Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Dari Soal Macet Hingga Logistik Tersendat

Posted by majalahsaran pada Agustus 22, 2011

Mubes IWS digelar di kawasan Ciawi, Puncak Bogor dan waktunya pas masa hari libur. Akibatnya, macet tidak terelakkan. Berbagai pengalaman macet pun menjadi bahan ocehan para peserta Mubes.

Sepertinya Panitia faham benar kondisi dari masing-masing peserta, mereka adalah orang-orang sibuk, jarang punya waktu untuk berlibur. Untuk itu dicarikanlah tempat yang cocok untuk kebutuhan itu. Sambil berlibur, IWS pun terselesaikan. Maka pilihan pun jatuh ke markasnya Ikhlas Bahar, Vila Deptan, Ciawi-Bogor.

Suasana nyaman, udara segar dan sejuk, benar-benar terasa bersantai dan berlibur, sambil bicara Nagari. Sebelumnya memang sempat ada yang mengusulkan agar Mubes diadakan di GSG Cibitung, dengan alasan efisiensi. Mengingat berbagai faktor, jadilah acara di lokasi dekat puncak itu.

Ternyata biaya yang dikeluarkan untuk acara di sana pun tidak mahal. Untuk semua fasilitas dan akomodasi, seperti ; Aula, Ruang Penginapan, tiga kali makan, dan tiga kali snack untuk kesuluruhan pengikut Mubes, Panitia hanya dikenakan biaya 10 jutaan, relative murah/efisien.

Entah memang dapat diskon besar atau bagaimana, yang jelas itu memang lumayan ‘Cincai’seperti kata Pak Ikhlas. Menurut panitia, atas nama peserta atau utusan DPC, tidak sepeserpun dikenakan biaya. Biaya untuk acara adalah yang dikumpulkan berdasarkan komitmen yang hadir dalam rapat bersama DPP untuk pembentukan panitia Mubes.

Memang Macet

Apa yang dikatakan orang bahwa arah Puncak itu macet ternyata benar. Perjalanan yang berjarak  50 km harus ditempuh dalam waktu tiga jam, bahkan lainnya ada yang sampai 4 jam. Waktu yang terlama adalah ketika sudah mendekati jalan yang terkenal macet itu, yaitu Jalan arah Puncak yang memang jadi sasaran utama berliburnya orang-orang Jakarta.

Berangkat dari Cilengsi pada jam 8.00 wib, tiba di lokasi pada jam 11.00 wib. Hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, jarak 40 km sudah terlewati, namun sisa jarak 10 km itulah kesabaran diuji. Kaki lebih banyak menginjak rem, kendaraan hanya beringsut bergeser sedikit demi sedikit.

Kemacetan  semakin menjadi ketika mendekati Lampu Merah dekat Pasar Ciawi, tapi apa mau dikata, hanya itu jalan menuju ke lokasi. semua kendaraan saling berebut dan saling ngotot agar cepat sapai tujuan . Selain arus kendaraan yang memang lagi ramai, ketersendatan itu diperparah oleh banyaknya kendaraan umum yang berhenti sembarangan.

Selepas dari Pasar Ciawi  barulah jalanan mulai longgar, suasana sejuk pun mulai terasa. Tidak jauh dari situ kami berbelok ke kanan, keluar jari Jalan Raya Puncak dan masuk ke Komplek Gedung Pertanian. Lalu berputar mencari Gedung tempat acara sambil tengok kiri kanan mencari sosok kawan Panitia barangkali kelihatan.

Op..pompong,  Ternyata salah, komplek itu memang milik Departemen Pertanian juga, tapi bukan disini tempat acara diadakan, ada satu lagi komplek disebelah atasnya. Lalu kami keluar dari situ, Sejurus kemudian baru lah terlihat Spanduk yang bertuliskan ‘Selamat Datang Peserta Mubes IWS 2011’, sampailah kami di lokasi tempat diadakannya Pesta Demokrasi IWS yang ke VI.

Lokasi sejuk, pemandangan indah, udara nyaman, ruangan istirahat pun tersedia. Apa yang dialami sepanjang perjalanan sebelumnya terbalaskan sudah. Berakit ke hulu, berenang kemudian, bermacet dahulu, nyaman nya kemudian.

Logistik Terdesak

Entah karena Panitia yang kurang pas menghitung atau karena selera makan pada bagus akibat cuaca dingin, yang jelas disaat antri makan malam, persediaan tekor. Setelah dihitung, masih ada 40an orang lagi yang belum makan, termasuk Ketua Umum, Ketua Pembina dan sebagian besar panitia juga peserta.

Tidak mau mengecewakan,  Panitia segera bergerak cepat untuk mengatasinya. Di bawah rintik hujan, Tim khusus, yaitu Rudi Hartono, Syahrizal, Alex, Yudi dan Rasyid, meluncur turun ke jalan raya puncak mencari Rumah Makan.

Ketika dalam jarak seratus meter, terlihat jalan raya puncak macet total, jelas tidak bisa lewat dan tim pun berhenti, muncul kekhawatiran yang mau dicari tidak dapat.  Anggota pun mencoba turun jalan kaki, beruntung, pas diujung seberang pertigaan, ada satu Rumah Makan Padang, untungnya lagi persediaannya banyak.

Selesai  nasi terbungkus, segera langsung dibawa ke lokasi, hujan semakin lebat, tentu ‘Sumatra tengah’ semakin memberontak. Untunglah logistic segera datang, sehingga `pemberontakan`  itu dapat segera diredam. (yd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: