Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Mangecek, Beranjak Filosofi Alam

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Oleh Esha Tegar Putra

Alam takambang jadi guru, filosofi utama yang selalu dipakai oleh masyarakat Minang, baik di kampung atau di perantauan. Filosofi ini dikenal sebagai ikhwal cara masyarakat Minang dalam memandang  dan memaknai alam yang terbentang. Alam sebagai ruang lapang yang harus dipelajari sebaik mungkin, sebagaimana alam merupakan refleksi dari proses kehidupan manusia.

Alam dan segenap unsurnya mereka lihat senantiasa terdiri dari empat atau dapat dibagi dalam empat, yang mereka sebut nan ampek (yang empat). Seperti halnya: ada matahari, ada bulan, ada bumi, ada bintang, ada siang, ada malam, ada pagi, ada petang; ada barat, ada utara, ada selatan; ada api, ada air, ada tanah, ada angin. Semua unsur alam yang berbeda kadar dan perannya itu saling berhubungan tetapi tidak saling mengikat, saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan, saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan.

Unsur-unsur itu masing-masing hidup dengan eksistensinya dalam suatu harmoni,  tetapi dinamis sesuai dengan dialektika alam yang mereka namakan bakarano bakajadian (Navis, 1984). Jika dianggap berlebihan, setiap hembusan nafas orang Minang mungkin dimaknai dengan kalimat alam. Kalimat dimana proses perubahan dan gerak alam adalah proses yang mengikat hubungan manusia dengan ruang hidup yang diciptakan berimbang oleh Sang Khalik. Tak di lepau, tak di surau, tak di sawah atau ladang, setiap ucapan baik merupa petatah, petitih, mamangan, sambah andai, atau sekedar olok-olokan, segalanya diungkap berdasarkan alam.

Kita ambil saja satu contoh yang merujuk pada sumpah pengangkatan datuk: ka bawak indak baurek, ka ateh indak bapucuk, tangah-tangah digirik kumbang. Tak ada sumpah yang lebih sakral, sumpah yang lebih sumpah, dari ucapan yang berawal dari sebatang pohon tersebut. Alangkah malangnya sebatang pohon, tidak berakar, tidak berpucuk, di bagian tengah digirik kumbang pula.

Atau contoh lain, seketika beberapa orang, tua dan muda, duduk sambil ngopi-ngopi di lepau. Sambil main kartu koa, remi, atau domino mereka akan mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang beranjak dari alam. Semisal berungkap kalah taruhan, alah abih lo padi jo jawi. Ungkapan mengolok-olok seperti, “bantuak ciliang luko lari e”, “sagadang kabau badan e”, “balambin e bunyi cubadak masak”, “baun lauk tukai basah”, “sawah sapiriang tu se nan diabehan e”, dll—jika ditelisik, siapakah yang bisa memaknai ungkapan di atas kalau bukan orang Minang? (atau barangkali orang luar yang belajar tentang Minang). Meski ungkapan di atas bernada negatif, tapi begitulah alam dimaknai. Alam barangkali bukan cuma yang berada di sekitar, tapi sejauh mata memandang, sejauh apa yang terlihat dan dirasakan.

Beranjak dari filosofi alam tersebut, mulailah orang Minang hidup dengan kieh (bahasa kiasan) dan ibaratnya bukanlah orang Minang jika seseorang tak tau bahasa kieh, tak tahu kato nan ampek. Seseorang harus bisa meletakkan sesuatu (kato) pada tempatnya. Barangkali dari sini bisa dimahfumi, bagaimana tindak tutur masyarakat Minang dalam berbahasa (mangecek) dan berungkap, dimulai dengan membaca situasi alam melalui raso jo pareso.

Bahasa, sesuatu yang lahir dari persinggungan dengan alam mendapat tempat yang utama dalam masyarakat Minang. Jika boleh diibaratkan, tindak berbahasa bisa disamakan dengan tindak mangecek—pandai berbahasa atau mangecek, adalah modal utama, pokok padang-nya orang Minang dalam bergaul dalam masyarakat.

Atas dasar inilah saya mengusulkan pada redaksi majalah SARAN, selaku media tulis penghubung rantau dan kampung, media yang berniat mengasuh paham intelektual masyarakat Saniangbaka, media  yang terbuka dan demokratik—jika pun disebut kita di Saniangbaka berlaraskan Koto Piliang, terbukti sebagai nagari yang ditunjuk sebagai penyidik kerajaan Pagaruyung Camin Taruih Koto Piliang (bajanjang naiak, batanggo turun), akan tetapi kedekatan dengan demokratik Chaniago (duduk samo randah, tagak samo tinggi) perlu juga dipertimbangkan—untuk membuat sebuah kolom bahasa yang bisa diisi oleh siapa saja. Barangkali nantinya akan muncul petatah-petitih lama secara tertulis, yang selama ini hanya sebatas ucapan. Atau setidaknya kita bersama bisa memaknai sebuah kata (ciek kato), dalam perspektif yang luas.

Satu kata dalam bahasa Minang saja, bisa ditarik ke dalam ragam pemaknaan, ke ragam permasalahan. Satu kata merupakan filosofi, sebuah proses lingual membutuhkan waktu yang panjang dalam menghadirkannya. Untuk itu, selaku anak nagari Saniangbaka yang bergiat di ruang bahasa dan sastra, ruang kebudayaan. Saya ingin memulai kolom bahasa tersebut, sebagai contoh barangkali, tapi tidak dalam tataran mengajar atau medahului. Sebatas berbagi apa yang didapat, layaknya perantau yang berbagi materi untuk pembagunan nagari. Barangkali tulisan ini, atau kolom bahasa yang dibuat bisa untuk kita saling berbagi pengetahuan.*

Tentang Penulis:

Esha Tegar Putra, cucu dari Jaruni Tamin, bersuku Balaimansiang, rumah gadang Baranjuang jalan ka Pasia Udang. Peneliti muda di Pusat Penelitian Sastra Indonesia, Universitas andalas, Padang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: