Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Urang Awak Jadikan Tegal Kota Jamu

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Selamat Datang di Tegal Kota Bahari, tulisan pada kepala gapura berbentuk setengah lingkaran menyambut saya ketika memasuki Kota Tegal yang berbatasan langsung dengan Kab. Brebes. Rasa penat setelah hampir 7 jam menempuh perjalanan dari Bandung dengan menaiki bis tambang balai sedikit berkurang.

Kota yang terletak di jalur Pantura Jawa ini terkenal dengan Warung Tegal (Warteg). Warung nasi dengan harga murah meriah  yang hampir merambah seluruh pelosok Pulau Jawa dan menjadi solusi pada saat kantong sedang tipis.

Ketika menginjakkan kaki di terminal Tegal keramaian masih terasa, walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ‘kondisi yang jarang kita temukan di terminal-terminal pulau Sumatera yang tidak bersahabat dengan pendatang pada malam hari.’ Logat medok ala Tegal yang dibawakan oleh pelawak-pelawak yang berasal dari kota ini, seperti Cici Tegal atau Djamal Bulat terkenal lewat sinetron Tuyul dan Mbak Yul yang sering membuat penonton tertawa dan sedikit lucu di telinga kita, hampir terdengar di seluruh penjuru terminal.

Ini merupakan pengalaman pertama saya menempuh Kota Tegal, ‘kota yang baru saja menerima penghargaan berupa  piala CITRA BHAKTI ABDI NEGARA atas  prestasi pemerintah Kota Tegal dalam bidang pelayanan publik yang diserahkan oleh Presiden SBY pada Februari 2010 yang lalu.’ Tujuan saya hanya satu yaitu menemukan Depot Jamu, dengan ciri khas lampu Nyonya Meneer berwarna kuning yang mayoritas pemiliknya adalah urang Saniangbaka. Karena menurut cerita yang saya dapat hampir 95% dari perantau Saniangbaka yang ada di daerah Tegal dan sekitarnya berdagang jamu.

Kebetulan pada saat itu malam minggu sehingga bertepatan dengan acara bagadang pemuda IWS Tegal yang pada saat itu diadakan di kediaman Nova Andri ‘suku Koto’ di Lebak Siu. Mereka rutin mengadakan acara bagadang setiap bulannya pada malam minggu menjelang acara Arisan IWS yang diadakan pada esok harinya. Seperti kebiasaan urang Saniangbaka, acara bagadang diisi dengan acara domino, karao, plus makan basamo.

Ibu-ibu peserta arisan IWS Tegal 1

Menurut penuturan Ali, jumlah anggota arisan ada sekitar 25 KK, dari sekitar 30 KK warga Saniangbaka yang berdomisili di Tegal, semua anggota arisan adalah pedagang jamu. Mereka mengadakan arisan secara rutin setiap bulannya di rumah warga yang mendapat jatah arisan pada bulan tersebut. Arisan yang bersifat simpan pinjam ini sangat membantu bagi anggota. Karena bagi mereka yang membutuhkan biaya untuk modal usaha, kontrak, ataupun kebutuhan mendesak lainnya bisa meminjam uang kas dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pengurus. Ditambahkan oleh Mul, sampai saat ini uang kas telah terkumpul sekitar 25 juta. Mereka menargetkan pada saat Pulang Basamo 2010 terkumpul dana sebesar 40 juta, untuk membantu meringankan biaya pada saat Pulang Basamo.

Keberadaan warga Saniangbaka di Tegal selama ini kurang terasa gemanya. Kota ini tergolong baru bagi perantau Saniangbaka. Kedatangan urang awak ke kota ini baru ramai pada awal tahun 2000, yang dirintis oleh Yurnalis. Bersamaan dengan terjadinya eksodus pedagang jamu dari daerah Bandung dan Jakarta ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Ada yang unik dari anggota IWS yang ada di Tegal saat ini. Mayoritas dari mereka mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Saya melihat hampir semua anggota yang ada mempunyai tali darah yang saling berkaitan satu sama lainnya. Seperti kakak, adik, mamak, kemenakan, ipar, pambayan. Mereka semua terlihat kompak dan saling mendukung satu sama lainnya. Kondisi ini menggambarkan bagaimana pola merantau urang Saniangbaka sesungguhnya, yang menerapkan sistem komunail dan cenderung mengikuti keberhasilan sanak saudaranya di suatu daerah dengan jenis usaha yang sama.

Di sela-sela acara arisan mereka berharap keberadaan IWS Tegal hendaknya mendapat perhatian dari DPP IWS, dan meminta arahan dalam pembentukan DPC IWS Tegal yang sampai saat ini masih belum terbentuk. (AS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: