Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Merefleksi Diri Melalui Pulang Basamo

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Oleh Nusa Jaya

Satinggi-tinggi malantiang

Jatuahnyo ka tanah juo

Sajauh-jauh tabang bangau

Suruiknyo ka kubangan juo
Makna yang dapat diambil, adalah yang pergi merantau itu diharapkan dan ditunggu kedatangannya lagi, jadi bukan merantau Cina. Pepatah tersebut dia tas sekarang seakan sudah terbantah karena menurut  realitanya   banyak mereka yang merantau memang tidak pulang – pulang. Artinya mencari penghidupan  di negeri orang hingga sampai meninggal dan dikuburkan di negeri orang juga. Kedatangan ke kampuang halaman bukan sembarang datang akan tetapi  kedatangan yang disertai  semangat memikirkan keluarga dan kampuang halaman, maka pulang basamo merupakan salah satu media mencapai  harapan nan mulia.

Pulang Basamo merupakan kata yang semakin familiar atau  akrab saja di telinga kita baik yang di kampung apalagi di rantau,  sebab ketika orang Saniangbaka bertemu dan berkumpul maka kata dan pertanyaan tentang itu akan sering muncul dan menjadi ota bagi  warga Saniangbaka. Kegiatan yang telah menjadi agenda empat tahunan  tersebut  akan digelar   dan jadwalnya sudah diambang pintu, Insyaallah dilansungkan  pada awal Juli 2010. Tak ayal  bagi   orang Saniangbaka yang di rantau sesuai dengan kondisi  masing-masing sudah membuat dua keputusan saja yaitu ikut atau tidak. Apapun keputusannya merupakan hal yang terbaik, akan tetapi  yang jelas hati kecil kita  pasti punya keinginan besar untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Daerah  rantau warga Saniangbaka berada di Pulau Jawa hingga ke Nusa Tenggara. Aneka usaha dan profesi yang digeluti untuk berjuang dan bertahan hidup dirantau orang. Beragamnya tingkat  perekonomian perantauan warga Saniangbaka adalah hal yang lazim karena merupakan dinamika kehidupan kayu di rimbo tak ada yang sama tingginya. Prinsip kehidupan yang dimaknai antara warga rantau dengan yang dikampuang halaman sangatlah  berbeda. Kehidupan di rantau sangat keras,sangat penuh persaingan (kompetitif). Bagi warga dirantau, pemenuhan kebutuhan hidup selalu dihadapkan kepada kalkulasi untung rugi yang penuh dengan perhitungan. Ritme kehidupan yang berpacu dengan waktu sangat terasa, sehingga semangat  kerja didorong oleh prinsip kalau tidak bekerja tidak makan. Pokoknya bagi orang rantau tidak banyak waktu untuk berleha-leha.

Rencana dan persiapan kegiatan Pulang Basamo sudah disosialisasikan. Semua itu dengan suatu harapan agar bagaimana perhelatan tersebut berjalan lancar. Meninggalkan untuk sementara waktu kesibukan di rantau orang adalah sebuah pengorbanan yang tak terhingga semuanya melalui  perhitungan “bapai batinggalah’. Keikutsertaan  dalam Pulang basamo tersebut  juga  dapat diartikan sebagai bentuk kecintaan dan  kepeduliaan kepada tanah kelahiran. Pulang Basamo kesempatan mengendapkan pengalaman, plus menyusun energi demi bertarung hidup lagi dirantau orang, sebetulnya ada sebuah keinginan untuk kembali ke mata air kehidupan, itu semua  masih diperoleh  ditengah  suasana kampuang halaman  yang hening dan polos.  Makna Kepulangan ke kampuang halaman demikian bila disadari  dengan sepenuh hati, maka sudah tentu moment empat tahunan ini tidak akan dilewatkan begitu saja.

Pulang Basamo yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan, secara lansung atau tidak lansung juga    menjadi salah satu media untuk mengokohkan kembali jati diri  sebagai orang minang  yang telah banyak berbaur atau  terkontaminasi dengan beragam budaya lainnya.   Kondisi demikian mempengaruhi kepribadian  warga rantau. Minimnya  pemahaman dan wawasan sebagian besar warga rantau  tentang adat minang, kalau tidak disertai dengan sebuah kesadaran   dan upaya yang konkrit maka  boleh jadi adat minang bagi orang yang mengaku orang minang   akan menjadi asing atau tinggal  cerita .

Momen pulang basamo memberi ruang dalam sanubari masing –masing untuk berkontemplasi (merenung) atau malah untuk merefleksi diri terhadap perjalanan hidup di dunia ini.  Kehidupan masa kecil hingga remaja yang pernah dilewati dan habiskan semasa di kampuang halaman masih tersimpan    dalam memori masing-masing.

Mungkin pertanyaan yang agak  nakal  muncul. Apakah perubahan pada diri dan nagari saya sekarang? Adakah sesuatu yang hilang pada generasi sekarang? Jasa apakah yang telah kutaburkan untuk keluarga dan nagari  saya? Apakah saya hanya pandai berpikir dan   menyalahkan lalu bagaimana sebaiknya  keluarga  dan nagari saya ke depannya?  Walaupun semua ini terkesan  berlawanan  kalau kita meminjam motto pabrik  Semen Padang “ Kami telah berbuat sebelum orang lain memikirkan “ tapi tak apalah biar terlambat dari pada tidak sama sekali.

Ditinjau dari sudut  sejauh mana warga yang menjadi peserta Pulang Basamo  mengenal Saniangbaka, maka setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok. Pertama,  warga  yang tahu betul  dengan kondisi di kampuang sekarang ini karena selalu komunikasi dengan yang di kampuang atau  acap kali pulang kampuang. Kedua, ada warga yang  sudah lupa-lupa ingat. Kelompok ketiga,   adalah mereka  yang belum tahu sama sekali dengan Saniangbaka karena lahir  dan besar di rantau orang.  Kelompok yang terakhir  merupakan fakta  yang tidak bisa dipungkiri  dan ini merupakan persoalan yang harus disikapi.

Ketidaktahuan terhadap nagari asal Saniangbaka pernah terungkap melalui pengakuan seorang  yang tidak asli pribumi telah bermukim lama  di Saniangbaka bahwa adanya salah seorang anggota keluarga  pemilik sawah yang digarap ketika  pulang kampuang  tidak  tahu sama sekali di mana  lokasi dan berapa luasnya  sawah milik keluarganya yang digarap  tersebut. Ada pula seorang anak muda yang sudah lama merantau tapi tak kenal dengan kerabat dekatnya dan panggil sebutan apa pada kerabatnya tersebut.

Fakta yang dikemukakan merupakan suatu hal tidak diinginkan dan tak akan terjadi jikalau mamak, ayah ibu menunjuk ajari hal-hal yang perlu diketahui anak kemenakanya,  ataukah  fakta di atas dikarenakan bahwa gaya hidup zaman pada modern   sekarang ini hidup nafsi-nafsi. Kepemilikan terhadap harta pusaka berupa  sawah dan ladang tidak penting karena  tidak  lagi menjadi ukuran martabat seseorang, keluarga, dan keturunan.

Dengan adanya Pulang Basamo merupakan salah satu jawaban agar perantau  Saniangbaka   dapat mengenal lebih dekat tanah leluhur Saniangbaka. Seperti bak kata kata orang “ tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Ketika warga peserta pulang Basamo sudah  berada di kampuang halaman maka saat itu akan menemukan dan menyimpulkan sendiri  uneg uneg yang menggelayut dalam hati dan pikiran masing-masing.

Bisa jadi jawabannya adalah: ternyata anggota keluarga saya masih akur atau sebaliknya sudah nafsi-nafsi. Maabehan untuang surang surang ternyata,   jalan sudah diasak orang lalu, cupak lah diganti orang mangaleh. Ternyata  nagari saya masih jauh tertinggal dalam segala hal. Ternyata teman sejawat saya ada yang sudah sukses ada yang belum, malah ada yang sudah duluan dipanggil  sang khalik.  Ternyata keradaan saya sebagai anak, warga belum banyak memberi manfaat pada orang terdekat atau masyarakat banyak dan banyak lagi ternyata-ternyata lainnya.

Hal yang jelas, apapun jawabannya nanti ada yang bisa disalurkan sesuai  prosedurnya ditindak lanjuti  sebagai masukan untuk perbaikan dan  kebaikan nagari Saniangbaka di masa –masa yang akan datang, sebab siapa lagi yang berkontribusi untuk membangun Saniangbaka kalau tidak warga Saningbaka. Begitu juga dengan  pemimpin  lembaga  masyarakat Saniangbaka harus punya political will atau kemauan yang tulus untuk berbuat dan berbenah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: