Majalah Saran

Penggerak Dinamika Saniangbaka

  • Bacaan Para Pengambil Kebijakan

Memahami Pituah

Posted by majalahsaran pada Agustus 22, 2011

“Alam takambang jadi guru”, begitulah bunyi falsafah yang dipakai oleh orang Minang. dalam menjalankan kehidupan seahari-hari, semua orang minang seakan dituntut untuk dapat belajar dari alam semesta.

Anak Minang harus memahami tingkah dan perilaku alam semesta. Dalam menyampaikan nasehat, amarah atau kesapakatan bersama sering kali diibaratkan dengan salah satu perilaku atau fenomena alam raya.

Perilaku seperti ini dianggap paling bijaksana sehingga sasaran pembicaraan merasa terhormat (masih dihargai) walaupun makna yang terkandung di dalam kata-katanya sangat tajam. Disinilah letak pepatah yang mengatakan “Adat basisamping”.

Dengan bahasa seperti ini orang akan lebih cepat paham maksud dan tujuan pembicaraan.

Berikut ini kami luncurkan beberapa pepatah atau pituah yang sering dipakai oleh orang Minang untuk menasehati anak-kemenakannya.

Kok Manyauk di ilia-ilia
Kok Mandi di baruah-baruah
Kok Bajalan manakua-nakua
Kok Bakato di bawah-bawah

Apakah Pituah ini mengajarkan   Anak Minang  menjadi penakut??.

Tentu tidak karena sesungguhnya orang Minang diajari sifat pemberani. Hal ini jelas tersirat dari Pituah “Indak rajo maulak sambah, kok bajua kami bali”.atau “sajak satapak turun dari janjang sakali laki-laki tatap laki-laki”

Lalu apa makna yang terkandung dari pituah di atas?.

Pituah ini adalah amanat kepada anak Minang, agar senantiasa rendah hati dan menjaga tatanan hidup lingkungan tempat kita berada.  Senantisa memahami dan menghayati kondisi lingkungan. Walaupun kita mampu, hebat, kaya dan semacamnya. Namun semua itu  tak perlu pamerkan. Sikap seperti ini harus menjadi tolak ukur kehidupan baik di rantau maupun di kampung.

Di maa bumi di pijak di sinan langik dijunjuang

Adalah penegasan perbauran  urang awak atas lingkungannya. Ini adalah penegasan seorang ‘Anak Minang’ tidak membawa identitas tanah kelahirannya ke rantau. Namun selalu memiliki kepriabadian sesuai dengan adat aslinya. Dampak positif dari sikap ini  adalah orang Minang daapat diterima kehaddirannya di daerah manapun juga. Ini jaga menjadi pendorong dan penopang keberhasilan orang Minang di peranatauaan. Karena itu kita tidak pernah mengenal “Kampung Minang” sebagai mana kampung kampung lain seperti Kampung Jawa, kampung Makasar, kampung Ambon, kampung Melayu dan sebagainya  seantero Nusantara ini.(GS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: