Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Pulang Basamo, Momentum Menggali Potensi Untuk Membangun Nagari

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Oleh Hendrizal Adnan *)

Antusias warga IWS dalam mempersiapkan pulang basamo, 1-9 Juli 2010 sudah mulai menggeliat. Dengan dukungan unsur-unsur di Nagari dan DPP IWS, Panitia pulang basamo dan DPC-DPC IWS telah menyusun berbagai program kegiatan yang akan dilaksanakan. Meskipun demikian, masih ada warga IWS yang sangsi dan pesimis terhadap kegiatan pulang basamo tersebut. Tulisan ini mencoba untuk menawarkan program kegiatan yang dapat lebih memberikan makna dan manfaat bagi Nagari dan seluruh warga IWS.

Program Kegiatan Pulang Basamo

Pulang basamo merupakan ajang tempat berkumpulnya segenap warga IWS dari perantauan di Nagari pada saat bersamaan dengan mengadakan berbagai program kegiatan berupa batagak gala, lomba olah raga dan kesenian, bazaar, baralek, dan sebagainya. Bahkan dulu pernah ada seminar atau musyawarah nasional yang membahas semua aspek pembangunan Nagari.

Umumnya program kegiatan tersebut lebih bersifat sesaat dan lebih bertujuan untuk memeriahkan acara pulang basamo dan setelah itu kembali ke tempat semula masing-masing. Program kegiatan tersebut menjadi sangat menarik karena mampu mengembalikan rasa rindu terhadap Nagari, dapat bertemu dengan teman-teman lama dan pengenalan Nagari kepada anak kemenakan.

Kegiatan pulang basamo dapat juga diisi dengan program jangka menengah atau panjang yang bersifat strategis bagi Nagari dan warga IWS. Agar dapat direalisasikan, program kegiatan tersebut sebaiknya cukup satu atau dua saja sehingga lebih fokus dan terarah. Tentunya program kegiatan tersebut dipilih berdasarkan prioritasi dengan mempertimbangkan ruang lingkup dan arti pentingnya bagi kehidupan Nagari dan warga IWS.

Sumber Daya Saniangbaka

Nagari Saniangbaka memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang begitu besar. Danau Singkarak dan batang air terdapat ikan bilih, ikan sasau, rinuk, dan sebagainya. Lahan persawahan dengan hasil pertaniannya, lahan perbukitan dan pegunungan dengan hasil perkebunan dan barang tambang di bawahnya.

Saniangbaka memiliki bentuk yang tiada duanya. Dengan bentuk hampir bulat dan dikelilingi lahan persawahan dan dibelah batang air ditengahnya. Pada satu sisi berbatasan dengan Danau Singkarak, pada sisi lain dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Tata letak demikian sangat menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahannya.

Dari sumber daya manusia, anak-anak Nagari telah menghasilkan karya seni budaya yang tinggi, barang kerajinan dan hasil makanan olahan yang khas dan tidak kalah menariknya dibandingkan dari daerah lain. Selain itu, warga IWS saat ini telah memiliki berbagai profesi seperti pegawai, pedagang, pengusaha, sarjana, dosen, seniman dan sebagainya. Bahkan dari sisi pendidikan telah ada yang memperoleh gelar doktor.

Berbagai potensi tersebut apabila dikelola secara tepat, bukan tidak mungkin akan memunculkan suatu energi besar yang dapat menggerakkan semua aspek kehidupan Nagari dan warga IWS.

Potensi Untuk Dikembangkan

Seperti yang telah disebutkan di atas, Saniangbaka kaya akan sumber daya yang dimilikinya. Saat pulang basamo nanti merupakan waktu yang tepat bagi warga IWS untuk menggali kembali potensi tersebut.

Mungkin diantara kita sudah banyak saat ini dengan mudah mendapatkan hasil kerajinan dan makanan olahan dengan rasa dan bentuk khas Sumatera Barat di toko-toko dan pusat swalayan di kota-kota besar. Hasil sulaman dan kerajinan dalam bentuk aksesori dan hiasan dinding, taplak meja, sarung bantal, sandal, jilbab, mukena dan berbagai jenis dan motif pakaian muslim, sapu lidi ijuk, lapik rotan dan sebagainya. Ikan bilih Singkarak di rumah makan, makanan olahan kemasan seperti kerupuk sanjai, keripik kentang, kalomoyang, kipang, kacang tojin, kacang kadebo, karupuk jangek, dan sebagainya baik sebagai makanan hidangan atau camilan.

Produk-produk tersebut umumnya yang didatangkan dari daerah-daerah di Sumatera Barat dan pembelinya tidak hanya orang-orang Minang di perantauan, juga masyarakat umum. Bahkan, ada yang diekspor ke luar negeri.

Hasil kerajinan dan makanan olahan Saniangbaka tidak kalah menariknya dibandingkan daerah-daerah di Sumatera Barat. Salah satu contohnya adalah sulaman benang emas yang pengrajinnya saat ini sudah semakin langka. Kalau ada pun ada, umurnya sudah tua atau ada di perantauan.

Hasil sulaman benang emas Saniangbaka biasanya hanya digunakan untuk hiasan dan perlengkapan baralek. Namun, tugas kita sekarang adalah selain melestarikannya juga bagaimana dapat memberi nilai tambah sehingga memiliki nilai ekonomis dan layak dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumen baik sebagai perlengkapan baralek maupun untuk berbagai hiasan dan aksesori.

Dengan pola kemitraan dan saling menguntungkan dapat dilakukan proses produksi, pemasaran dan pendanaan secara bersama-sama. Untuk kualitas disain grafis, kemasan dan kapasitas produksi dapat dikembangkan oleh para pengrajin dan sarjana kita. Hasil produk dapat dibeli oleh wisatawan yang berkunjung ke Nagari atau dipasarkan ke luar daerah melalui pedagang dan pengusaha kita yang tersebar di perantauan. Sedangkan pendanaan dapat dilakukan melalui lembaga keuangan mikro atau dari pedagang dan pengusaha IWS sendiri.

Adanya hasil kerajinan dan makanan olahan yang dapat dijual tersebut diharapkan akan menumbuhkan home-home industri yang mampu menggerakan perekonomian kerakyatan Nagari Saniangbaka. Selain menciptakan lapangan kerja, munculnya home-home industri tersebut juga akan membuka peluang wirausaha dan pemberdayaan masyarakat di Nagari dan perantauan. Dengan semakin sejahteranya kehidupan perkenomian, selanjutnya akan menggerakkan sektor-sektor lainnya.

Persiapan dan Pelaksanaan

Untuk menggali kekayaan hasil kerajinan dan dan makanan olahan tersebut, kita perlu memanfaatkan saat pulang basamo dalam bentuk satu kegiatan khusus, misalnya dengan melakukan pameran satu atau dua hari. Pengunjung dapat melihat-lihat, menikmati dan membeli barang-barang yang dipamerkan. Bahkan pada saat pameran tersebut dapat juga dilakukan perlombaan berdasarkan hasil penilaian juri atau pengunjung.

Setelah pelaksanaan pameran, panitia dengan melibatkan segenap unsur-unsur Nagari dapat melakukan diskusi khusus untuk membahas tindak lanjut mengenai produk-produk unggulan mana yang layak diangkat dan dijual. Agar pelaksanaan program ini dapat berjalan lancar sebaiknya dibentuk tim khusus yang akan merumuskan, merealisasikan dan menjaga kontinuitas program. Bisa mungkin setelah pulang basamo diperlukan koordinasi lebih lanjut atau dikembangkan lagi pada pulang basamo berikutnya.

Alangkah indahnya suatu saat nanti Saniangbaka juga memiliki “icon” produk kebanggaan sendiri, seperti Silungkang dengan kain sarung, tikar rotan dan sapu ijuknya, Pandai Sikek dengan sulaman songketnya, Padang dengan kerupuk sanjai Christine Hakimnya, dan sebagainya.

Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya tidak mudah, seperti membalikan telapak tangan. Kita memerlukan waktu, proses, upaya, komitmen dan kebersamaan dari segenap dari unsur Nagari dan warga IWS di perantauan.

*) Penulis: Suku Koto Bawah Kaluang, berdomisili di Bogor dan staff salah satu bank BUMN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: