Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

KAN Buatkan Aturan Alek Baralek Anak Nagari

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Kerapatan Adat Nagari (KAN) Saniangbaka mengeluarkan keputusan tentang aturan alek baralek bagi anak nagari. Keputusan ini dihasilkan melalui rapat 28 Maret 2010 dan 9 Mei 2010. Aturan ini sangat mendukung bagi upaya menjunjung nilai-nilai adat, budaya Saniangbaka.

Mengingat pentingnya aturan ini diketahui warga Saniangbaka di manapun berada, berikut disajikan isi aturan tersebut.

  1. 1. Perjodohan
  • Berbisik antara keluarga  kedua belah pihak untuk menjodohkan anak
  • Kecocokan anak kedua belah pihak  sebagai calon  suami dan istri
  • Kesepakatan  antara keluarga  dan calon  suami istri sudah ada maka mamak Tungganai Rumah menyampaikan  kepada ninik mamak  yang disebut  Manti/Pelaksana.
  • Manti  pihak  calon  istri  menemui  manti calon  suami, itulah  yang disebut  pertemuan  manati sama manti
  • Data-data calon  penganten  dan uang diserahkan  oleh  tungganai kepada manti
  • Masing-masing manti mengurus  surat  dengan data-data  yang lengkap  dan persyaratan lainnya ke Kantor wali Nagari
  • Bagi calon sumai/calon  marapulai  yang dari rantau harus pulang kampuang  sekurang-kurangnya  1 minggu  sebelum  hari Pelaksanaan  Nikah, atau satu minggu  sebelum baralek,  sebelumnya surat-surat  belum  diurus  oleh manti  yang bersangkutan .
  1. 2. Manakok Hari
  2. 3. Pernikahan
  3. 4. Bagadang Malam
  • Mengfadakan  duduk-duduk /musyawarah ninik mamak, urang sumando dan urang rumah bako dalam ranmgka mankok hari  baralek  dan kegiatan  yang akan dilaksanakan  sebelum  hari  baralek  yang bertempat  di rumah  calon pengantin.
  • Marapulai minta izin  sekurang-kurangnya  3 hari sebelum  baralek  kepada  Penghulu, pandito, manti, dubalang Adat, rumah Ayah  dan juga  kepada  Rumah mamak-mamak serta  Rumah  bapak yang tertua.
  • Kpeda  Ninik Mamak  Tungganai  Rumah  atau Si Pangka  diwajibkan  mengucapkan  urang IV jinih  dalam susku manapun  maupun orang Sumando dan lainnya.
  • Ha-hal  yang berkaitan  dengan nikah dilaksanakan  sesuai dengan peraturan  nagari sanianagbaka  nomor : 01 Tahun  2009
  • Bagi  penggiring/ pendamping  pergi ketempat pelaksanaan nikah, baik laki-laki maupun perempuan  harus  berpakaian  busana muslim dan tidak  dibenarkan  ibi-ibu  mengenakan  celana panjang serta menjaga kesakralan,keamanan dan kebersihan  selama pelaksanaan  nikah.
  • Jika ada  memasak makan untuk makan malam, maka diharapkan :

E makan pakai piring

E makan  pakai talam, isi nasi  dan samba  disesuaikan  dengan kebutuhan  supaya tidak  mubazir.

  • Tidak dibenarkan  menaruh rokok  dalam gelas
  • Tidak boleh meminum-minumam keras
  • VCD atau sound system  dimatikan pada jam 12.00 Wib Malam.
  • Disarankan, tidak ada lagi yang bertanggang hingga lewat jam tersebut  mengingat perlunya tenaga  yang prima pada hari esoknya.
  1. 5. Makan Pagi hari baralek
  2. 6. Samba Pokok/ Hidangan
  3. 7. Pakaian Baradat
  4. 8. Penganten dipelaminan
  5. 9. Mangabek Bali
  • Para ninik mamak, orang tua-tua atau urang IV Jinih makan pagi diatas rumah
  • Bagi pemuda /anggota karan  boleh makan di karan, paki talam /piring dengan tertib, sopan dan tidak mubazir.
  • Paling banyak ragam samba sebanyak 4 macam, Samba utama adalah Gulai cubadak, Lauk Pauk/Ayam/daging,  Telur, Sayur.
  • Hidangan Prasamanan
  • Hidangan alek kenduri
  • Bagi laki-laki  baju langan panjang dan pakai peci.
  • Khusus bagi orang IV jinih, berpakaian adat, baju hitam, celan hitam, kain sarung hitam dan pakai peci.bagi pandito boleh pakai baju koko panjang langan pakai peci dan kain sarung.
  • Bagi ibu-ibu pakai  stelan dan tidak boleh pakai celana panjang.
  • Bagi remaja putri tidak boleh  pakai celana panjang, sopan dan tidak ketat.
  • Penganten  laki-laki dan penganten  perempuan boleh dipesandingkan  sing hari dengan catatan  pengantin  laki-laki hanya  berpakaian  jas dan tidak boleh pakai ikek
  • Bagi laki-laki ya ng berasal dari luar nagari saniangbaka, Tungganai dan Manti mencarikan  rumah turunnya dan mengantarkan marapulai  tetap pada malam hari, jika  tidak dapat rumah tempat turun mara pulai diturunkan  dirumah Gadang H. Syukri  dt Gadang dengan syarat sebelumnya  memberi terlebih dahulu
  • Kalau dibutuhkan untuk memperkenalkan kepada undangan,marapulai boleh dipinjam siang hari oleh pihak anak daro, akan tetapi  anak daro tidak boleh dipinjam oleh pihak marapulai.
  • Jika marapulai berpakaian jas, bagi urang  salapan suku  berpakaian baju hitam lengkap dan  bila marapulai  berpakaian ikek lengkap, maka  urang salapan suku  berpakaian deta pucuk lengkap,untuk mengantarkan marapulai ke rumah anak daro.
  • Tidak ada istilah menjamak shalat bagi anak daro apalagi meninggalkannya karena alasan sedang berpakaian suntiang anak daro.
  • Mangabek bali tetap diadakan  dengan cara  marapulai menjinjing  bawaan bajalan kaki, juga menjinjing pisang dari buah balai karumah anak daro dilaksanakan  sebelum jam 16.00 Wib  supaya tidak keburu waktu shalat maqrib.
  • Bawaan marapulai  waktu mangabek bali  disesuaikan  dengan ketetapan yang sudah berlaku selama ini.
  • Marapulai dianjurkan singgah disetiap balai yang dilalui dan berbasa basi rokok  daun nifah daun sirih gak sahalai kepada orang yang patuik.

10. Sanksi-sanksi atas pelanggaran

  • Aturan adat yang telah dirumuskan dan disepakati oleh KAN Saniangbaka akan diberikan tenggang waktu untuk sosialisasi selama  1 bulan, melalui penyebaran surat edaran/Pamlet  kepada warga,  pengumuman di surau-surau, mesjid dan  aturan Alek Baralek mulai diberlakukan Tanggal 10 Juni 2010
  • Bagi siapa saja yang melanggar  aturan adat yang telah disepakati tersebut akan diberikan sanksi secara bertahap, bajanjang naik batanggo turun, baik berupa nasehat, teguran oleh ninik mamak dan dubalang adat suku yang bersangkutan.
  • Apabila teguran tidak dihiraukan sama sekali oleh sipelanggar, maka sanksi adat yang lebih tegas  berupa sanksi moril (diantaranya buruk baik pelanggar tersebut ndak diabehan).
  • Sanksi adat ditegakkan kepada siapa saja, artinya tidak pandang bulu (tibo diparuik indak dikampihan, tibo dimato indak dipiciangkan), Mandindiang indak sampai kalangik,maampang indak sampai kamuaro hanya saja dengan maksud demi tegaknya aturan adat, Semoga Saniangbaka betul-betul menjadi nagari yang beradat
  • Berkaitan dengan rang Saniangbaka yang melaksanakan baralek di rantau orang ketika pulang kampuang,  sebelum Marapulai diantaan ka rumah Anak daro menurut aturan adat Saniangbaka, tungganai, mamak, atau mantinya  terlebih dahulu  menyerahkan  uang adat  kepada KAN sebanyak Rp. 50.000.-. (lima puluh ribu rupiah)                 disalin  oleh .(Nusa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: