Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Studi ke Timur Tengah

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Oleh  H. Bil Bachtiar, Lc, MA

Timur Tengah adalah wilayah yang didominasi orang-orang Arab seperti Mesir, Libya, Sudan, Syria, Aljazair, Maroko dan lainnya berada di benua Afrika. Sedangkan Saudi Arabia, Yaman, Kuwait, Yordania, Bahrain dan lainnya berada di benua Asia yang juga disebut dengan negara-negara Teluk. Negara-negara Arab yang berada di benua Afrika pada umumnya adalah jajahan negara Perancis sehingga sampai- saat ini budayanya lebih terbuka dibandingkan dengan negara-negara Arab yang berada di Teluk.

Studi ke Timur Tengah masih banyak diminati oleh alumni pondok pesantren dan madrasah aliyah yang ada di Indonesia, tidak hanya Indonesia bahkan juga negara lainnya di Asia seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand dan Philipina bahkan negara-negara barat sebagian penduduknya beragama Islam seperti Rusia, negara-negara Eropa Timur dan Amerika. Hingga saat ini negara-negara Timur Tengah menjadi referensi untuk mendalami pendidikan agama Islam karena agama Islam pertama turunnya di sana.

Sudah seharusnyalah urang awak secara kolektif memberikan dukungan dan motivasi kepada generasi kita yang mempunyai antusias yang kuat untuk studi ke Timur Tengah. Apalagi mereka yang mempunyai kemampuan yang menjanjikan dalam wawasan ke-Islaman-nya baik dari kemampuan bahasa Arab, maupun hafalan al-Qur’annya.

Pada era globalisasi ini, orang-orang pada umumnya sibuk dengan aktifitas duniawi. Indikasinya banyak yang lupa dengan kewajibannya sebagai muslim bahkan pembinaan terhadap anaknya lebih mementingkan kuaalitas ilmunya daripada akhlaknya. Seharusnya ilmu dan akhlak terhadap anak harus sejalan agar bisa mewujudkan anak yang pintar dan sholeh (sholehah). Makanya, peran alumni Timur Tengah dibutuhkan sekali  khususnya dalam pembinaan terhadap masyarakat kita dan umumnya saudara-saudara kita yang beragama Islam.

Sebenarnya studi ke Timur Tengah tidaklah mebutuhkan cost (biaya) yang cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan biaya studi di Indonesia hampir sama dengan Indonesia dalam segi pemenuhan kebutuhan sehari-hari atau bulanan. Yang sangat membedakan adalah biaya pemberangkatan awal karena jika pemberangkatan ke Timur Tengah harus mempersiapkan biaya pemberangkatan ke sana.

Khusus menyangkut beasiswa, setiap tahunnya Departemen Agama RI  membuka peluang seluas-luasnya mengadakan seleksi secara serentak di 14 lokasi di Indonesia bahkan juga untuk non beasiswa untuk membatasi jumlah mahasiswa Indonesia ke sana karena telah terlalu banyaknya mahasiswa Indonesia ke sana tanpa dibarengi dengan kwalitas akademiknya.

Kerjasama yang telah terealisasi yang dilakukan Depag sampai saat ini dengan Mesir, Sudan, Aljazair dan Maroko. Seleksi biasanya dilaksanakan pada bulan Juni, sedangkan sosialisasi, publikasi dan pendaftaran sekitar bulan April dan Mei. Jika ada yang berminat melanjutkan studinya selain negara yang dimaksud dapat melakukan pendaftaran baik melalui komunikasi internet maupun secara langsung seperti; Saudi Arabia, Qatar, dan negara lainnya. Setelah terdaftar harus mendapatkan rekomendasi dari Depag untuk proses pemberangkatan ke negara yang dituju.

2 Tanggapan to “Studi ke Timur Tengah”

  1. Medika Andesba said

    Alamdulillah, sebentar lagi acara pulang basamo tiba.

  2. Briptu.Medika Andesba,SH said

    KERJA ADALAH SEBUAH KEHORMATAN

    Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, \”Pak mau beli kue, Pak?\” Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab “Tidak, saya sedang makan”. Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab: “Tidak dik saya sudah kenyang”. Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir “Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang di rumah “. Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergidari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. “Pak mau beli kue saya?”, pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 2000,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.
    “Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik”.
    Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. \”Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?. Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, “Saya sudah berjanji sama ibu di rumah,ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis\”.
    Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa “kerja itu adalah sebuah kehormatan\”, kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya,bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
    Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu “kerja adalah sebuah kehormatan\”, ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.

    Makna yang bisa diambil :
    Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi “hijau” melihat uang, sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki.
    Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan arti besar.

    IN MATTERS OF PRINCIPLE STAND LIKE A ROCK, IN MATTERS OF TASTE SWIM
    WITH THE CURRENT Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.
    Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini , sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah
    membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini.”Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.\” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap
    makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. \”Kamu sedang membuat apa?\”. Anaknya menjawab, \”Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.\” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap \”bangunan jiwa\” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: