Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Lembaga Nagari Kurang Merespon, Hutan Ulayat Saniangbaka Dijarah Urang Tetangga

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Sekitar awal Maret 2010 , tujuah orang pemuda yang lebih tepat disebut  relawan peduli hutan ulayat Saniangbaka, mereka adalah : Kristison Kamil, Yongki, Naswar Mak Itam, Syaiful, Em, Novel, Wan.  Kabar burung  yang tersiar  bahwa ada penjarahan kayu di perladangan atau wilayah hutan  ulayat Saniangbaka.  Terdorong oleh rasa penasaran dan cinto ka Nagari maka  H. Alfi suku Piliang secara spontan  bersedia mendanai kelompok pemuda tersebut untuk melakukan perjalanan  ke rimbo Batuang Tabaka, Batu Bintang  lokasi yang dilansir  sebagai  lokasi penjarahan kayu.

Semangat  yang mengebu  membuat Tim Relawan lupa  mengkoordinasikan terlebih dahulu  dengan lembaga terkait.    Perbekalan  berupa nasi bungkus, air minum sudah disiapkan dan tidak ketinggalan Handy cam untuk  dokumentasi nantinya. Mereka berangkat dari  Balailalang   menggunakan Honda Ofroad. Sesampainya  di Jambak, Tim Relawan meneruskan perjalanan dengan  berjalan kaki, menelusuri jalan yang mendaki penuh semak belukar,  perladangan dan hutan dengan  nuansa nan  sangat alami. Di tengah  perjalanan Tim Relawan istirahat melepas lelah, sebagian menyempatkan untuk  mandi dan setelah itu makan siang  sambil  menikmati beningnya  air batang aia  Aia Bareh.

Sepanjang jalan Tim Relawan menemukan banyak bekas ladang kopi dan pondok yang telah roboh ditinggal pemiliknya atau tidak lagi digarap, di antara Tim Relawan ada  yang masih tahu persis nama pemilik ladang atau  seperti  parak milik Piri Kudun, parak Tan Pakih.   Konon kabarnya  sekitar belasan tahun yang lalu  ketika harga kopi dan cengkeh pada turun, hal demikian  menurunkan minat dan selera untuk berladang.  Tak lagi bisa bertahan dengan kondisi demikian akhirnya bayak diantara para pemilik ladang tersebut hijrah  alias sudah alih profesi mengadu nasib merantau di negeri orang.

Satu jam lebih melanjutkan perjalanan  Tim Relawan sudah mulai menemukan beberapa pohon kayu besar yang hanya tinggal tunggua, entah siapa yang menebang. Perasaan dan pikiran semakin geram dan  tak menentu,  akhirnya sampailah Tim Relawan di lokasi rimbo  Batuang Tabaka, Batu Bintang. Suara mesin sinso sudah mulai terdengar maraung-raung. Tim Relawan terus mendekati sumber bunyi sinso yang merupakan   lokasi penebangan kayu.  Hingga Tim Relawan memergoki  anggota penebang kayu sebanyak 7 orang  sedang asyik mensinso, sebagian lagi melakukan pengerjaan sebagian kayu yang sudah siap disinso. Bisingnya sura mesin sinso  menyebabkan mereka tak mendengar pergerakan Tim Relawan dan   sudah mendapati Tim Relawan berada  di depan mereka. Perasaan gugup dan takut tersirat  di wajah mereka tersebut karena  mereka tak menduga sama sekali kedatangan Tim Relawan.

Mengingat situasi yang sedikit agak tegang, maka untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan  maka Tim Relawan hanya memberikan semacam pertanyaan investigasi  dan tidak ada penyitaan-penyitaan barang bukti. Jawaban yang diberikan oleh rombongan penebang liar/penjarah diakui bahwa mereka merupakan orang  nagari tetangga,  tepatnya Ujung Ladang. Mereka sudah 4 tahun lebih melakukan aksi seperti ini. Tim Relawan hannya memberikan peringatan (warning)  agar jangan pernah  diulang lagi.

Ketika Tim Relawan sudah  kembali dan sampai  ke rumah maka Tim Relawan  memberikan laporan secara lisan kepada lembaga terkait  yang ada dalam nagari. Kendati sudah dilaporkan  bagaimana dan apa saja temuan  selama perjalanan namun  tidak mendapat tanggapan yang berarti. Jawaban yang diberikan  bahwa dalam hal ini  pemilik lahanlah yang mesti membuat pengaduan kepada pihak yang berwajib. Jangan  heran  hingga sekarang ini tak ada bentuk penyelesaiannya. Maksud dari Tim Relawan dan atas nama pemuda adalah perlunya sebuah tindak lanjut yang membuat efek jera bagi para pelaku.

Kasus atau permasalahan yang tengah dihadapi sekarang,  gangguan itu datangnya dari luar maka sudah barang tentu mekanisme menghadapi persoalan tersebut akan menjadi lain karena hal demikian menyangkut harkat dan martabat suatu wilayah nagari yang sudah berdaulat. Dalam hal ini  semestinya pihak yang  berkompeten dalam nagari melaporkan atau  memproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.  Apalagi kasus yang ada mempunyai  data dan barang bukti yang cukup.

Memperhatikan  ketentuan tentang Tanah ulayat  dalam alam Minangkabau, maka Tanah Ulayat  merupakan, cagar alam  kaum  yang biasanya  terdiri dari hutan yang jauh dari perkampungan  dan hutan yang dekat dari perkampungan  biasanya didekat kaki bukit, petuah adat mengatakan : hutan jauh  diulangi, hutan dakek dikundano . Hutan jauh didatangi  hutan dekat diambil  dipungut hasilnya. Realita  yang ada dewasa ini  banyak tanah ulayat nagari Saniangbaka yang terabaikan sehingga orang lain leluasa berbuat apa saja. Menyikapi persoalan seperti di atas maka sudah saatnya warga Saniangbaka kembali mengupayakan menggarap lahan yang tinggal kemudian lembaga pemerintahan nagari Saniangbaka punya konsep untuk penanganan kasus serupa.  (nusa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: