Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Carito Anak Nagari

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Tangih Mande untuk si Buyung

Oleh  Hendri sama

Panas matahari mulai turun karena haripun mulai sore tapi keringat si buyung tak juga berhenti  mengalir. Perasaan cemas dan takut masih menghinggapi diri si buyung. Buyung tiap sebentar menengok ke kiri dan ke kanan memperhatikan jangan-jangan ada polisi yang kenal dirinya. Buyung tau di terminal ini kemungkinan  dia tertangkap sangat besar sekali. Bisa saja polisi sudah mencium gelagat dia akan kabur ke kampung halamannya.

Setelah mobil berjalan barulah perasaan lega dirasakan Buyung. Alhamdulilah aku selamat,  gumamnya dalam hati. Diapun menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi bis, sambil membetulkan posisi duduknya agar tak menyenggol orang yang duduk di sebelahnya.

Yang duduk di sebelah si Buyung adalah seorang pemuda yang tak berbeda jauh dengannya, tinggi kekar dan berbadan tegap. Hanya dia lebih rapi, menandakan dia terpelajar. Buyungpun menyapa. Mau ke mana da? “Ka bukik,” jawab si pemuda. “Uda ke mana?” pemuda balik bertanya. “Ka Solok,” jawab Buyung. Kemudian mereka saling memperkenalkan diri. “Pulang ada acara apa?” tanya Buyung lagi. ”Rindu  jo amak da,” jawab pemuda itu lagi.

Tiba-tiba darah buyung berdesir. “Acok pulang?” tanya buyung lagi. ”Tiok tahun,“ jawab pemuda. Lagi-lagi darah buyung berdesir. “Ambo da,” kata pemuda itu, “apopun yang terjadi, nan manamui mande tiok tahun tu wajib hukumnya, sebab mande ambo lah tuo dan ayahpun lah sakit- sakitan. Adik ambo sadang butuh biaya untuk sakola jadi ambo harus pulang tiok tahun.”

Mendengar penjelasan pemuda itu Buyung jadi termenung. Dia jadi ingat mandenya di kampung karena mereka hanya berdua  sebab Buyung anak satu-satunya. Ayahnya meninggal ketika Buyung masih kecil. Sampai malampun Buyung tak bisa tidur memikirkan bagaimanakah keadaan mandenya sekarang. Tak sekalipun terlintas di pikirannya untuk memikirkan mandenya. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Dunianya yang kelam membuat Buyung  jadi tak punya perasaan. Diapun pulang kampung untuk melarikan diri dari kejaran polisi bukan rindu kepada mandenya. Apakah mandenya masih hidup atau sudah meninggal dia juga tidak tau karena mandenya tak akan tau dia berada di mana. Jangankan mandenya, orang kampungnya pun tak akan tau dia ada di mana., Selama ini dia selalu terlibat dalam dunia hitam.

Tiba-tiba Buyung tersadar. ”Apa yang saya cari selama ini. Apakah saya mendapatkan yang saya inginkan, bagaimana mande saya. Bagaimana kalau saya tertangkap polisi , bagaimana  saya tua nanti  dan bagaimana-bagaimana yang lain.”

Semua pertanyaan itu bermain-main di kepala Buyung. Tak terasa air mata Buyung terjatuh di pangkuannya. Makin lama Buyung memikirkan mandenya makin deras airmata mengalir dari kelopak matanya. Rasa bersalah Buyung makin menjadi-jadi tatkala pikiran buruk bermain di pikirannya.  Jangan-jangan  mandenya telah dipanggil yang Maha kuasa. Apakah dia masih bisa meminta maaf  kepada mandenya?

Saat itu  juga ingin rasanya Buyung sampai di kampung dan bersujud di hadapan mandenya. Buyung akan meminta ampun kepada mande. Dia tidak akan melupakan mande lagi. Dia akan membawa mande ke manapun pergi, baik susah ataupun senang, mande akan selalu dia bawa. “Maafkan buyung mande, kalau mande tak mau meninggalkan kampung buyung akan tinggal di kampung menjadi orang baik-baik dan akan memulai kehidupan baru, buyung akan selalu menyenangkan mande karena hanya mandelah yang buyung punya,” begitu kata hatinya.

Ketika memasuki kampung halaman tak ada lagi orang yang buyung kenal karena kampung telah lama sekali dia tinggalkan. Orang-orang kampung  heran melihat buyung  karena penampilannya lain sekali. Diapun heran melihat orang-orang, apalagi rumah buyung yang dulu sudah berganti dengan rumah besar. Karena tak sabar ingin bertemu mandenya buyung masuk rumah itu dan bertanya kepada orang di dalam rumah dan dari  jawaban orang itu buyung mendapatkan kekecewaan.

Ternyata rumah itu telah dijual ibunya dan orang itu memberi  tau ada saudara  jauh ibunya yang tau di mana ibunya berada. Buyungpun ke rumah saudara ibunya. Belum sampai Buyung masuk di rumah saudaranya,  dia sudah dihardik dan dibentak-bentak. “Anak durhaka, mengapa kamu pulang?”

Buyungpun kaget diperlakukan seperti itu. Saudara ibunya itu berteriak-teriak histeris sambil menyebut Buyung anak durhaka. Lantas, saudara ibunya itu masuk mengambil golok dan mengacungkan golok mengejar buyung. “Mengapa kamu pulang, ibu kamu sudah mati,” teriak perempuan itu sambil terus histeris.

Tak ingin rebut,  Buyung lari dari situ. Hatinya serasa diiris sembilu, mendengar kematian ibunya. Dia duduk terkulai di bawah  pohon sambil meneteskan air mata. Tak terasa lebih sejam Buyung menangis, padahal menangis paling  jarang dilakukannya. Dia merasa lemah sekali saat itu.

Lagi-lagi penyesalan yang ada di hatinya. Mengapa dia tak pernah  pulang kampung seperti pemuda di bis yang selalu pulang tiap tahun. Kini yang ada  dalam pikiran buyung, kalau benar mandenya telah meninggal, dia harus menemukan kuburan mandenya.

Tiba-tiba Buyung dikejutkan oleh teguran seorang laki-laki tua yang berdiri persis di belakang Buyung. Ternyata dia masih saudara jauh bapak Buyung. Dari dialah Buyung tau bahwa mandenya ternyata masih hidup. Mandenya makin lama-makin susah sehingga rumah satu-satunyapun harus dijual kepada orang lain.

Ibunya sempat berjualan kain bekas dari kampung-ke kampung tapi karena faktor usia hal itu tak dilakukan lagi. Begitu juga dulu, dia masih bisa kerja di sawah orang tapi sekarang juga tak bisa lagi. Tak ada lagi orang yang mau membawa karena tenaga mandenya sudah tak layak lagi dipakai. Diapun lantas hidup sebatang kara, menanti belas kasihan orang –orang kampong.

Begitulah, mandenya masih bertahan hidup sampai sekarang.  Semua orang di kampong, kehidupan mande Buyung dan pantas saudara mandenya tadi marah kepada buyung karena ini semua ulahnya yang tidak peduli selama ini.

Sekarang ibunya itu tinggal di gubuk reot di luar kampong. Mendengar itu semua hati buyung seakan kian teriris. Saking menyesalnya, dia tak kuasa lagi menahan tangis. Buyung berlari menuju luar kampung ke tempat mandenya. Sesampai di sana Buyung melihat tubuh tua kurus sedang duduk melipat daun pisang di atas bangku bambu reot.

Buyung perhatikan tubuh tua itu. Seakan-akan dia tak percaya itu adalah ibunya, tapi mata tua itu tak bisa bohong, memang itulah ibunya. Mandenya yang dulu ditinggal bertubuh gemuk sekarang jadi kurus. Dulu masih muda sekarang teronggok tak berdaya. Sambil tak kuasa menahan tangis, Buyung memeluk tubuh tua itu sambil berteriak, ”mande ampunkan Buyung, maafkan buyung. Semakin lama tangis Buyung, semakin keras dan semakin kuat dia memeluk tubuh tua itu.

Mandenya tau bahwa itu Buyung, tapi dia tak bereaksi apa-apa. Dia tidak mengeluarkan kata sepatahpun. Dia tetap saja  melipat daun pisang walaupun Buyung menangis tambah keras. Sorotan mata perempuan tua itu tergambar penderitaan yang tak terkira, hati yang terluka ditinggal sendiri. Dia hidup sebatang kara dengan ketidakberdayaan orang tua, tidak punya tempat berbagi, sakit dan senang dilalui sendiri. Suami tak punya, anak ada tapi tak tau entah di mana.

Dia tetap tak membalas pelukan anaknya walaupun air mata sudah membasahi baju perempuan tua itu. Dia tetap saja tak bergeming. Setelah beberapa lama barulah Buyung melonggarkan pelukannya dan menatap mandenya. Sementara air matanya masih terus mengalir, Buyung tak henti-hentinya memohon ampunan mandenya.

Tatkala tatapan mata mereka bertemu, barulah mande Buyung melihat wajah anaknya dengan jelas dan dari situ mulailah mata tua itu berkaca-kaca dan jiwa seorang ibu muncul. Diapun mulai melihat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dengan terbata-bata, mande tua itu menyebut nama Buyung. Masih berlinangan air mata, Buyung mengangguk dan dipeluknya lagi mandenya itu.

Buyung bersujut di kaki mandenya. Dia mohon ampunan, dan madenya mulai mengusap kepala Buyung. Sentuhan lembut di kepalanya dirasakan buyung seperti mendapat siraman air sejuk tatkala matahari panas terik membakar ubun-ubun. Mande buyung tak tau apa yang akan diucapkannya. Hanya air matanyalah yang  jadi  juru bicara bagaimana perasaannya saat itu. Semakin lama diapun sudah tidak tahan. Mulailah dia mencium ubun-ubun Buyung untuk melepaskan rindu kepada anak satu-satunya tersebut.

Sayang seorang mande tak akan pudar walaupun anaknya seorang  jahanam seperti buyung yang tega menelantarkan mandenya seperti ini. Sayangnya tak juga luntur, hatinya terlalu suci untuk benci kepada sang anak.

Tiba-tiba Buyung dan mandenya dikagetkan oleh teguran suara  di belakang mereka. ”Saudara Buyung, anda kami tangkap.” Ternyata di situ telah berdiri beberapa orang polisi berpakaian seragam, siap dengan bergol di tangan. Buyung melihat  ke arah mandenya karena dia tau situasi apa yang sedang terjadi.

Dia pandangi mandenya dengan ketulusan dan penyesalan yang sangat dalam, dengan perlahan Buyung mencium dan memeluk mandenya sambil berkata: “Sabar ya mande, Buyung pergi sebentar karena ada urusan dengan polisi.” Mande Buyung sadar dengan apa yang akan terjadi. Dipandanginya buyung yang sudah mulai berdiri ke arah polisi.

Air mata perempuan tua itupun mengalir lagi untuk kesekian kalinya. Tanpa mengeluarkan kata apa-apa, dia mengangkat tangannya ke arah Buyung  yang membelakangi tubuh tuanya. Mande Buyung tau, mungkin inilah terakhir kalinya dia akan melihat anaknya untuk selama-lamanya.  Tiada lagi kata yang terucap, hanya air mata yang dia tumpahkan buat anaknya. Dia hanya bisa berharap Buyung bisa menjadi orang baik bila keluar dari penjara nanti. “Selamat jalan anakku,” kata mande dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: