampaikan oleh Gusmadi (bendahara DPC IWS Jakarta). Bahkan Rizal, panggilan akrab Gusmadi,  juga memperlihatkan bentuk kartu iuran yang telah dirancangnya dan siap untuk diedarkan pada masyarakat Saniangbaka di Jakarta. Rizal menjelaskan bahwa di halaman belakang kartu ini kita telah mencantumkan kegunaan dana yang kita peroleh dari anggota. “Ini penting dan perlu kita kemukakan, agar setiap pemberi iuran mengetahui lebih jauh untuk apa saja uang mereka dipergunakan oleh pengurus,” tegas Gusmadi.

Kepada SARAN Gusmadi memperlihatkan setumpuk buku Iuran anggota yang pada halaman belakangnya tertulis jelas kegunaan dari iuran tersebut, di antaranya

  1. Santunan (kematian, rumah sakit, bencana alam)
  2. Operasional Organisasi
  3. Biaya lain yang di rekomendasikan oaleh pengurus .

Di samping kegunaannya bang Rizal juga menjelaskan, ”iuran ini tidak memberatkan sama sekali (pengurus dan anggota) karena  jumlahnya yang bersifat sukarela dan sistem pembayaranya yang dapat di gabung beberapa bulan sehingga tidak memerlukan orang khusus untuk berkeliling”.

Selain program pembiayaan organisasi H. Novel juga menghimbau seluruh  masyarakat Saniangbaka di Jakarta dan sekitarnya untuk turut perperan aktif dalam setiap kegiatan IWS dan Bundo kanduang.

Sebagai organisasi sosial IWS berfungsi mengayomi dan mengakomodasi segala kebutuhan sosial anggotanya dalam hal ke-Saniangbakaan. Untuk menjalankan fungsinya itu pengurus dan anggotanya harus saling butuh dan dibutuhkan. Ikatan yang dibangun atas dasar emosional ini memerlukan banyak kesabaran dan saling memahami.

Organisasi juga memerlukan keseriusan dari pengurus dan anggotanya demi tercapainya tujuan bersama. Sebangai pengurus, kita berkewajiban untuk menjalankan fungsi-fungsi organisasi secara terus menerus. Di samping itu anggota juga mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan agar pengurus senantiasa menjalankan tugasnya dengan baik.

Salah satu kewajiban anggota dan pengurus adalah membiayai organisasi, sehingga berbagai program yang digelontorkan oleh pengurus dapat menyentuh dan memenuhi kebutuhan sosial  ke Saniangbakaan anggotanya.

Kita kekurangan kader

Pada saat SARAN menanyakan tentang kaderisasi,  Ketua DPC IWS Andri Novel sedikit muram dan menunjukkan tanda-tanda kekurangpuasannya. Hal ini ditandai dengan kurangnya ketertarikan generasi muda kita pada  IWS. Beliau menjelaskan, “banyak anak-anak kita terutama yang lahir dan besar di rantau tidak mengenal IWS.”  Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap pengurus untuk dapat memikirkan kembali sistem dan program kerja yang diusung oleh pengurus organisasi ini.

“ IWS ko hanya akan eksis dek kito nan lai gadang di kampuang se nyo, samantaro nan lahia dan gadang di rantau lah ndak paham lai untuk apo organisasiko ado, mereka (generasi rantau) lah maraso ndak butuh lai,” ucap Andri menanggapi saat SARAN menanyakan tentang eksistensi IWS ke depan. (GS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: