Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Pubas Membuat Kita Terlena?

Posted by majalahsaran pada Januari 19, 2011

Keterlambatan penerbitan Majalah SARAN membuat tanda tanya besar sejumlah orang. Pertanyaan itu juga dialamatkan kepada  Pemimpin Redaksi Majalah SARAN, H Usman Yatim. “Ya, saya ditelepon beberapa orang, di antaranya dari Temanggung yang beberapa kali menanyakan kenapa SARAN tidak juga terbit?,” kata Usman Yatim, saat berbincang dengan Ketua Umum DPP IWS H Yunasril Anga dan Pemimpin Umum SARAN H Sudasril Darwis di Jakarta, pertengahan Desember lalu.

Menurut Usman Yatim, keterlambatan penerbitan SARAN sebetulnya klasik, terutama soal dana penerbitan dan kondisi para pengelolanya sendiri. “Harus diakui, SARAN terlambat terbit karena dana untuk cetak tidak ada dan oleh karena itu semua pengasuh lebih disibukkan dengan urusan pribadi masing-masing,” ujar Usman.

Lantas, mengapa dana penerbitan SARAN sampai defisit, tidak ada? “Saya kira semua ini karena kita terlena setelah pulang basamo. Kabarnya, Pubas sukses besar, pesertanya luar biasa. Nah, karena  yang jadi panitia pubas adalah DPP IWS dan DPC-DPC IWS maka mereka tentu merasa puas, sekaligus kelelahan dan terus terlena, lupa dengan Majalah SARAN,” kata Usman Yatim, mantan Ketua IWS Pusat Jakarta yang pada masa periodenya menggelar Pulang Basamo pertama kali, sekaligus Mubes IWS Pertama yang membentuk DPP IWS periode pertama pula.

Usman mengatakan, seharusnya begitu selesai Pulang Basamo, masih ada semangat dan gairah untuk menyebarluaskan tentang kesuksesan penyelenggaran Pubas. Namun nyatanya, DPP dan DPC IWS tidak terlihat berkeinginan untuk cepat-cepat mensosialisasikan hasil Pubas. Mungkin karena menganggap hampir sebagian besar urang perantauan ikut pubas, jadi tak perlu disuarakan lagi oleh SARAN. “Toh, semua sudah pada tahu bahwa pubas berlangsung sukses dan meriah,” ujar Usman lagi.

Selain itu, lanjut Usman, beberapa orang pengelola SARAN yang ikut Pulang Basamo, juga tampaknya terlena dengan gairah pulang basamo. Mereka juga terlihat adem ayem, tidak begitu antusias segera melaporkan kesan perjalanannya mengikuti Pubas. “Saya kira mereka juga terlena dengan Pubas, kecuali mungkin pak Eklapi yang beberapa kali minta SARAN dapat terbit sebelum atau menjelang Idul Fitri. Sayangnya, suara pak Eklapi juga kurang lantang, mungkin beliau juga disibukkan tugas rutin dan sekaligus harus ikut manasik karena mau pergi naik haji,” kata Usman.

Menurut Usman Yatim, majalah SARAN adalah milik urang Saniangbaka. Terbit atau tidak, apalagi soal keterlambatan tergantung dari urang awak sendiri. Dalam hal ini, sangat ditentukan oleh para tokoh nagari, baik yang ada dalam DPP IWS, DPC IWS, dan pemuka dalam nagari. “Saya bukan penentu tapi sekadar membantu. Apalagi saya sudah terlalu lama, perlu diganti orang baru. Orang seperti pak Nusa Jaya, bila dia di Jakarta, saya kira sangat bagus memimpin SARAN,” tutur Usman .

Usman sangat setuju, Ketua Umum DPP IWS Yunasril Anga akan meminta DPC-DPC IWS, terutama yang memiliki anggota cukup besar  ikut bertanggungjawab dalam pembiayaan SARAN. “Pengelolaan dengan model sekarang yang sudah dibuat Haji Sudasril Darwis sudah bagus, cuma perlu dukungan DPP dan DPC-DPC IWS,” ucap Usman Yatim. (pr)

2 Tanggapan to “Pubas Membuat Kita Terlena?”

  1. Kalau ka ma ngirim berita ke saran, kama dikirim (alamat emailnyo) ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: