Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Asa Yang Hilang

Posted by majalahsaran pada Agustus 22, 2011

Oleh Afriyadi Sutan Bagindo

Entah mengapa pagi ini terasa enggan beranjak pergi dan dingin yang masih menusuk, menahan buliran embun yang mau jatuh di daun keladi samping rumahku. Juga hamparan sinar mentari pagi telah meninggi masuk menyeruak di antara celah ventilasi kamar tidurku. Di sana aktifitas kehidupan telah bergerak menemukan titik temunya. Begitu juga adik perempuanku Naila, yang masih duduk di kelas satu SD, juga mau berangkat bersama kakaknya, Bintang,  ke sekolah. Walaupun begitu tetap saja pagi ini terasa hampa tanpa warna.

Di ruang tengah, kulihat Bapakku masih duduk terpaku di kursi reot yang telah lapuk dimakan usia. Mungkin seumuran Bapakku, “karena itu adalah peninggalan kakekmu satu-satunya,” katanya padaku suatu ketika. Entah sudah berapa gulungan enau atau daun nipah diisapnya.

Itupun setelah bapakku tak mampu membeli rokok kretek yang makin mahal saja harganya untuk ukuran orang sepertinya. Segelas kopi masih utuh dihadapannya, mungkin sudah dingin atau basi tanpa disentuhnya. Mungkin juga kopi itu di lidahnya terasa pahit dan getir. Segetir hari-hati yang dilalui sepanjang hidupnya.

Dengan tatapan mata yang nanar dan kosong seakan ingin menembus ruang dan waktu. Mungkin saja bapakku berharap, seandainya dapat kembalikan waktu. Dia ingin Saniangbaka seperti dulu lagi. “Saniangbaka yang elok, subur dan makmur. Penuh tata karma dan penuh kesopanan, tidak seperti sekarang,” umpat bapakku sambil membanting sisa rokok nipahnya.

Yah, hampir seminggu ini pekerjaan bapakku,banyak melamun. Suatu rutinitas yang jarang dilakukan selama ini. Baginya kerja itu adalah harga mati. Kerja tanpa ritme, sering bapakku lupa waktu, bukan untuk menjadi orang kaya yang disegani atau dihormati, tapi itu bentuk tanggung jawab pada keluarga. Daripada mengeluh dan meminta, hanya membikin susah orang, katanya. Memang ketiadaan uang orang akan mudah menjadi kufur dan karena kelebihan uang pula orang kadang menjauh dari orang-orang sekitarnya, takut susah kali.

Dulu bapakku itu pernah punya mimpi. Mimpi yang dialami setiap orang tua pada anaknya. Agar aku dan kedua adikku sekolah setinggi mungkin. “Agar kami dapat  mengikuti harmonisasi hidup dan kehidupan kelak,” katanya. ”Tak perlu menjadi orang kaya, toh kaya itu tak akan dibawa mati, yang penting kamu punya sandaran hidup,” sambungnya lagi.

Tapi mungkin kini, mimpi itu telah dibuang atau dikubur dalam-dalam oleh bapakku. Ketika segerombolan tikus menghancurkan sandaran hidup keluarganya. Binatang bau busuk itu tak menyisakan sedikitpun tanaman padi kami yang siap panen dan warga Saniangbaka “apakah ini sebentuk karma?” yang jelas sandi-sandi kehidupan mulai rusak. Orang-orang tak mau lagi menjaga kehormatannya dan keluarganya.

Untuk menghilangkan kepenatan hidup dan asa masih tersisa. Aku mencoba mengajak bapakku merantau saja, daripada meratapi hidup ini. Tapi bapakku hanya tersenyum kecut dengan jawaban nyaris tak terdengar.

“Biarlah, bapak di sini. Lagi pula bapak sudah tua, apalagi yang mesti bapak cari? Bapak sudah bangga dengan apa yang bapak punya, yaitu kamu, amak kamu dan kedua adik kamu.” Mungkin ini semua hanya sekedar cobaan dan tak mesti disesali, senyumnya menghibur diri. Tapi Pak……

Azis…  , Jiiiis….indak kasikola ang?, teriakan emak dari dapur membuyarkan lamunanku. Lamunan yang begitu menyesakan dadaku atas Saniangbaka. Aku hanta berharap semoga asa pernah hilang akan terangkat seperti dulu lagi. Tapi kapan?” gumamku disepanjang perjalanan kesekolah………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: