Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Pulang Basamo Peduli Lingkungan

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Kesan kampuang yang jauh dari kesejukan, siang paneh barangin sulit mencari tempat untuk berteduh, malam dingin menusuk tulang. Memburuknya kondisi tangaya dengan tumpukan sampah di mana-mana, dan debit air yang semakin menyusut, serta populasi ikan seperti bilih, situkah, tali-tali, gariang, puyu, bakok, kalang yang sudah berada diambang kepunahan, merupakan sekelumit permasalahan lingkungan yang ada saat ini.

Bulan Juli sudah di depan mata, itu artinya Pulang Basamo (Pubas) IWS 2010 yang diagendakan bersamaan dengan liburan panjang sekolah juga semakin dekat. Berbagai wacana terus bermunculan terkait dengan program yang akan diagendakan pada saat Pubas tersebut.

Seperti harapan salah seorang perantau dari Wonosobo ketika berbincang dengan SARAN beberapa waktu yang lalu di Balailalang, beliau mencoba meminta masukan dari warga di kampuang, apa sebaiknya yang akan dilakukan oleh perantau ketika Pubas yang akan datang, yang bisa bermanfaat bagi warga di kampuang. Wacana ini sudah sangat banyak mengemuka dari para perantau, ketika ada pembicaraan mengenai Pubas.

Melihat Saran edisi terakhir, sepertinya sudah mulai muncul usulan-usulan mengenai program yang akan dibuat, seperti pembukaan pandam pakuburan, pengadaan ambulan, atau membangun failitas umum. Ada lagi usulan dari Kanda Adlim Gani, untuk membuat Perpustakaan nagari, atau Kanda Eklapi yang ingin menghidupkan kembali Balailalang yang sudah pudua dengan membuat medan nan bapaneh. Bahkan ada juga yang mengusulkan untuk membuat program yang lebih besar, yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat di kampuang, mengingat semakin sulitnya perekonomian di rantau.

Tidak dapat kita pungkiri, dari Pubas yang sudah-sudah tidak banyak meninggalkan kesan positif bagi kampuang. Dan seolah-olah Pubas menjadi rutinitas empat tahunan yang tidak layak untuk dikenang. Seperti salah satu komentar warga kita yang berdomisili di rantau melalui facebook yang mengatakan “salamo ko Pubas, menjadi ajang adu gengsi. Kasihan urang awak yang merantau kurang sukses, banyak yang menjadi minder”. Di kampuang sendiri nada-nada miring hampir selalu bermunculan setiap ada pembicaraan mengenai Pubas. Seperti kurangnya sosialisasi perantau yang sibuk, perilaku perantau yang suka hilir mudik di dalam kampuang dengan mobil dan kaca tertutup atau program-program yang dirancang lebih banyak berupa kegiatan hura-hura yang hanya bisa dinikmati sesaat.

Dari berbagai harapan, komentar dan wacana yang mengemuka baik dari perantau, maupun warga di kampuang sepertinya bermuara pada satu kesimpulan, bahwasanya mereka sangat berharap Pubas kali ini bisa membuat sebuah program yang bermanfaat bagi warga di Kampuang, dan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi perantau. Tidak perlu program yang muluk-muluk akan tetapi bernas.

Tidak lupa melalui tulisan ini SARAN ikut memperkaya wacana Pubas dengan mengusulkan program Pubas Peduli Lingkungan. SARAN mengangkat wacana ini mengingat semakin memburuknya kondisi lingkungan di kampung. Kesan kampuang yang jauh dari kesejukan, siang paneh barangin sulit mencari tempat untuk berteduh, malam dingin menusuk tulang. Memburuknya kondisi tangaya dengan tumpukan sampah di mana-mana, dan debit air yang semakin menyusut, serta populasi ikan seperti bilih, situkah, tali-tali, gariang, puyu, bakok, kalang dll. yang sudah berada diambang kepunahan, merupakan sekelumit permasalahan lingkungan yang ada di kampuang saat ini.

Penghijauan

Di tengah maraknya ancaman pemanasan global dan musibah banjir bandang yang akhir-akhir ini selalu terjadi setiap musin hujan tiba, sudah saatnya kita warga Saniangbaka berkontribusi untuk mengatasinya, dengan melakukan penghijauan dan menjadikan Saniangbaka sebagai salah satu paru-paru dunia, melalui program ‘one house one tree’ satu rumah satu pohon (sebaiknya buah-buahan). Kalau program ini bisa digalakkan dan berjalan dengan baik, mungkin pada Pubas-pubas berikutnya bisa menikmati kesejukan dan buah yang dihasilkannya.

Program ini bisa juga diarahkan untuk mengatasi penyusutan debit air tangaya, dengan melakukan penanaman pohon-pohon yang mempunyai serapan air tinggi di hulu tangaya. Tangaya merupakan urat nadi kehidupan di nagari Saniangbaka. Sawah gadang yang mengelilingi kampuang ‘yang selama ini menjadi mata pencaharian utama penduduk’ dialiri oleh tangaya. Menyusutnya debit air secara tidak langsung menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup warga yang sangat bergantung pada hasil sawah dan terkenal sebagai lumbung beras Solok.

Kalau masalah penyusutan air ini tidak bisa diatasi jangan berharap untuk dapat membuka kembali sawah jambak dan daerah sekitarnya yang akhir-akhir ini mulai diwacanakan. Bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan tragedi yang melanda Kab. Bombana Sulawesi Tenggara ‘selama ini terkenal sebagai Lumbung Berasnya Sulawesi Tenggara’ akan melanda Saniangbaka. Lahan sawah yang selama ini subur telah menjadi kering kerontang karena kerusakan ekosistem pengairan. Kini hanya sebagian sawah disana yang bisa ditanami.

Sampah dan Kepunahan Populasi Ikan di Tangaya

Terkait dengan penumpukan sampah di tangaya, panitia Pubas bisa membuat program pembangunan tempat pembuangan sampah, terutama di pinggir-pinggir tangaya yang menjadi titik pembuangan sampah warga, dan tidak lupa pula menyiapkan lahan untuk TPA (tempat pembuangan akhir) sampah. Program ini tentu juga diiringi dengan membangun kesadaran masyarakat akan dampak buruk membuang sampah di tangaya.

Permasalahan lainnya yang cukup merisaukan kita akhir-akhir ini adalah ancaman kepunahan populasi ikan yang ada di tangaya. Perantau dalam Pubas nanti, jangan berharap akan bisa menikmati situkah, tali-tali, gariang, puyu, bakok dan ikan khas tangaya lainnya. Ikan yang merupakan kekayaan alam tangaya tersebut, sudah terancam punah.

Sintrom, putas, tubo yang dilakukan selama ini secara masif tanpa disadari telah memusnahkan ikan-ikan tersebut. Padahal di beberapa daerah si Sumbar ‘seperti di daerah Limau Manih Padang, Baruang Balantai Pessel dan Beberapa Nagari di Pasaman,’ para pemudanya sudah “mengharamkan” kegiatan tersebut dengan memberlakukan ikan larangan di sepanjang sungai yang mengaliri kampung mereka. Hasilnya luar biasa, cobalah jalan-jalan ke daerah tersebut, di sepanjang sungai akan mudah kita temui ikan-ikan berukuran besar yang begitu bebas berkeliaran tanpa terjamah oleh tangan-tangan jahil manusia serakah. Bahkan sebagian dari mereka menggantungkan hidup dari hasil beternak. Entah kapan kita menemukan kondisi tersebut di tangaya yang saat ini jangankan untuk menangkapnya, melihat wujud ikan pun sekarang sudah sulit.

Dari sekian banyak usulan yang masuk tentu tidak semua bisa dilaksanakan dalam Pubas yang akan datang. Akan tetapi setidak-tidaknya panitia bisa merumuskan dan memilah-milah saran-saran yang masuk, menjadi sebuah program yang nantinya bisa dilaksanakan dan menjadi solusi yang sangat berarti bagi permasalahan-permasalahan yang ada di dalam nagari.

Seandainya banyak usulan yang masuk, akan lebih baik seandainya DPP IWS meransang masing-masing DPC untuk berlomba membuat program dalam Pubas nantinya, terutama DPC-DPC ‘gemuk,’ seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Bali & Nusatenggara. Kita serahkan kepada mereka untuk berkreasi dalam merancang program yang mereka inginkan, layaknya sponsor dalam sebuah kegiatan.

Seandainya ini bisa berjalan dengan baik, tentu biaya, tenaga, dan waktu yang telah dihabiskan oleh perantau dalam Pubas kali ini bisa bermanfaat dan lebih bermakna. Dan buah tangan Pubas 2010 bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi perantau, dan bermanfaat dalam jangka waktu lama bagi warga di kampuang. (Andi Saputra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: