Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Warnet Sudah Merambah Saningbaka

Posted by majalahsaran pada Februari 28, 2010

Internet menyediakan  akses untuk layanan  telekomunikasi dan sumber daya  informasi untuk jutaan pemakai. Pemanfaatan internet  bagi kalangan pelajar, mahasiswa, guru, pengusaha, kantor pemerintah, petani  bahkan malah sampai ke tukang ojek. Kini, warnet juga sudah merambah ke dalam nagari Saniangbaka tercinta.

Pada umumnya, para pengguna internet menggunakan internet yang tersedia di warung-warung internet atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘warnet’.  Hal ini karena biayanya lebih murah dibandingkan dengan menggunakan internet pribadi.  Tingginya minat masyarakat hingga ke masyarakat di kampuang (pedesaan) terhadap internet, hal ini membuka peluang usaha  baru di bidang Warnet.

Mencermati perkembangan warnet di nagari Saniangbaka hingga awal tahun 2010  sudah ada   2 buah warnet yang pertama “Lapau Kincia Net” yang terletak di Lapau Kincia. Kedua AmbacangNet  yang terletak di simpang Ambacang Lawang Guci. Diprediksi usaha warnet di Saniangbaka  akan terus berkembang karena ada  2  warnet lagi dalam proses pengerjaan.

Ketika Saran  mengunjungi “Lapau Kincia Net”  dan berbincang-bincang dengan  Erison,  pemilik Warnet, dijelaskan bahwa memang di warnetnya tidak ada sama sekali ditempelkan aturan dan himbauan kepada pengguna internet.  Seperti imbauan  untuk tidak mengakses situs yang mengundang murka Allah SWT, larangan tidak melayani  pelajar di jam belajar.

Akan tetapi, lanjutnya, komputer  server di warnetnya bisa mendeteksi dan menghentikan konsumen yang membuka situs yang dilarang, dengan sendirinya  situs yang demikian akan error dan End saat dibuka. Lebih lanjut dikemukakan bahwa pada awal-awalnya memang banyak di antaranya para pengguna internet yang menyalahgunakan, akan tetapi akhir –akhir ini para pengguna sudah terseleksi secara alami.

Demikian juga halnya dengan Warnet “yang ada di Simpang Ambacang. Pertanyaan tentang  ada tidaknya Tata tertib, himbauan  kepada pemakai internet, Beny salah saeorang keluarga pemilik internet juga memberikan keterangan, bahwa di Warnetnya tidak ada tata tertib, himbauan atau pengontrolan sekiranya ada  pemakai internet yang menyalahgunakan  dengan membuka situs yang sudah dilarang oleh pemerintah. Beny sendiri menyadari mamfaat dan dampak negatif dari internet  terutama bagai kalangan, remaja dan  anak-anak.

Bupati Solok, H.Gusmal Dt Rajo Lelo.SE.MM selaku kepala pemerintahan Kabupaten Solok telah mengeluarkan surat edaran :SE/1572/Dishubkominfo-2009 yang berisi tentang himbauan  kepada pemilik warnet untuk tidak mengoperasikan atau melayani pelajar   pada jam belajar, mengawasi pemakai internet agar tidak mengakses sistus-situs porno, kepada Guru/ pendidik mengawasi murid /siswanya dalam penggunaan internet.

Wali Nagari diharapkan dapat berperan aktif dalam  mengawasi perkembangan  warnet di daerahnya masing-masing agar tidak terseret pada   budaya barat yang mengedepankan kebebasan. Kalau tidak demikian maka dikhawatirkan efek negatif dari “pengguna facebook/ blog” akan semakin merajalela dan hanya menjadi sampah dari sebuah produk teknologi.

Berekembangnya warnet di nagari Saniangbaka, Wali Nagari, BMN, KAN, ulama, cadiak pandai di nagari Saniangbaka   punya tanggung jawab moral untuk menyikapi dan menindaklanjuti surat edaran Bupati Solok tersebut. Artinya ada semacam himbauan yang dibarengi sanksi yang jelas bila ada pelanggaran-pelanggaran. Hal ini tidak lain dan tidak bukan  dimaksudkan semata untuk  menyelamatkan generasi muda Saniangbaka, masyarakat terhindar dari penyalahgunaan internet yang tidak  menurut semestinya.

Saniangbaka di dunia  Maya

Adanya blog Saniangbaka online “tampek rang Tangaya berbagi, Facebook Tangaya Community dan banyak lagi Fecebook lain  yang menyatakan sebagai media silahturrahmi, curhat dan berbagi  rang Saniangbaka yang dibingkai dengan raso cinto ka nagari. Hal demikian mengindikasikan  bahwa  rang Saniangbaka telah memanfaatkan teknologi Informasi melalui jejaring internet  untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di kampuang maupun di daerah rantau.

Mencermati informasi nagari Saniangbaka di dunia maya akhir-akhir ini.  Menimbulkan permasalahan  baru, adanya gerakan 1000 facebooker, sebagai  kubu  pendukung  Wali Nagari dan ada pula gerakan 1000 fecebooker,s  katanya ingin melengserkan Wali Nagari. Gejala Ini mengindikasikan bahwa adanya perpecahan, ketidak kompakan, tidak satu hati  warga kita baik di rantau  maupun di kampuang.

Fecebook  dijadikan sebagai ajang pelampiasan  dengan sumpah serapah, tuding-tudingan, isu yang dialamatkan   kepada  petinggi –petinggi pemerintahan nagari, malah ada yang menyatakan  bahwa BMN tidak bekerja. Ini  adalah sebuah  pernyataan yang tidak  logis dan sudah keluar dari rel. Istilahnya asbut (asal sebut) saja.  Padahal mereka kubu yang kontra  tidak memahami akar permasalahan, terlalu banyak menuntut Pemerintahan Nagari, sementara  bagaimanakah kelayakan  kesejahteraan pemerintahan nagari.

Suatu hal yang  perlu disadari oleh warga Saniangbaka pengguna Facebook bahwa blog dan Facebook  bisa diakses oleh siapa saja, untuk itu  semestinya  facebooker  tetap mengedepankan raso jo pareso (raso dibao naik pareso dibao turun). Informasi yang sifatnya mengkritisi kondisi  perkembangan nagari, jangan  berspekulasi dan  diobok –obok, agar tidak disusupi oleh pihak yang ingin memperkeruh suasana.

Kalaupun ada komentar  hendaklah dikemukakan dalam bentuk argumen, masukan dengan bahasa yang santun dan bertanggung jawab. Kalau tidak demikian  hanya akan menambah masalah atau tidak akan menyelesaikan masalah. Selain itu hanya akan manapuak aia di dulang, mancabik baju di dado, hanya akan berujung pada polemik yang berkepanjangan. Energi dan waktu akan habis sementara orang lain terus bergerak melangkah cepat.

Internet adalah produk teknologi informasi yang netral   bisa bernilai  positif dan negatif, ibarat pedang bermata dua. Hal demikian  tergantung kepada pengguna internet  itu sendiri, berdampak positif bila digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan informasi, inovasi terkait dengan profesi sipengguna. Sebaliknya, internet juga bernilai  negatif manakala digunakan untuk mengakses situs-situs  yang dapat merusak moral, atau digunakan menyebarluaskan fitnah dan adu domba yang meresahkan masyarakat. (Nusa )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: