Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Saran ke Depan Diharapkan Lebih Dinamis

Posted by majalahsaran pada Januari 15, 2011

Oleh Musfiardi Amwa

Sebagai mana telah diketahui bahwa majalah Saran adalah media yang sangat dibutuhkan kehadirannya oleh hampir seluruh warga Saniangbaka di manapun berada.  Melalui media inilah warga kita dapat mengetahui berbagai informasi dan kabar yang telah ada di sebagian urang awak yang di rantau dan kampung halaman. Walaupun sajian informasi yang diberikan Saran belumlah seaktual dan sebaik kabar dari media lainnya, tapi kehadirannya  cukup memberi  rasa senang dan menghibur warga . Ini disebabkan adanya hal tertentu yang ditunggu, terutama khabar tentang perkembangan kampung halaman serta khabar dari daerah perantauan.

Ini tentu sudah menjadi suatu catatan penting bagi kita semua, meskipun sangat sederhana, kebutuhan informasi melalui majalah Saran sangatlah tinggi. Tentu warga kita sangat berharap, media ini selalu hadir di tengah mereka, yang di rantau akan dapat melepas sedikit kerinduan pada sanak keluarga dan kampung halaman. Begitu juga sebaliknya, yang di kampung juga dapat mengetahui bagaimana sanak keluarga mereka yang di rantau.

Justru yang sering terjadi dan kita lihat selama ini, perjalanan media sungguh sangat memprihatinkan. Sudah tidak terhitung kalinya, sejak terbit di era tahun 70 an, kehadirannya selalu hilang timbul. Pada suatu masa, terbit beberapa edisi dan tak lama kemudian hilang lagi, bahkan tak terbitnya sampai dalam jangka waktu lama. Tentu masih segar dalam ingatan kita, Saran terbit lagi di awal tahun 2009 dan terbit sampai menjelang pelaksanaan Pulang Basamo Juli 2010.

Pada periode ini, ada sebanyak enam edisi yang terbit. Tak disangka, di saat warga kita sedang menunggu berita hangat tentang apa dan bagaimana tentang Pulang bersama, ternyata Saran tak hadir juga. Jelas, hampir seluruh warga kita yang telah akrab dengan Saran, tentu sangat kecewa dan selalu bertanya-tanya bagaimana dengan kelanjutan dengan media ini. Kejadian ini persis seperti kegiatan Pulang Basamo tahun 2006, Saran terbit beberapa edisi sebelum pelaksanaan Pubas, setelah itu menghilang lagi dalam waktu lebih dari 2 tahun. Tak mudah memang untuk menjelaskan ke warga kita, ada apa dengan Saran hingga begitu kondisinya.

Tampaknya inilah tantangan bagi pengelola Saran. Perlu ada upaya yang maksimal agar nasib Saran tidak seperti yang sudah-sudah. Berbagai masukan telah diperoleh dari berbagai unsur  warga kita, terutama  melakukan reformasi dalam pengelolaannya. Disamping terobosan dalam pembiayaannya, dan tak kurang penting adalah mengajak generasi baru yang  mempunyai kompetensi  pengalaman dan waktu cukup untuk  pengelolaan sebuah media informasi dan komunikasi. Sementara para senior yang kini masih bersedia untuk mengelola majalah ini memberi  kesempatan yang seluas-luasnya pada generasi muda kita untuk terlibat baik dalam proses penggalian informasi maupun dalam pengelolaannya. Tanpa itu semua, tidak tertutup kemungkinan dalam waktu tak lama Saran  akan tenggelam lagi. Yang sangat dikwatirkan nanti, apabila keadaan seperti ini terus terjadi adalah rasa antipati  dari warga kita. Warga Saniangbaka di rantau dan di kampung, benar benar tak butuh lagi pada kehadiran Saran. Ini tentu sangat tidak kita harapkan terjadi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: