Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Rinduku pada Tapian Pasia Muaro Kapeh

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Oleh  Giems

Aku baru saja pulang dari pekerjaan rutinku di sebuah pasar kecil di kawasan  Jakarta pusat. Kepenatanku terobati ketika buah hatiku langsung menyonsongku masuk rumah. Anak- anakku yang masih kecil adalah buah cintaku dengan perempuan kampung yang perkasa, sederhana dan berhati selembut salju. Sepuluh tahun lebih kami mengarungi  bahtera kehidupan, suka dan duka kami  hadapi bersama. Sesekali terdapat perbedaan pendapat dalam berbagai hal, namun semuanya dapat kami kami hadapi dengan baik. ”Cinta tanpa kebahagiaan adalah neraka kehidupan”,  mungkin itulah makna rumahku adalah sorgaku.

Tidak mudah melupakan peristiwa ketika aku harus pergi meninggalkan kampungku. Amakku yang begitu menyayangiku, aku lihat tidak tahan , ketika beliau menyururuhku meninggalkan kampung halamanku,  sementara abakku hanya mampu diam seribu bahasa sambil menghirup rokok Kaiser nya di sudut rumah yang hampir roboh dimakan usia.

Masih terngiang di telingaku ucapan amakku,” Nak kalau waang ingin merobah nasib, ang tingga-anlah kampuangko, ndak ado nan mambuek ang  maju di sikodah,  awak bukan katurunan pagawai “. Katanya padaku di  malam itu.  Seketika ku jawab “  iyolah mak, ambo pikia dulu, ambo masih barek maninggaan kampuangko,” jawabku  dengan penuh kegalauan  yang membuat dada bergemuruh.

Semenjak itu aku jadi pemurung dan suka menyendiri di tepi pasia. Aku yang suka bekerja jadi pemalas dan tidak punya gaiarah hidup.”Tempatku di sini bukan di rantau”. Begitu hati kecilku memberontak. Gelar sarjana yang aku raih dengan susah payah tidak memberi arti bagiku.

Saat itu, hari hariku kuhabiskan dengan  membaca buku. Hanya itulah obat kesedihanku, hanya ini hobiku. Tempat favoritku adalah tapi pasia sambil menikmati ombak bergulung dan hembusan angin yang sepoi- sepoi, hamparan padi yang menghijau.  Sering aku gelisah ketika mendengar ocehan mande-mande sambil basiang dengan tangannya yang perkasa dan cekatan, betapa bersahajanya mande-mande itu.  Ada jalan pematang yang paling aku sukai, walau jalan itu jarang dilalui orang. Jalan itu semak  dan penuh duri sikajuik  tapi di situlah aku melihat sekuntum bunga yang sangat indah. Setiap melewati pematang itu aku selalu berhenti dan ingin memetik bunga itu.

Sudah lebih sebulan, aku belum memberi jawaban pada amakku, amakku pun juga tidak berani bertanya lagi,  kami hanya diam . Tapi pada malam itu aku beranikan bicara,” mak awak bukan keluarga perantau, indak ado tapatan nan tapek di tuju, alah hampia 25 tahun umua ambo alun tatampuah tanah rantau tulai dek ambo”. Amakku hanya diam dan beranjak ambil jubahnya, lalu pergi ke surau melaksanakan shalat isya. Lama sekali amak di surau, sudah hampir jam sepuluh beliau belum juga pulang. Aku mulai khawatir dan pergi keluar menyusulnya. Dan alangkah terkejutnya aku, ketika aku melihat Amakku membaca Al-qur’an sambil berlinang air mata, lalu aku datangi dia sambil bersimpuh di hadapannya, dan mencium kakinya dan kemudian memeluknya. Aku tak sanggup menahan luapan air mata, dan kami berduapun menangis tersedu-sedu.

“Nak amak sabananyo indak taloklo bapisah jo waang, caliaklah abak  ang  alah mulai sakik sakik –an , kasia amak ka baiyo, mamak ang jarang kamari  dan adiak- adiak ang masih ketek-ketek,” ucapnya. Hatiku  semakin galau  dan pikiran semakin kacau , tak satupun yang dapat aku perbuat. Satu-satunya membuat aku tenang adalah tapi pasia. Sering aku menyendiri di surau kasik, yang masih kokoh berdiri dengan gagah menghadang hijaunya sawah, walau surau lain sudah berubah ujud tergerus modernisasi. Sering aku berkontemplasi sambil bermunajat kepada Allah SWT. Merenungkan diri. “Ya.. Allah berilah aku keputusan yang tepat”.

Keputusan harus segera aku ambil sebab bila aku terlambat, aku pasti menyesal. Dan ketika aku terinspirasi tulisan DR. Ali Syariati – Cendikiawan Iran, bahwa “ 27 peradaban dunia dibangun oleh orang perantau” Saat itulah aku putuskan untuk meninggalkan kampung. Ketika keputusan itu aku utarakan kepada amak, alangkah gembira hatinya. Dengan susah payah beliau ke sana ke mari mencarikan ongkos ke tanah Jawa.  Aku harus berangkat dan kami harus perpisah walaupun kami saling menyayangi. Sementara abakku hanya memandangi kami sambil manggut-manggut seraya menghisap rokok Kaiser nya.

Aku berangkat , diantar oleh amakku , naik di jalan –di depan bengkel Waidi dengan bis Gumarang Jaya. Selamat tinggal, kampungku rupamu nan elok takkan pernah aku lupakan, aku akan selalu merindukan tapi pasia.

Lama sekali aku terombang-ambing di rantau, pindah dari satu induk semang ke induk semang yang lain  karena sebenarnya aku kurang berminat berdagang. Aku hampir putus asa, dan memutuskan untuk pulang kampung. Di tengah ke galauan  itu datanglah pertolongan Allah SWT.  Melalui salah seorang saudaraku, Beliau dengan penuh keikhlasan membantuku dia juga turut mencarikan tempat berdagang bagiku. Semoga Allah menerima Amal ibadah saudaraku itu dan  diampuni segala dosa-dosanaya.

Sudah hampir dua puluh tahun aku merantau, belum banyak yang aku dapatkan , tapi rasa syukur selalu aku aturkan padaNya, karena semua adalah rahmat dan karunia Nya.

Hidup di kota Metropolitan sangat menjenuhkan dan membosankan, untung ada paguyuban kampungku, sehinga aku kerkadang merasa seakan akan sedang berada di tapian………….. Pasia Muaro kapeh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: