Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Cita-cita Menuju Saniangbaka yang Sejahtera

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Oleh Yudi Harzi Rky Sati

Judul ini adalah tema yang diusung dalam kegiatan Pulang Basamo Iws 2010 pada awal Juli yang akan datang. Kalimat ini juga merupakan Visi Saniangbaka 2012. Artinya, Pulang Basamo kali ini semakin mempertegas semangat menuju cita- cita yang mulia, yakni memperjuangkan agar Nagari Saniangbaka dapat mencapai kondisi yang Sejahtera.

Sejahtera seperti apakah yang kita inginkan?. Bayangan dan angan-angan kita mungkin berbagai macam. Namun kalau bicara sejahtera setidaknya tentu harus terpenuhi dulu empat faktor mendasar yaitu; kemapanan ekonomi, berpendidikan, maju dan damai.

Dalam masyarakat, kemapanan ekonomi merupakan unsur utama. Orang akan merasa jauh dari sejahtera bila ekonominya lemah. Sedangkan unsur terdidik, maju, damai dan mungkin banyak faktor lainnya, menempati urutan sesudahnya. Walaupun belum tentu juga faktor ekonomi akan menjamin orang akan sejahtera atau tidak. Kesejahteraan hakiki itu sesungguhnya tentulah seperti apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Keinginan menuju Saniangbaka yang sejahtera jelas merupakan cita- cita mulia. Semua kita pasti sangat setuju dan mendukung. Tinggal sekarang bagaimana menunjukkan bahwa kita serius untuk itu. Bukan sekedar polesan kata-kata atau kalimat untuk memperindah spanduk, tetapi betul-betul ada dalam program riil.

Dalam rancangan program Pulang Basamo, panitia telah menyepakati beberapa poin, di antaranya; pengadaan ambulan, pendirian pustaka nagari, pengadaan tafsir, turnamen olah raga, bazaar, batagak gala, kesenian, carano dsb.

Semua program tersebut jelas positif dan punya manfaat. Cuma yang masih dikritisi sebagian masyarakat adalah tentang pengadaan ambulan. Mereka mempertanyakan sudah seberapa urgenkah pengadaan itu. Untuk saat sekarang fungsinya masih terkaver oleh mobil pribadi dan umum yang ada di kampung. Bila untuk mengantisipasi adanya Pandam Pakuburan di luar, tentu bagusnya terealisasi dulu rencana itu dan kalau  sudah butuh pun kita bisa memintanya pada Pemerintah lewat Puskesmas.

Di luar masalah ambulan, rasanya kita perlu sedikit  bertanya, apakah beberapa program yang telah dicanangkan tersebut sudah menyentuh pada faktor  kesejahteraan masyarakat kampung atau belum. Kalau belum, bukankah  pada momentum sebesar itu perlu kita canangkan program yang lebih besar. Yaitu program yang kalau bukan merobah, setidaknya dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat.

Yaitu program yang berkaitan dan berpengaruh langsung terhadap peningkatan ekonomi urang awak. Agar masyarakat dapat lebih giat dalam melakukan usaha, merawat lahan, memelihara tanaman lama, serta membuka lahan baru. Dapat pula berbentuk dorongan kreatifitas dalam membuat produk makanan ringan sebagai oleh-oleh, atau mungkin juga banyak hal lainnya.

Usulan sejumlah warga seperti yang termuat pada Saran yang baru lalu yaitu; bantuan  bibit unggul adalah sebuah usulan yang baik. Jelas itu akan sangat membantu sekali pada warga kita. Bisa juga program lain seperti pembinaan usaha kecil dan lain sebagainya. Perlu didengarkan juga suara masyarakat dikampung, barangkali mereka punya kehendak atau usulan tersendiri.

Bantuan Bibit Unggul  Coklat

Tanaman perkebunan yang sekarang menjadi primadona di kampong adalah tanaman coklat. Seperti yang telah diberitakan juga oleh Saran sebelumnya, sudah ada urang awak yang sukses dengan tanaman itu. Kabarnya banyak warga yang tertarik dan mencoba juga untuk mengembangkannya. Namun ada yang berhenti hanya sebatas angan. Itu disebabkan beberapa kendala yang dihadapi oleh masing- masing warga.

Di antara kendala yang dihadapi oleh beberapa warga untuk bisa ikut dalam kegiatan membuka perkebunan coklat adalah masalah keterbatasan dana. Menurut cerita yang kami dengar, benturan awal yang dihadapi adalah masalah dana untuk pengadaan bibit. Tambah lagi urusan dapur dirumah yang tidak bisa ditunda. “Baa kami kasato baparak coklat, untuk mancarian biaya hari- kahari se kami susah,”demikian kata seseorang yang kami dengar.

Jadi, tentu akan sangat membantu bila ada bantuan kepada warga yang tidak mampu tersebut. Dengan memberikan bantuan bibit, berarti mengurangi beban bagi mereka. Apalagi kalau bantuan itu sampai ketingkat pembiayaan dalam proses pengolahan dan perawatannya.

Seperti kata Pak Muslim, seorang warga yang telah sukses dalam perkebunan coklat itu, bahwa bibit yang terbaik adalah yang didatangkan dari jawa. Mengingat harganya, serta kemampuan sebagian warga yang memang terbatas, maka memberikannya secara cuma- cuma tentu akan sangat melegakan bagi mereka.

Walaupun akan diberikan secara gratis, tetap diperlukan beberapa persyaratan kepada warga yang akan menerimanya.Misalnya harus jelas lahannya dan sudah dilakukan persiapan lahannya oleh yang bersangkutan.

Mengkarbit Industri Baru Makanan

Melihat besarnya potensi konsumen, maka perlu dilakukan suatu terobosan supaya terwujud Industri makanan dikampung kita. Menjadi penting karena Saniangbaka butuh lapangan kerja untuk warganya. Dan ternyata selama ini Nagari kita hampir sedikitpun tidak dapat menyerap angkatan kerja yang selalu tumbuh setiap tahunnya. Justru yang terjadi adalah penyusutan yang penyebabnya bisa harga produk pertanian yang murah, atau adanya ekpansi pekerja dari ilia/mudik yang terus bertambah.

Salah satu terobosannya adalah dengan cara mengkarbit munculnya usaha baru yang serius dalam bidang makanan. Lebih spesifiknya adalah makanan ringan untuk teman minum kopi pagi dan untuk bekal oleh-oleh bagi urang rantau.               Momentum pulang basamo adalah saat yang sangat penting untuk memulai semua itu. Apalagi dengar dengar semangat warga untuk pulang kali ini tambah tinggi, katanya bisa dua kali bahkan tiga kali dibanding pulang basamo kemaren.

Beberapa langkah untuk melakukan pengakarbitan ini adalah;

  1. Memancing warga berbakat dengan mengadakan lomba produksi makanan terbaik. Diadakan dua minggu sebelum pubas. Pesertanya bisa dimintakan perutusan dari jorong, umpamanya 5 orang. Dengan tiga kali produksi.
  2. Bagi 10 orang yang produksinya paling baik (enak, murah, tahan lama) dan tetap bagus di tiga kali produksi, diberi hadiah semacam peralatan untuk bisa memproduksi dengan skala besar.
  3. Disediakan satu nomor nomor blok tempat buat masing-masing dibarisan bazaar yang akan diadakan nanti.
  4. Diberikan dana pinjaman untuk semua biaya produksi, yang pengembaliannya baru dicicil setelah produk dianggap sudah jalan.
  5. Disiapkan tim pendamping ahli dalam proses pengemasan, pemasaran dan managemennya.
  6. Dukungan pemasaran yang berkelanjutan oleh semua elemen, terutama Pemerintahan Nagari dan Dpp serta Dpc Iws se Indonesia.

Tentu saja targetnya tidak hanya urang awak. Pemasaran produk anak tangaya harus juga menembus pasar luas, seperti di Pasar Solok, Bukit Tinggi atau bahkan di Bandara. Dengan tampilan  menarik, harga terjangkau, serta tahan lama, tidak mustahil produk kita akan mampu bersaing dengan produk lain yang sudah lebih dulu eksis.

Mengenai resiko harus juga dipikirkan, tidak ada usaha yang tidak mengandung resiko. Hal yang jelas jangan sampai warga yang dirugikan. Para donator dari rantau tentu rela bila dana mereka bersama dipakai untuk kemajuan dan kemandirian anak nagari. Seandainya usaha pengkarbitan ini berhasil, tentu hasilnya akan dinikmati juga oleh dunsanak-dunsanak kita. Lapangan pekerjaan akan bertambah sehingga pendapatan warga meningkat, perputaran dan pergerakan roda ekonomi akan aktif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: