Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Renung-renungilah, sembari bermuhasabah (2) :

Posted by majalahsaran pada Juni 6, 2010

Saniangbaka Sepatutnya kembali Kepada Adat Bersandikan Syara`
Oleh   M Aktifanus Jawahir
(email : manja58@yahoo.com/blog: http://arbuku.wordpress.com )

Saya menjadi teringat kenapa almarhum Abuya Imam Jawahir Datuk Bandaro Aceh, tidak mau jadi wali nagari, begitu pula dengan almarhum Kakanda Abdul Kadir Datuk Rangkayo Marajo, yang baru berpulang kerahmatullah pada akhir tahun lalu. Beliau-beliau ini, kerena lama tinggal di nagari dan sangat mengerti budaya dan perangai orang nagarinya. Beliau-beliau tidak mau hidupnya diakhiri dengan kejatuhan buruk dalam konteks penilaian orang Saniangbaka, hanya karena menjadi wali nagari.

Penilaian baik hanya sementara, penilaian buruk seolah-olah sepanjang hidup, dan bilakah perangai seperti ini akan berubah, kita tidak boleh mengubahnya, makanya jalan terbaik sebagaimana kata Hamka sayang nagari tinggal-tinggalkan, tetapi jiwa dan fikiran kita tidak pernah melupakan Saniangbaka. Paling tidak bagi yang tinggal di nagari, berhijrahlah dari perangai lama yang tidak baik sebahagian orang Saniangbaka ke arah cara hidup yang lebih mengutamakan kasih sayang dan akhlaq  yang mulia.

Saniangbaka, sebagai bahagian dari komuniti besar keluarga Minangkabau, marilah kita kembali kepangkal jalan; kembali kepada adat yang indah dan terhormat, penuh sopan santun dan kelembutan, kita hilangkan budaya mengumpat di belakang, biasakan berterus terang dengan sopan dan bahasa yang halus, bicarakan langsung dengan Wali Nagari dan pihak-pihak yang mau mendengarkan suara kita. Tegakkanlah adat itu dengan dasar syara’ atau syari’ah, ajaran Islam yang terlalu luas ilmu-hikmah dan sangat tinggi akhlaq dan peradabannya. Islam mengajarkan segala-galanya; sense of solidarity, sekaligus menumbuhkan semangat keterbukaan, terus terang, pada masa yang sama menjaga ukhuwah dan persaudaraan.

Janganlah adat basandi syarak, dan syarak bersandikan Kitabullah, sekedar slogan kosong, sekedar pemanis mulut, pelipur lara hati yang hampa, jadikanlah ianya untuk dihayati dan diamalkan dengan ilmu dan kekuatan akhlaq Islam yang agung itu, sahingga kita betul -betul memiliki karamah insaniah yang dicintai oleh manusia lain, tetapi lebih dari itu sangat dikasihi oleh Allah SWT. Hidup kita hanya sekali, janganlah dipersia-siakan diisi dengan lagho, fitnah, dusta dan perbuatan yang tidak bermanfaat buat diri kita dan merugikan orang lain, malahan ianya sangat tidak ada nilai disisi Ilahi, bahkan kita termasuk orang yang rugi bukan hanya didunia, lebih-lebih lagi di akhirat sana.

Alangkah manisnya petatah-petitih Minangkabau “Nan kuriek iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baik iyolah budi nan indah iyolah baso (bahaso).  Ini acuan kecil dalam setiap kita berbicara, berfikir dan bertindak, fikirkan dulu secara baik, masak dan matang agar akibat dari ucapan dan tindakan kita tidak menyakiti orang lain, apalagi orang kampung kita sendiri dan harus ingat, pada kesempatan lain sakit hati dan kecewanya orang lain, juga boleh menimpa kita pada waktu dan kesempatan yang lain.

“Pucuk paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang-lenggangan, anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan. Ini falsafah dan artinya sangat luas, bukan hanya berkaitan dengan bantuan  material yang zahir, tetapi jiwa dan rasa raso jok pareso, harus mampu kita hayati dan kembangkan oleh semua anak nagari, yang bermakna kalau dijadikan hukum dialektika dan selalu berputar ditempat yang sama. Semua masalah tidak akan jadi masalah, dan kalau ada masalah baru ianya dapat diselesaikan dengan sangat kreatif dan dinamis, penuh kekerabatan dan persaudaraan, asasnya bersatu kita teguh bercerai kita rubuh.

Toh kita sesama orang Saniangbaka, semuanya bersaudara, kalau tidak bersaudara berarti dia bukan urang Saningbaka, pucuk bajelo urek baampeh, kemanapun kita berputar atau kawin dengan orang Sa niangbaka, sebelumnya tetap dunsanak atau saudara kita, jika tidak sepupu, dua pupu atau tiga pupu, paling kurang adalah persaudaraan kerana suku atau pertalian darah yang agak jauh, ini sudah pasti. Awal tahun 80-an, Kakanda Sjahruddin Khatmi Rangkayo Mudo menjadi wali nagari, saya salah seorang pengkritiknya, saya bicara berhadapan dan terus terang di depan pertemuan warga Saningbaka di Surau Gadang selepas puasa tahun 1982, semua kritik disampaikan dengan ikhlas, tanpa niat lain, Alhamdulillah kini setelah beliau tidak menjadi Wali nagari hubungan kami tetap hangat dan penuh persaudaraan.

Jadi marilah kita kembali ke pangkal jalan, selesaikan masalah ini dengan baik, tenang dan kesabaran yang panjang, karena kalau kita tetap saja jatuh menjatuhkan, siapa lagi yang akan menjadi wali nagari. Ada yang mau dijatuhkan lagi dengan cara seperti ini, akhirnya yang terjadi sepanjang sejarahnya di masa datang adalah, kerja kita jatuh menjatuhkan, hasilnya pasti tidak akan ada lagi orang akan menjadi wali nagari. Marilah kita berembuk bersama; Dasrizal perlukan kesabaran, ambil hikmahnya, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai tungku tigo sajarangan, DPP IWS dan semua IWS di seluruh rantau, ayo bermusyawarah dengan kepala dingin, hati yang jernih dan cari penyelesaian, bukan meneruskan kekusutan dan pertengkaran.

Kepada Saran jadilah media dan mediator, yang baik berada di tengah-tengah, dan mampu memberikan problem solving, sehingga untuk terbitan akan datang warga dan pembacanya, akan mendapatkan ilmu atau bahan yang cerdas, dalam penyelesaian masalah ini, bukan menambah kusut dan memeningkan kepala warga dan pembacanya, yang akan menjadikan Saran untuk terbitan masa mendatang, ditunggu-tunggu oleh warga dan pembaca, kerana di dalamnya penuh dengan pil atau kapsul yang berisikan mutiara hikmah dan hujah-argumen yang bermutu, sebagai obat penyelasai masalah-masalah yang terjadi di nagari dan di rantau.

Pengalaman saya beberapa bulan yang lalu, menghadiri sebuah Musyawarah Cabang IWS yang tidak perlu disebutkan nama tempatnya, selama 4 jam tidak dapat menyelesaikan persoalan yang biasa dan sangat sederhana, karena pimpinan sidang tetap mengulang itu ke itu dan peserta yang agak emosi tidak dapat dengan cerdas mengedepankan ide, untuk segera menyelesaikan pokok persoalan yang dibicarakan.

Maaf, saya menyebutkan pengalaman dengan dua ormas di Malaysia, satu tingkat nasional Malaysia dan satu tingkat Asia, 3 sampai 6 persoalan besar dapat diselesaikan hanya dalam masa 2 sampai 3 jam. Yang penting bagaimana kita memanej waktu dan menguruskan isu yang berkembang dengan baik, ada nilai intelektual dan penuh kedewasaan.

Untuk  itu biarlah semua pihak, di nagari dan rantau marilah kita dukung Dasrizal sampai habis periodenya. Setelah itu baik Dasrizal maupun pemilih harus melakukan shalat Istikharah, apakah Dasrizal masih mampu untuk menjadi wali nagari ataupun dia sudah tidak mau. Sebaliknya pemilih di samping melihat dengan mata yang zahir calon-calon baru, beristikharahlah kepada Ilahi semoga diberikan pengganti wali nagari yang lain.

Harapan kita tentu lebih baik dari sebelum-sebelumnya, dengan satu janji-iktikad dan iltizam, di masa datang tidak lagi mengulangi karenah lama, mengkreasi konflik dan silang sengketa. Bukan hanya dengan Wali Nagari, tetapi antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok, yang tidak menarik untuk diratapi di zaman moderen ini. Tulisan saya ini tidak ada kepentingan apapun, kecuali karena cinta kepada nagari yang merupakan secebis amanah Ilahi di persada bumi yang luas ini, untuk tidak kita nodai dan khianati, Wallahu’alam. (habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: